WELCOME

SELAMAT BERKUNJUNG DI GURU BAHASA INDONESIA SMKN 10 MALANG SEMOGA DAPAT BERMANFAAT"

Rabu, 10 Oktober 2012

Rangkuman Materi Bahasa Indonesia SMK Kelas X 1.7)

MENGGUNAKAN KALIMAT YANG BAIK, TEPAT, DAN SANTUN(BAB 7)

A.Syarat-Syarat Kalimat yang Baik dan Komunikatif

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari pembicara kepada pendengar melalui sarana bahasa secara lisan dan tulisan. Komunikator atau pembicara menyampaikan informasi lewat kalimat-kalimat yang dianggap dapat menjelaskan maksud yang ingin diungkapkan. Kalimatkalimat tersebut harus dapat dipahami oleh pendengar agar nantinya mendapatkan respons berupa jawaban atau tanggapan yang sesuai. Untuk mencapai komunikasi yang baik dan lancar, kalimat yang disampaikan harus efektif dan komunikatif. Kalimat yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.
(1). Tidak menyimpang dari kaidah bahasa
(2). Logis atau dapat diterima nalar
(3). Jelas dan dapat menyampaikan maksud atau pesan dengan tepat Kalimat yang tidak menyimpang dari kaidah bahasa maksudnya adalah kalimat yang cermat baik dari segi pemilihan kata dan bentukan kata maupun susunan kalimatnya memenuhi aturan sintaksis yang benar.
Sebaliknya, kalimat yang menyimpang dari kaidah bahasa, susunan kalimatnya tidak sesuai dengan aturan sintaksis yang benar.Contoh:
1. Pada jadwal di atas menunjukkan kereta eksekutif ArgoLawu berangkat pada pukul 17.00 dari Gambir.
2. Bagi yang menitip sepeda motor harus dikunci.
3. Yang punya HP harus dimatikan.Kalimat di atas meskipun dapat dipahami tapi terasa janggal didengar.
Pada kalimat pertama terasa ada yang kurang secara sintaksis. Jabatan subjeknya tidak ada karena penggunaan kata tugas “pada”. Jika kata “pada” dihilangkan, akan terasa lebih tepat. Penggunaan kata tugas “bagi” pada kalimat kedua juga tidak pada tempatnya dan tidak perlu sebab yang dimaksud sesungguhnya adalah sepeda motor yang dititipkan bukan orangnya. Kalimat kedua mengandung pengertian bahwa yang dititipkan adalah pemilik sepeda motor atau orangnya.
Demikian pula pada kalimat ketiga, yang dimatikan adalah HP bukan pemilik HP. Perbaikan kalimat di atas ialah:
1. Jadwal di atas menunjukkan kereta api eksekutif Argo Lawu berangkat pada pukul 17.00 dari Gambir.
2. Sepeda motor yang dititipkan harus dikunci
3. Yang memiliki HP agar mematikan HP-nya. Kalimat juga harus logis atau dapat dinalar oleh akal.
Meskipun secara gramatikal sesuai dengan kaidah namun jika tidak logis, kalimat tersebut tak akan dapat dipahami dengan baik bila disampaikan kepada orang lain. Contoh:
1. Anak-anak itu sedang asyik makan pohonan.
2. Ini adalah daerah bebas parkir.
3. Di sini tempat pendaftaran buta huruf.
Ketiga kalimat di atas salah nalar. Kalimat pertama jelas tidak masuk akal. Secara akal sehat, tidak ada manusia yang memakan pohonan sebab pengertian pohonan adalah keseluruhan pohon dari akar dan batang hingga daun. Kata pohonan juga dapat dimaknai banyak pohon.
Meskipun secara struktur kalimatnya benar karena ada subjek, predikat, dan objek, tapi secara nalar tidak masuk akal. Kalimat kedua dan ketiga juga tidak tepat. Pengertian bebas parkir harusnya sama dengan bebas narkoba, bebas becak, dan bebas bea yang artinya daerah tersebut tidak ada lagi narkoba, becak, atau pungutan. Tapi arti bebas parkir mengapa jadi boleh parkir tanpa bayar. Kalimat ketiga maksudnya bagi yang buta huruf agar mendaftar di tempat ini untuk mendapatkan pengajaran. Pengertian pada kalimat di atas adalah orang mendaftarkan diri agar jadi buta huruf.
Perbaikan kalimatkalimat di atas, yaitu:
1. Anak-anak itu sedang asyik mengumpulkan pohonan.
2. Ini adalah daerah boleh parkir bebas atau parkir gratis.
3. Di sini tempat pendaftaran kursus paket A bagi yang buta huruf.
Kalimat yang baik juga harus mengandung pengertian yang jelas, tidak membingungkan serta tidak menimbulkan penafsiran ganda atau ambigu. Tidak sedikit pula kita temui kalimat-kalimat yang diucapkan oleh penutur bahasa mengandung pengertian ganda. Kalimat ini selain dapat membingungkan juga menimbulkan respons atau tanggapan yang tak sesuai karena tidak tersampaikannya pesan secara benar.Contoh:
1. Saya melihat kelakuan anak itu bingung.
2. Mereka mengantar iring-iringan jenazah ke kuburan.
3. Semua mahasiswa fakultas yang baru agar berkumpul di ruang senat. Ketiga kalimat di atas bermakna ganda.
Kalimat pertama mengandung dua pengertian, dapat anak yang bingung atau saya yang bingung. Jika anak yang bingung, kata bingung harus mendapatkan imbuhan ke—an menjadi kebingungan. Jika saya yang bingung, kata bingung harus berada setelah kata saya. Perbaikannya ada dua varian, yaitu:
1a. Saya bingung melihat kelakuan anak itu.
1b. Saya melihat anak itu kebingungan.
Kalimat kedua bermakna jenazah yang diantar banyak. Frasa iringiringan jenazah mengandung pengertian jamak. Jadi pengertian kalimat kedua adalah mereka mengantarkan banyak jenazah ke kuburan. Apa benar? Sebenarnya maksudnya kata iring-iringan bukan ditujukan pada jenazah, tapi para pengiringnya sehingga makna sebenarnya adalah mereka mengantar para pengiring jenazah ke kuburan. Dan lebih jelas lagi jika kata mengantar dihilangkan.
Perbaikannya ialah sebagai berikut:
2a. Mereka mengantar jenazah ke kuburan.
2b. Mereka mengiringi jenazah ke kuburan.
Kalimat ketiga dapat menimbulkan salah pengertian karena yang dimaksud adalah mahasiswa baru atau mahasiswa fakultas yang baru. Predikat baru ditujukan kepada mahasiswa atau pada fakultasnya.Perbaikannya ada dua varian, yaitu: 3a. Semua mahasiswa baru di fakultas itu agar berkumpuil di ruang senat.Atau 3b. Semua mahasiswa pada fakultas yang baru itu agar berkumpul di ruang senat.

B. Kalimat yang Komunikatif, tetapi tidak Cermat

Dalam proses komunikasi sering kita temui kalimat yang ditulis atau diucapkan tidak terlalu mengindahkan tata bahasa atau gramatikal. Artinya, kemungkinan dalam penyusunan kalimat banyak terjadi kesalahan atau kurang cermat, namun dapat dipahami karena memang sudah terbiasa didengar atau diucapkan. Namun, tetap saja ketidakcermatan penyusunan kalimat tidak menjamin terjadinya komunikasi yang efektif. Oleh sebab itu, kita harus memahami kriteria kalimat yang kurang cermat. Ketidakcermatan kalimat dapat ditinjau dari beberapa segi berikut.
1. Ketidaklengkapan unsur-unsurnya Sebuah kalimat jika tidak lengkap unsur-unsurnya apalagi unsur tersebut seharusnya ada menjadi tidak berarti. Di dalam kalimat, terdapat minimal dua unsur, yaitu subjek dan predikat. Kalimat yang seharusnya memiliki unsur jabatan tersebut lalu secara tersurat tak terungkap membuat kalimat menjadi rancu.Contoh:
a.Dilengkapinya perpustakaan dengan koleksi buku remaja menjadikan bertambahnya para pengunjung perpustakaan sekolah.(Kalimat ini tidak menjelaskan siapa yang melengkapi perpustakaan.
Artinya, kalimat ini tidak menyertakan siapa pelakunya atau subjek kalimatnya.)
b. Dengan bersemangat Pak guru menceritakan kepada anak-anak muridnya agar mereka dapat mengambil hikmah.Kedua kalimat ini juga janggal. Keterangan aspek seperti akan, belum, telah, masih, sedang, dan sebagainya tidak boleh disisipkan pada kata kerja pasif yang berupa ikatan erat antara subjek kata kerjanya.Perhatikan perbaikannya berikut ini:
c. Selanjutnya akan saya berikan kekurangannya setelah pekerjaan selesai.
d. Jadi, harus kita sukseskan pilkada tahun ini.

3. Penggunaan unsur-unsur kalimat yang berlebihan
Ketidakcermatan kalimat juga dapat dilihat dari penggunaan unsur kalimat yang berlebihan. Unsur yang berlebihan itu dapat berupa penggunaan kata yang sama artinya atau pemakaian kata tugas yang tidak perlu.Contoh:
a. Para ibu-ibu sedang mengikuti penyuluhan hidup sehat dan bersih.
b. Di dalam tubuhnya terdapat banyak virus-virus yang membahayakan.
c. Remaja harus mengetahui akan bahaya narkoba.
d. Bagi siswa yang mengisi acara pensi harap segera menghubungi panitia.
Kalimat pertama dan kedua berlebihan dalam hal pemakaian kata para dan banyak yang menunjukkan makna jamak. Maka, kata berikutnya tidak perlu diulang. Kalimat ketiga dan keempat tidak perlu memakai kata tugas akan dan bagi. Jadi, kalimat yang benar ialah:
a. Para ibu sedang mengikuti penyuluhan hidup sehat dan bersih.
b. Di dalam tubuhnya terdapat banyak virus yang membahayakan.
c. Remaja harus mengetahui bahaya narkoba.
d. Siswa yang mengisi acara pensi harap segera menghubungi panitia.

4. Pilihan kata tidak tepat
Ketidakefektifan atau ketidakcermatan penyusunan kalimat juga dapat disebabkan karena pilihan kata tidak tepat. Hal ini dapat dipengaruhi oleh bahasa sehari-hari atau pengaruh bahasa asing. Selain itu, ketidakpahaman terhadap arti sebuah kata menyebabkan penggunaan kata tersebut tidak tepat.Contoh
a.Kepada yang pernah ke gunung ini pasti akan merasakan dinginnya udara di sini. b.Kenikmatan mie buatannya menggemparkan warga sekitarnya.
c.Rumahnya besar sendiri dibandingkan rumah-rumah tetangganya.
Kalimat pertama terdapat ketidakcocokan antara kata pernah dan akan. Kata pernah menunjukkan sudah dilakukan, bertentangan dengan kata akan yang baru atau belum dialami. Seharusnya kata akan diganti dengan sudah. Kata depan kepada juga sebaiknya dihilangkan. Kalimat kedua ketidaktepatan pada kata menggemparkan. Kata ini berkonotasi negatif yang berarti membuat panik. Padahal kenikmatan adalah suatu kesenangan dan dalam hal ini berkaitan dengan urusan rasa. Maka, frasa yang tepat adalah membuat takjub. Kalimat ketiga kata besar sendiri dipengaruhi bahasa daerah gede dewe, yang tepat adalah paling besar.
Jadi, perbaikannya
a. Mereka yang pernah ke gunung ini pasti sudah merasakan dinginnya udara di sini. b. Kenikmatan mie buatannya membuat takjub warga sekitarnya.
c. Rumahnya paling besar dibandingkan dengan rumah-rumah tetangganya.


C. Kalimat yang Cermat, tetapi tidak Komunikatif




Kalimat yang disampaikan oleh pembicara secara lisan atau penulis secara tertulis mungkin saja telah sesuai dengan kaidah bahasa, namun jika penyampaiannya tidak lugas dan padat, dapat menyulitkan komunikan untuk memahaminya. Sebuah kalimat dapat saja penyusunannya sudah cermat tapi tidak komunikatif.
Hal ini dapat terjadi karena hal-hal berikut ini.
1. Kalimat terlalu luas atau berbentuk kalimat majemuk kompleks .
Kalimat yang terlalu luas atau panjang dapat mengaburkan maksud yang sebenarnya dari kalimat tersebut. Meskipun penyusunannya tidak menyalahi kaidah gramatikal, namun karena kata yang dipergunakan banyak dan bercabang, dapat menyebabkan pesan yang dikandungnya jadi tidak dapat ditangkap secara utuh.:
a.. Karena dalam kurikulum itu bidang studi Bahasa Indonesia mendapat tempat yang teratas berdasarkan alokasi waktu yang disediakan untuk pelajaran Bahasa Indonesia, yaitu 8 jam pelajaran seminggu, sedangkan untuk bidang studi yang lain berkisar dari 2 sampai dengan 6 jam seminggu, pelajaran
b Bahasa Indonesia dianggap sangat penting dalam rangka mencapai pendidikan nasional berdasarkan Pancasila, yaitu untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan.Bahasa Indonesia yang oleh Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 diakui sebagai bahasa nasional dipakai di seluruh Indonesia, di daerahdaerah yang berbeda-beda latar belakang kebahasaan, kebudayaan, kesukuan, dan di dalam lapisan masyarakat yang berbeda-beda pula latar belakang pendidikannya Dua contoh kalimat di atas merupakan kalimat luas atau panjang karena terdapat klausa-klausa perluasan subjek dan predikat. Uraian kalimat yang terlalu luas itu sulit dicerna jika disampaikan secara lisan, dan juga harus dibaca lebih dari sekali untuk memahaminya dalam bentuk tulisan.
Kalimat dapat diperpendek agar lebih mudah dan cepat dipahami dalam bentuk berikut ini.
a. Dalam kurikulum itu, bidang studi Bahasa Indonesia mendapat tempat teratas, yaitu 8 jam pelajaran seminggu, sedangkan untuk bidang studi yang lain berkisar 2 sampai 6 jam seminggu. Karena itu, pelajaran Bahasa Indonesia dianggap penting dalam rangka mencapai pendidikan nasional berdasarkan Pancasila, yaitu untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan
b. .Bahasa Indonesia yang dalam sumpah Pemuda telah diakui sebagai bahasa nasional dipakai di seluruh Indonesia yang memiliki keragaman bahasa, budaya, suku, dan lapisan masyarakat yang berbeda-beda latar belakang pendidikannya.
2. Kalimat yang terperinci namun pengertiannya secara umum sudah diketahui Kalimat yang cenderung panjang kemungkinan dibebani dengan penjelasan yang harus terperinci. Namun, adakalanya kalimat dapat panjang karena menggunakan keterangan yang tidak perlu. Keterangan tersebut secara umum sudah diketahui oleh pendengar atau pembaca. Dengan kata lain, penjelasan tersebut dapat diganti dengan kata yang sepadan tetapi lebih hemat.Contoh:
a. Hari ini, Rudi menggunakan baju dengan kerah pendek yang biasa orang pakai untuk salat di masjid.
b. Andi memasukkan angin ke dalam ban sepeda agar ban itu kembali dapat dijalankan. Kalimat di atas terlalu panjang dan tidak efektif. Kedua kalimat di atas dapat diganti dengan kalimat berikut.
a. Hari ini, Rudi memakai baju koko.
b. Andi memompa ban sepedanya agar dapat jalan lagi.
3. Kalimat tidak logis
Kalimat yang disampaikan secara cermat juga dapat tidak komunikatif karena tidak logis. Kalimat seperti ini dapat menyebabkan salah penafsiran sehingga menimbulkan pemahaman dan tanggapan yang berbeda.Contoh:
a. Dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,
b. Pemenang terbaik ke-2 akan mendapatkan voucher belanja seharga 2 juta rupiah. Kalimat pertama memang tidak logis karena tidak mungkin dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dapat membuat karya tulis selesai. Kalimat kedua tidak logisnya pada kata terbaik. Makna kata terbaik adalah paling baik, jadi tidak ada terbaik kedua.
Kalimat di atas dapat diperbaiki menjadi:
a. Penulis mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena karya tulis ini dapat penulis selesaikan. Atau Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini.
b.Pemenangke-2akan mendapatkan voucher belanja seharga 2 juta rupiah.

D. Menggunakan Kalimat yang Efektif dan Santun

Dalam komunikasi, bukan hanya penyampaian kalimat yang efektif dan komunikatif yang harus diperhatikan, tetapi juga kesantunan dalam berbahasa. Kalimat yang santun lebih ditujukan untuk penghormatan kepada mitra bicara atau komunikan. Penyampaian kalimat memang harus tetap efektif, cermat, dan komunikatif juga bernilai rasa bagus dan santun. Untuk menyampaikan kalimat yang santun, harus dipertimbangkan pula penggunaan kosakata baku dan pilihan kata yang sewajarnya serta tidak berkonotasi kurang baik. Dengan kalimat yang efektif dan santun, tanggapan yang muncul dari mitra komunikasi juga akan berkesan baik.. Perhatikanlah contoh kalimat di bawah ini .1a. Agar kami dapat memberikan nilai pada pekerjaan Saudara, kami perlu data pribadi Saudara.
Bandingkan dengan:
1b. Agar kami dapat mengevaluasi pekerjaan Saudara, kami membutuhkan data pribadi Saudara.
2a. Yang kami tahu selama ini, belum ada siswa yang dikeluarkan karena kasus narkoba. Bandingkan dengan
2b. Sepengetahuan kami, belum ada siswa yang dikeluarkan karena kasus narkoba.
3a. Setelah membaca surat Saudara tertanggal 4 Juli 2007 dengan nomor surat 122/PC-3/2007, maka kami kirimkan surat balasan...
Bandingkan dengan:
3b. Menjawab surat Saudara tertanggal 4 Juli 2007, Nomor 122/PC-03/2007, kami sampaikan bahwa...
4a. Untuk menyambut tamu yang kita hormati, kami harap hadirin berdiri. Bandingkan dengan:
4b. Untuk menyambut tamu kehormatan kita, kami mohon kesediaan hadirin untuk berdiri. 5a. Kami ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelalaian kami tersebut.Bandingkan dengan: 5b. Kami menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian kami tersebut. Kalimat b lebih terasa santun daripada kalimat a.

BERLATIH MENGERJAKAN SOAL UTS SMK KELAS X.1.1




UJI KOMPETENSI(BAB.I)
I. Pilihlah jawaban yang paling tepat dari pernyataan di bawah ini!
1. Menurut para ahli, tujuan menyimak adalah berikut ini, kecuali a. memahami informasi b. memahami unsur bahasa c. memecahkan masalah d. melatih pendengaran e. mengevaluasi pekerjaan
2. Pengertian menyimak adalah a. mendengarkan informasi atau pesan secara tertulis maupun lisan b. menginterpretasi informasi c. memahami perubahan bunyi dan pola tekanan d. mendengarkan dengan aktif dan penuh perhatian supaya dapat memahami isi dari semua informasi e. mengapresiasikan informasi yang disampaikan
3. Ilmu bahasa yang membahas mengenai unsur-unsur bahasa yang berhubungan dengan bunyi dan pengucapan disebut a. lafal b. unsur segmental dan suprasegmental c. Intonasi d. Konteks e. lambang bahasa
4. Unsur segmental yang terkecil berhubungan dengan bunyi ujaran adalah a. prosa b. Artikulasi c. morfem d. Fonem e. huruf
5. Di bawah ini yang bukan unsur-unsur suprasegmental adalah a. tekanan b. Jeda c. Intonasi d. Lafal e. konsep
6. Ilmu yang mempelajari tata bunyi dan alat ucapnya disebut a. morfologi b. Fonologi c. fonemik d. Fonetik e. morfofonemik
7. Cara dan kebiasan seseorang atau kelompok masyarakat dalam mengucapkan bunyi atau lambang bahasa disebut a. kata b. Lafal c. Tekanan d. Intonasi e. fonem
8. Yang merupakan unsur segmental di bawah ini, kecuali a. tekanan b. Intonasi c. Lafal d. a dan b e. a, b, dan c
9. Variasi lafal fonem yang tidak membedakan arti disebut a. alofon b. Alomorf c. Rima d. Intonasi e. jeda
10. Penonjolan suku kata yang dilakukan dengan cara memperpanjang pengucapannya, meninggikan nada, atau memperbesar tenaga dalam mengucapankan suatu kata dinamakan.... a. irama b. Tekanan c. Nada d. Jeda e. intonasi
11. Menandai batasan ujaran juga membantu memahami ketepatan pesan atau informasi serta membantu pengambilan napas bagi pembicara ialah fungsi dari a. tekanan b. Jeda c. Fonem d. Irama e. Lafal
12. Gabungan vokal yang diikuti oleh bunyi konsonan luncuran / w / atau / y / disebut a. diftong b. konsonan c. Bunyi pelancar . Jeda e. Tekanan
13. Kata-kata yang menggunakan diftong di bawah ini, yaitu kata a. mau b. Memadai c. Namai d. Pantai e. menyamai
14. Huruf e yang diucapkan lemah terdapat pada kata a. bebek b. Karpet c. Perang d. Nenek e. berkotek
15. Huruf e yang diucapkan terbuka terdapat pada kata a. pedas b. Terang c. Teliti d. Teman e. peta
16. Di bawah ini, kata yang tidak mengandung diftong / au / ialah a. harimau b. Menghimbau c. Kalau d. Walau e. mau
17. Menggunakan bahasa baku dalam keadaan atau situasi di bawah ini, kecuali a. formal b. Seminar c. pertemuan ilmiah d. Pergaulan e. resmi
18. Kalimat yang tidak menggunakan kosakata baku di bawah ini, yaitu a. Pemerintah akan menggalakkan kebersihan lingkungan. b. Siswa-siswi SMK PELITA akan mengadakan wisata ke Anyer. c. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia akan menghakpatenkan semua hasil penelitian ini. d. Hadirin dipersilakan berdiri! e. Dia sudah dikasih uang oleh orang tuanya.
19. Contoh fonem vokal yang berbeda arti, adalah a. mantel–mental b. perang—parang c. ari–sari d. makin—mangkin e. tema–tamu
20. Di bawah ini adalah kalimat yang tidak sesuai dengan lafal baku, kecuali a. Paman jalan-jalan ke Ragunan, kemaren. b. Kami haturkan terima kasih banyak atas bantuannya. c. Dian setiap pagi sarapan dengan nasi goreng d. Silahken tunggu sebentar. e. Awas, hati-hati ada lobang!
II. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan tepat dan benar!
1. Apa yang dimaksud dengan menyimak?
2. Sebutkan 4 hal yang menjadi tujuan mengenal unsur-unsur bahasa dalam menyimak!
3. Apa yang dimaksud dengan lafal?
4. Apa yang dimaksud dengan diftong? Contohnya?
5. Buatlah kalimat dengan gabungan vokal yang bukan diftong!
6. Apa yang dimaksud dengan tekanan?
7. Buatlah kalimat yang menggunakan kata dengan lafal tidak baku sebanyak 2 buah!
8. Buatlah kalimat dengan menggunakan diftong /ai/ 3 kalimat?
9. Sebutkan ciri-ciri bahasa baku!
10. Buatlah jeda yang tepat pada kalimat di bawah ini sehingga terdapat perbedaan pengertian. Menurut Ibu Tanjung Sari memang anak yang rajin.

UJI KOMPETENSI(BAB 2)
I. Pilihlah jawaban yang paling tepat dari pernyataan di bawah ini! 1. Yang termasuk fakta adalah a. Rumah yang terkena banjir berjumlah 92 buah. b. Semua anak Indonesia wajib bersekolah. c. Kita harus memberantas narkoba sampai ke akarnya. d. Agar lingkungan kota bersih mari kita jaga kebersihan. e. Jakarta rawan kecelakaan lalu lintas. 2. Seorang siswa SMK bercita-cita ingin masuk ke Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Alasan yang tepat untuk dapat masuk ke Fakultas Ekonomi di UI ialah a. Keluarganya umumnya lulusan UI. b. Nilai Matematika dan IPA saya selalu sangat memuaskan. c. Lulusan Fakultas Ekonomi UI selalu dapat pekerjaan. d. aya akan mengembangkan bakat, minat, kemampuan di bidang ekonomi. e. Setuju ekonomi sangat dibutuhkan oleh perusahaan. 3. Terjadi gerakan reformasi dan krisis ekonomi yang berkepanjangan di negeri ini telah membawa pengaruh dalam kehidupan sosial. Salah satu contoh negatif dari pengaruh itu adalah makin meluasnya kenakalan remaja. Berbagai tindakan kenakalan seperti kebut-kebutan, penggunaan obat-obat terlarang, pencurian, perampokan, sampai dengan tindakan asusila hampir setiap hari tertampung di surat kabar. Tentu saja kita tak boleh tinggal diam menghadapi peristiwa seperti ini. Kalimat opini yang sesuai dengan ilustrasi di atas adalah a. Maraknya aksi kebut-kebutan di Jalan Karangmenjangan setiap malam minggu meresahkan masyarakat sekitar dan pemakai kendaraan. b. Berkali-kali gobang itu dibacokkan ke tubuh Dewi karena tidak mau menyerahkan sepeda motornya. c. Sabtu dini hari, petugas Polres Surabaya menangkap empat “ayam” ABG yang sedang beroperasi di hotel. d. Para orang tua seharusnya memerhatikan lebih serius perilaku putranya untuk mengurangi perilaku yang menyimpang. e. Minggu dini hari, petugas kepolisian berhasil mengamankan empat remaja yang kedapatan membawa cimeng (ganja) setelah melakukan razia. 4. Kalimat yang merupakan fakta khusus ialah a. Indonesia belum memiliki kereta api bawah tanah. b. Peristiwa itu terjadi pada pagi hari, Sabtu, 23 Juni 2007 di Pantai Indramayu. c. Beberapa nelayan dinyatakan hilang saat melaut. d. Para siswa harus melakukan ujian susulan karena sakit. e. Kita harus menghormati orang tua dan guru. 5. Kalimat yang termasuk opini ialah a. Indonesia belum memiliki kereta api bawah tanah. b. Peristiwa itu terjadi pada pagi hari, Sabtu, 23 Juni 2007 di Pantai Indramayu. c. Beberapa perairan pantai rusak akibat abrasi karena tidak dipelihara dengan baik. d. Para siswa harus melakukan ujian susulan karena sakit. e. Kita harus menghormati orang tua dan guru. 6. Gizi yang baik sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan kecerdasan, terutama untuk anak-anak balita dan usia sekolah. Dalam situasi krismon seperti sekarang, banyak anak usia sekolah yang perlu mendapatkan bantuan. Ibu-ibu pengajian mengadakan kegiatan sosial dengan nama “peduli balita”, misalnya pemberian minuman susu gratis dan pemberian makanan bergizi. Pernyataan yang sesuai dengan fakta dalam bacaan di atas adalah a. Kegiatan itu baik, tetapi apakah tidak menimbulkan kecemburuan sosial? b. Kegiatan-kegiatan positif dalam menunjang perbaikan gizi balita perlu direalisasikan. c. Sebaiknya, sebelum kita melaksanakan kegiatan, perlu dievaluasi untung dan ruginya. d. Pikiran saya sejalan dengan gagasan Anda, yaitu bahwa fakta tentang anak putus sekolah perlu dicari. e. Saya sependapat dengan Anda dan siap membantunya. 7. Bahasa yang dipakai di berbagai bidang ilmu dan masing-masing memiliki perbedaan disebut.... a. ragam bahasa, b. bentuk bahasa, c. laras bahasa, d. gaya bahasa, e. unsur bahasa 8. (1) Di sini peran pendidikan sangat vital. (2) Pemberdayaan perempuan pun menjadi agenda dalam proses pe mbelajaran. (3) Para penentu kebijakan kurikulum mestinya berkaca pada agenda ini. (4) Data empiris dari ekonomi Marco Francesconi menganalisis dan British Household Panel Survey yang mendata 10 ribu individu dari 5.500 keluarga. (5) Penelitian dilakukan sejak 1991-1999. (6) Data ini menunjukkan bahwa pria yang sukses justru akan memilih dengan wanita karier yang bekerja keras.Kalimat yang berisi fakta pada paragraf tersebut terdapat pada nomor.... a. (1) dan (2) b. (2) dan (3) c. (3) dan (5) d. (4) dan (6) e. (3) dan (5) 9. Yang merupakan bahasa surat kabar ialah a. Alfalfa mengandung klorofil yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. b. Penelitian ini mengambil objek di daerah utara wilayah Cirebon. c. Proses pemilihan kepala daerah berlangsung sangat tertib. d. Kebakaran hanguskan puluhan rumah di Penjaringan Utara. e. Rasa terima kasih kami sampaikan pada semua pihak yang telah membantu. 10. Ragam bahasa ilmu pengetahuan ialah a. Kejadian ini melibatkan berbagai disiplin ilmu. b. Drama kolosal itu digarap oleh sutradara Imam Tantowi. c. Saturnus memiliki diameter kurang lebih 10 kali diameter bumi dalam tata surya. d. Beberapa pekerja ikut tertimbun tanah longsor itu. e. Gunung Semeru menunjukan aktifitasnya. 11. Ragam bahasa sastra (cerpen) ialah.... a. Polisi dan Tim SAR belum menemukan nelayan yang hilang. b. Lelaki umur tiga puluh tahun dan berjenggot itu masuk ke rumah makan itu dengan tenang. c. Pasien rumah sakit itu memprotes adanya mal praktek yang terjadi padanya. d. Tumbuhan anggur hidup di daerah tropis dengan kelembaban tertentu. e. Hasil penyelidikan sementara menunjukkan ialah tersangkanya 12. (1) Lain benalu lain pula cendana. (2) Kalau benalu dianggap bukan tanaman berharga, lain cerita dengan pohon yang bernama santalun album atau cendana. (3) Kayu berbau harum ini termasuk komoditi agak bernilai tinggi. (4) Jelas harganya mahal. (5) Sayangnya, populasinya makin menipis karena para penangkar mengalami kesulitan mengembangkannya. (6) Biji cendana sulit tumbuh. (7) Meski bijinya mudah berkecambah, cendana muda mudah mati. Kalimat fakta dalam paragraf di atas terdapat pada nomor: a. 1 dan 3 b. 4 dan 5 c. 4 dan 6 d. 5 dan 6 e. 5 dan 7 13. Kalimat yang menyatakan hasil adalah a. Rambutan itu mahal harganya. b. Ia suka berkumpul dengan temannya di pangkalan itu. c. Penghasilannya bisa mencapai lima juta rupiah per bulan. d. Ia memendam perasaannya selama lima tahun. e. Karangannya mendapat juara satu lomba mengarang tingkat kotamadya. 14. Kalimat yang menyatakan proses ialah.... a. Pemerintah merencanakan pembangunan transportasi sungai di Jakarta. b. Penantian yang panjang membuahkan hasil sangat mengharukan antara sang ibu dan anaknya. c. Habis manis sepah dibuang. d. Pengungsi korban lumpur Lapindo mengharapkan bantuan pemerintah. e. Telah terjadi unjuk rasa besar-besaran pada hari buruh sedunia. 15. Sejak jam tujuh pagi, ia mengikuti ... tentang narkoba. Kata berimbuhan pe–an untuk pengisi titik-titik yang tepat adalah.... a. pelajaran b. Pemberantasan c. Penanggulangan d. Penyuluhan e. penelitian 16. Ia diminta pimpinan untuk menyerahkan ... keuangan bulan ini. Kata berakhiran –an untuk pengisi titik-titik yang tepat pada kalimat di atas adalah.... a. laporan b. Rincian c. Uraian d. Rancangan e. bayaran 17. Karangan yang berisi uraian cara atau tahapan proses beserta pernyataan hasilnya disebut juga a. narasi b. deskripsi c. Eksposisi d. Argumentasi e. persuasi 18. Kata hubung yang menunjukkan adanya proses yang berlangsung atau penandaan urutan waktu terdapat di bawah ini, kecuali.... a. selanjutnya b. setelah itu c. dan lagi d. Kemudian e. Lalu 19. Pemerintah kota dan DPRD menyepakati anggaran untuk pendidikan sekitar 23 persen tahun ini. Akhiran –an pada kata anggaran berarti a. sesuatu yang berkaitan dengan uang b. hasil dari sesuatu yang dianggarkan c. proses menganggarkan d. hal penganggaran e. masalah keuangan yang direncanakan 20. Kalimat yang berisi pemerian adalah a. Ahmad membeli sepatu di Pasar Baru dan Jatinegara. b. Barang itu dijual seharga Rp. 50.000 dan Rp. 30.000. c. Ibu sedang menawar harga barang-barang rumah tangga. d. Bibi membeli keperluan dapur berupa kecap, garam, gula pasir, dan cabe. e. Barang-barang rumah tangga ini dapat dijual di pasar loak. II. Jawablah soal-soal di bawah ini dengan tepat dan benar! 1. Sebutkan jenis-jenis sumber informasi! 2. Sebutkan contoh bentuk informasi yang tergolong media cetak, sebanyak 5 buah! 3. Buatlah contoh uraian berisi fakta khusus! 4. Buatlah contoh uraian berisi opini atau konsep! 5. Buatlah contoh uraian yang bersifat pemerian berupa satuan kalimat atau bagian! 6. Faktor apa saja yang menyebabkan timbulnya ragam bahasa? 7. Buatlah dua kalimat yang menggunakan afiks/imbuhan yang menandakan proses dan hasil! 8. Buatlah kalimat yang menggunakan ragam semi formal, sebanyak 2 buah! 9. Buatlah 2 contoh yang bukan termasuk sumber informasi? 10. Bagaimana ciri-ciri sumber informasi yang baik? UJI KOMPETENSI(BAB 3) I. Pilihlah jawaban yang paling tepat dari pernyataan di bawah ini! 1. Ia dikenal di sekolah seorang kutu buku. Makna kata kutu buku adalah a. suka membeli buku b. suka membaca buku c. suka mengoleksi buku d. suka menjual buku e. Suka merawat buku 2. Berdasarkan tingkatannya, membaca dibedakan menjadi berikut ini, kecuali a. membaca kreatif b. membaca kritis c. membaca literal d. a dan b e. a, b, dan c 3. Membaca untuk memahami isi bacaan secara rasional dan mendalam disebut a. membaca kritis b. membaca cepat c.membaca literal d. membaca kreatif e.membaca pemahaman 4. Hal yang dilakukan dalam membaca kritis adalah berikut ini, kecuali a. bertanya b. Menyimpulkan c. Menghubungkan d. mencatat hal penting e. menilai ide-ide dalam bacaan 5. Membaca untuk mendapatkan nilai tambah dari pengetahuan baru yang terdapat dalam bacaan adalah a. membaca kritis b. membaca cepat c. membaca pendalaman d. membaca kreatif e. membaca literal 6. Tujuan membaca kreatif adalah a. memahami informasi b. mengetahui sesuatu lebih dalam c. peningkatan kualitas hidup d. lebih kritris e. menambah wawasan 7. Hal di bawah ini termasuk kategori bahan bacaan dalam membaca kreatif, kecuali a. wacana tentang cara merawat kesehatan b. wacana tentang pemikiran budayawan c. wacana tentang kehidupan laut d. wacana tentang membuat makanan e. wacana mengenai memelihara tanaman 8. Yang bukan informasi mengenai memanfaatkan lahan adalah a. membudidayakan tanaman hias b. membuat surat tanah c. membudidayakan tanaman obat d. menanam dan merawat anggrek e. cara menanam 11. Untuk membaca cepat diperlukan latihan, sebagai pemula target kecepatan adalah a. 130 - 150 kpm b. 25 - 140 kpm c. 120 - 150 kpm d. 110 - 130 kpm e. 100 - 150 kpm 12. Membaca cepat dengan tujuan untuk memperoleh suatu informasi langsung ke pokok masalah adalah teknik membaca a. teknik pemindaian (skimming) b. teknik membaca naskah c. teknik pelayapan (scanning) d. teknik membaca ekspresionis e. teknik membaca frasa 13. Di bawah ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat catatan, kecuali a. kata/frasa/kalimat yang mengantarkan pada gagasan pokok b. ide pokok atau gagasan sentral setiap paragraf c. setiap penjelasan penting yang ada pada bacaan d. pendapat atau asumsi penulis mengenai hal-hal tertentu e. data atau fakta yang mendukung gagasan 14 Cara membaca yang hanya untuk mendapatkan ide pokoknya atau saripati bacaan disebut a. teknik pemindaian (skimming) b. teknik membaca naskah c. teknik pelayapan (scanning) d. teknik membaca ekspresionis e. teknik membaca frasa 15. Dalam sastra, setiap kata tidak selalu diartikan dengan makna sesungguhnya. Kata dapat ditafsirkan dua cara, yaitu a. majas dan laras b. konotatif dan denotatif c. puisi dan sajak d. cerpen dan puisi e. sastra dan idiomatik 16. Di bawah ini, beberapa manfaat membaca cepat, kecuali a. bagian-bagian yang diperlukan dapat diketahui b. pembaca dapat mengetahui opini orang lain c. topik bacaan dapat diketahui d. mengetahui organisasi penulisan e. dapat melatih indra mata 17. Berikut ini yang tidak termasuk pelatihan membaca cepat ialah a. membaca dengan cara melebarkan jangkauan mata b. membaca ke samping c. membaca dengan tatapan per fiksasi d. Membaca dengan hati-hati e. membaca kolom 18. Yang dimaksud dengan regresi ialah a. membaca dengan melakukan pengulangan bacaan b. membaca dengan perlahan-lahan c. berhenti pada suatu pandangan d. bacaan dihentikan e. pembaca tidak konsentrasi dalam membaca 19. Hal yang salah dan menjadi kebiasaan dalam membaca berikut ini, kecuali a. membaca dengan menggerakkan bibir b. membaca dengan menggerakkan mata c. membaca dengan menggelengkan kepala d. membaca dengan mengeraskan suara e. Dengan menatap kata per kata 20. Akibat yang terjadi ketika komunikasi berjalan tidak seimbang, kecuali a. persaudaraan retak b. persahabatan putus c. menimbulkan konflik d. menghargai mitra bicara e. bisa terjadinya peperangan antarkelompok atau antarnegara II. Jawablah soal-soal di bawah ini dengan tepat dan benar! 1. Hal-hal apa sajakah yang perlu dilakukan ketika kita menemukan ide pokok dari bagian wacana? 2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan apresiasi dalam sastra! 3. Sebutkan dan jelaskan dua cara teknik membaca cepat! 4. Apa saja yang perlu dicatat dalam membaca pemahaman! 5. Dalam setiap paragraf, terdapat dua unsur kalimat. Sebut dan jelaskan maksudnya! 6. Bahasa sastra dapat juga disebut 7. Mengapa dalam bermasyarakat kita harus memerhatikan sikap berbahasa yang positif? 8. Apa saja sikap berbahasa yang positif dan efisien? 9. Mengapa manusia disebut makhluk sosial? 10. Dampak apa saja yang terjadi ketika komunikasi berjalan dengan efisien dan positif? UJI KOMPETENSI(BAB 4) I. Pilihlah jawaban yang paling tepat dari pernyataan di bawah ini! 1. Di bawah ini yang termasuk sumber informasi yang berbentuk media elektronik, kecuali a. video.... b. Televisi c. dokumentasi d. Audio e. audio-visual 2. Di bawah ini sumber informasi yang berbentuk media cetak, adalah a. audio-visual, tabloid, dan televisi b. iklan, internet, dan majalah c. majalah, dokumentasi, dan buku d. internet, televisi, dan koran e. buletin, internet, dan video 3. Penulisan sumber informasi dari media elektronik di bawah ini adalah a. Kompas, 12 Juli 2007 b. senin (9/4) ..... c. ( RCTI, 2007 : 4 ) d. www.yahoo.com e. Intisari, Oktober 1998 4. Menguraikan gagasan atau hal yang disampaikan secara tertulis dapat ditampilkan dalam beberapa uraian, kecuali a. deskrpisi b. Narasi c. Biografi d. Argumentasi e. persuasi 5. Tulisan yang berupa gambaran mengenai keadaan, benda, dan tempat disebut a. narasi b. Deskripsi c. Eksposisi d. Argumentasi e. persuasi 6. Penulisan yang berisi kalimat ajakan, himbauan seperti argumentasi disebut a. narasi b. Deskripsi c. Eksposisi e. Persuasi d. argumentasi 7. Penulisan yang berisi tentang pendapat, cara melakukan sesuatu, pemaparan tentang suatu hal disebut a. narasi b. Deskripsi d. Argumentasi c. Eksposisi e. persuasi 8. Di bawah ini kegunaan membuat catatan untuk bacaan yang akan dibaca, kecuali a. detail dan menarik b. mengambil isi pokok informasi c. membantu mengingat isi bacaan d. memudahkan membuat kutipan dalam menyusun e. menjadikannya bahan informasi 9. Beberapa cara untuk mencatat informasi yang dapat dilakukan dan dianjurkan, kecuali a. mencatat di buku khusus b. memberi coretan khusus pada informasi penting c. mencatat pada lembaran-lembaran yang dijadikan satu di sebuah map file d. mencatat pada kartu catatan e. catatan khusus 10. Pemilihan proses dan hasil pada wacana/teks bacaan dapat dilakukan dengan cara a. scanning b. skimimg c. Grafik d. Diagram e. tabel 11. Untuk menghemat waktu dan menunjukkan statiska penulisan informasi, dapat digunakan alat bantu visual di bawah ini, kecuali a. grafik b. tabel c. Peta d. Selebaran e. diagram 12. Karangan ekspositoris adalah jenis karangan yang termasuk karangan a. komik b. roman c. Cerpen d. Biografi e. novel 13. Informasi nonverbal dapat berupa bentuk di bawah ini, kecuali a. diagram b. Grafik c. Bagan d. Matriks e. Opini 14. Bentukan kata yang menyatakan proses biasanya dinyatakan oleh imbuhan a. –an b. me- -kan c. pe- d. per-an e. pe -an 15. Uraian padat yang berisi intisari atau saripati dari informasi asalnya disebut ..... a. hasil b. Proses c. kesimpulan d. Grafik e. biografi 16. Penulisan simpulan dapat diuraikan dalam dua jenis yaitu a. intensif dan ekspresif b. naratif dan persuasif c. persuasif dan induktif d. sugestif dan imajinatif e. deduktif dan induktif 17. Penulisan simpulan secara deduktif dijelaskan secara a. umum – khusus b. detail c. khusus - umum d. khusus saja . Ekspresionis 18. Simpulan secara induktif ditulis dan dijelaskan secara a. umum- khusus b. Detail c. khusus - umum d. khusus saja e. Ekspresionis 19. EKSPOR-IMPOR INDONESIA(Dalam US $000.000 ) Termasuk Minyak Bumi Tidak Termasuk Minyak Bumi dan Gas Tahun Ekspor Impor Ekspor Impor 1992 33.967,0 27.279,6 23.296,1 25.184,6 1993 36.823,0 28,327,8 27.007,2 26.157,3 1994 39.707,8 30.341,8 30.341,7 28.772,7 Kalimat yang sesuai dengan tabel di atas adalah a. Ekspor minyak Indonesia terus meningkat. b. Indonesia tidak mengimpor minyak. c. Nilai Impor minyak dan gas Indonesia Indonesia tidak mencapai 10%. d. Ekspor migas memegang peranan utama dalam perdagangan luar negeri. e. Tahun 1994, Indonesia menikmati surplus perdagangan luar negeri sebesar lebih dari US $ 8 juta. 20. Jadwal Pentas Seni di SMK Negeri 10 Malang Hari dan Tanggal Wktu Nama Acara Jumat, 20 Desember 2007 Pagi 09.0 - 09.30 Marawis oleh Group Marawis kelas X MM 1 09.30 - 10.00 Tarian Kreasi 0leh Siswa XI TKJ 2 .............. ........................................... Siang 13.0 - 13.00 13.30 - 14.30 Pembacaan Puisi oleh siswa Kielas X MO 1 Pagelaran siswa-siswi Kelas XII Berdasarkan jadwal tersebut, puisi dibacakan pada a. Pagi, pukul 10.00 - 10.30 b. Pagi, pukul 10.30 - 11.00 c. Pagi, pukul 09.00 - 09.30 d. Siang, pukul 13.00 - 13.30 e. hari Jumat, 20 Desember 2006



II. Jawablah soal-soal di bawah ini dengan tepat dan benar!




1 Sebutkan sumber media apa saja yang dapat dijadikan informasi!
2. Tuliskan susunan catatan kaki dari data di bawah ini!
3. Sebutkan beberapa jenis teks yang kalian ketahui!
4. Sebutkan kegunaan dari membuat catatan!
5. Berikan contoh-contoh alat bantu visual dalam menguraikan informasi supaya menarik dan efektif!
6. Sebutkan langkah-langkah membaca grafik!
7. Apa yang dimaksud dengan simpulan? sebutkan dua jenisnya! 8. Jelaskan apa yang dimaksud dengan informasi nonverbal!
9. Sebutkan ciri-ciri bahasa surat kabar!
10. Tuliskan contoh kalimat yang menyatakan proses dan hasil!

Rangkuman Materi BAHASA INDONESIA SMK Kelas X.1.3



MEMBACA CEPAT UNTUK MEMAHAMI INFORMASI TERTULIS (BAB 3)
A. Membaca Cepat Permulaan
Perkembangan zaman yang diikuti oleh perkembangan teknologi membuat semua berjalan serbacepat. Teknologi informasi pun berkembang demikian pesat menjadi sarana penyebaran informasi bagaikan tak terikat ruang dan waktu. Segala kejadian di mana pun dapat tersebar demikian cepat dalam hitungan detik. Berbagai sarana baik cetak maupun elektronik berlomba-lomba menyuguhkan aneka informasi yang bermanfaat dengan sajian instan. Segala bentuk informasi tertulis yang tercetak pun tak kalah pesatnya. Puluhan buku setiap harinya dicetak dan terbit. Belum lagi satu ku habis masa promosinya sudah terbit buku-buku baru yang lainnya. Sebagai siswa, Anda tertuntut untuk dengan cepat pula mengetahui informasi yang berkembang. Siswa tidak lagi hanya berpedoman pada apa yang didapat dari sekolah, namun ia secara mandiri juga dapat menggali informasi melalui aktivitas membaca dari berbagai media yang berkembang. Mengimbangi pesatnya arus informasi yang tersebar, daya atau kemampuan menyerap informasi dari membaca juga harus ditingkatkan. Membaca dengan cara lama harus diubah dengan pola baru, yaitu membaca cepat pemahaman atau membaca efektif agar proses penyerapan ilmu atau informasi juga dapat dilakukan dengan cepat. Membaca cepat bukan membaca dengan cepat tanpa ada yang terserap dari isi bacaan karena tujuan membaca adalah memahami isi bacaan yang dibaca. Yang dimaksud membaca cepat pemahaman adalah membaca dengan waktu yang lebih cepat dari membaca normal namun tetap dapat memahami isi bacaan sekurang-kurangnya 60 persen. Bagaimana caranya?  Caranya adalah dengan mengubah pola membaca yang salah yang sudah menjadi kebiasaan dengan sistem membaca yang baru. Cara lama yang harus dihilangkan itu meliputi hal-hal berikut. 1. membaca dengan suara nyaring atau melafalkan kata per kata, 2. membaca dengan menunjukkan jari pada bacaan, 3. membaca dengan menggerakkan kepala mengikuti baris bacaan, 4. membaca dengan melihat kembali ke bacaan sebelumnya/regresi, 5. membaca dengan menggerakkan bibir, 6. membaca dengan melafazkan dalam batin atau pikiran kata-kata yang dibaca atau subvokalisasi, Semua cara lama tersebut menjadi penghambat membaca dalam waktu yang cepat. Untuk melatih kecepatan membaca, Anda dapat melakukan pengukuran waktu lamanya membaca. Sebelumnya, Anda menentukan target lamanya membaca untuk panjangnya bacaan atau jumlah kata dalam bacaan. Walaupun ukuran kecepatan yang ideal setiap orang bergantung pada jenis bacaan dan tujuan membaca, tapi untuk tahap awal, Anda dapat mengambil ukuran membaca cepat pemula, yaitu membaca dengan kecepatan 120 – 150 kpm (kata per menit). Caranya seperti brikut: 1. Carilah bacaan ringan yang banyaknya lebih kurang 300 kata. Atau jika bacaan panjang hitunglah setiap kata dalam bacaan hingga jumlah 300 kata (Lihat cara perhitungannya dalam penjelasan selanjutnya). 2. Sebelum membaca, catatlah dulu waktu mulai setepat-tepatnya, 3.Selesai membaca, catatlah waktunya, 4. Hitung berapa menit dan detik lamanya membaca, 5. Jika belum sampai target, ulangilah kembali dari awal pada bacaan yang ain.6. Setelah mencapai target waktu, cobalah menguraikan kembali hal yang sudah dibaca dengan bahasa  sendiri untuk mengukur tingkat ingatan dan pemahaman. Untuk menghitung jumlah kata dalam bacaan yang dibaca, hitung jumlah kata dalam lima baris dahulu lalu bagi lima. Hasilnya merupakan jumlah rata-rata per baris dari bacaan itu. Lalu hitung jumlah baris yang dibaca dan kalikan dengan jumlah rata-rata tadi,hasilnya  merupakan  jumlah kata yang dibaca. Misalnya: Rumus mengukur kecepatan membaca dengan ukuran satuan kata per  menit (kpm). Rumus kpm, ialah: Jumlah kata per lima baris 50 kata : 5. Jadi jumlah per baris 10 kata Jumlah baris dalam bacaan yang dibaca 30. Maka, jumlah kata yang dibaca adalah 30 X 10 = 300 kata Bacalah wacana di bawah ini yang berjumlah ..Waktu mulai: pukul ... lebih ... menit ... detik. SENI BERBAHASA, SASTRA, DAN APRESIASI Manusia selain memiliki akal pikiran sebagai alat berpikir, juga memiliki hati sebagai sarana untuk merasakan dan menilai. Dengan hatinya, manusia menyukai segala hal yang menyenangkan. Hal menyenangkan itu dapat berhubungan dengan segala yang indah, baik, atau yang berbau seni.  Dengan itu, manusia tidak selalu berpikir tentang benar atau salah, tetapi juga baik dan buruk, indah atau jelek. Kecendrungan pada sisi inilah yang kemudian melahirkan warna yang senantiasa mengiringi gerak kehidupan manusia. Dalam berbagai hal, baik yang berhubungan dengan bidang pekerjaan, ilmu, dan komunikasi melalui bahasa terdapat unsur seni. Proses hubungan sosial manusia secara eksplisit maupun implisit memasukkan unsur seni. Seni dapat berwujud sikap, pola, cara, atau gaya dalam melakukan sesuatu. Maka, tak heran jika dalam segala urusan yang berkaitan dengan kepentingan serta kebutuhan manusia, terdapat pola, gaya, dan cara yang berbeda-beda. Dari semua itu, muncullah berbagai tipe, corak, bentuk, maupun ragam yang membuat kehidupan manusia lebih variatif. Bahasa sebagai alat komunikasi dan sarana mengungkapkan pikiran serta perasaan manusia juga tak lepas dari unsur seni. Seni bahasa meliputi seni menulis, berbicara, membaca, dan lain-lain. Dalam tata bahasa, terdapat ragam dan gaya bahasa. Pada tataran wacana atau bentuk tulisan, terbentuk kesusastraan atau susastra. Dalam dunia sastra, gaya, corak, warna, dan ragam dalam pengungkapan bahasa secara tertulis maupun lisan sangat kental dan menonjol. Hal itu yang kemudian menjadi ciri khas dari masing-masing bentuk karya sastra seperti prosa, puisi, dan drama. Maka, untuk mengenal, mempelajari, dan memahami bentuk sastra, tidak dapat instan tapi melalui proses. Proses itu disebut dengan apresiasi. Apresiasi adalah usaha pengenalan suatu nilai (hati) terhadap nilai yang lebih tinggi (karya seni). Apresiasi dalam sastra adalah pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap nilai sastra yang menimbulkan kegairahan terhadap sastra itu serta kenikmatan sebagai akibatnya. Waktu selesai pukul: ... lebih ... menit ... detik. Catat kembali waktu saat selesai membaca, lalu hitunglah berdasarkan rumus di atas. Jika hasilnya 150 kpm, berarti kecepatan membaca untuk tahap awal telah tercapai. Namun pencapaian itu belum ideal untuk tahap membaca pemahaman. Maka, mintalah teman Anda menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan isi bacaan sebanyak 10 sampai 20 butir pertanyaan. Apabila semua pertanyaan dapat terjawab benar tanpa melihat bacaan, berarti Anda dianggap cukup berhasil membaca cepat pemahaman tingkat permulaan.
B. Membaca Lanjutan dengan Sistem Membaca Layap dan Membaca Memindai
Bagaimana agar kita dapat membaca sejumlah bahan bacaan yang cukup banyak dan penting bagi kita dengan ketersediaan waktu yang tidak cukup lapang? Atau kita harus menemukan informasi tertentu yang begitu penting dalam ribuan data atau ribuan rangkaian kata-kata dan kalimat. Ada dua teknik membaca cepat yang dapat dilakukan untuk mengefisienkan waktu dan memberikan hasil yang efektif sesuai tujuan membaca. Dua cara membaca tersebut ialah membaca dengan teknik layap (skimming) dan membaca dengan teknik memindai (scanning). Membaca skimming artinya membaca dengan tujuan hanya mencari ide pokok atau saripati dari bahan bacaan yang dibaca. Jika dalam membaca seseorang hanya membutuhkan fakta-fakta tertentu atau hal-hal penting saja dari sebuah rangkaian informasi atau bacaan dengan mengabaikan unsur detailnya, dapat menggunakan teknik pelayapan (skimming). Jika seseorang membaca dengan tujuan hanya mencari fakta atau data tertentu dan ingin langsung menuju ke hal tertentu tersebut, dapat menggunakan teknik pemindaian (scanning). Teknik ini dipergunakan dalam aktivitas mencari nomor di buku telepon, data statistik, mencari kata dalam kamus atau indeks, dan sebagainya. Dalam teknik membaca pelayapan, pembaca dituntut memfokuskan pandangan hanya pada unsur-unsur penting dalam bacaan. Jadi, tidak semua kata dibaca karena tidak semua yang tercetak atau terurai dalam kata-kata pada suatu bacaan penting bagi pembaca. Dalam hal ini, pembaca harus dengan terampil melebarkan pandangan hanya pada bagian-bagian tertentu yang dianggap penting dengan selalu melompati atau melewati hal-hal yang dianggap tak penting. Begitu pula pada teknik pemindaian pandangan mata hanya akan terfokus pada hal-hal penting barupa data atau fakta yang dicari. Semua ini membutuhkan latihan cara menatap atau menggerakkan mata ketika membaca. Membaca bukan melihat kata per kata tetapi melihat bagian per bagian (fiksasi). Untuk melatih kecepatan mata dalam melakukan lompatan-lompatan atau melatih jangkauan mata secara menyamping (horiziontal) maupun melayap ke bawah (vertikal), dapat dilakukan beberapa latihan seperti di bawah ini. Latihan 1 Carilah nama buah pada kumpulan kata-kata di bawah ini: Waktu 10 detik. Latihan 2 Untuk melatih jangkauan mata secara horizontal atau dari kiri ke kanan, pandangan mata tidak bergerak pada kata per kata melainkan pada kelompok kata. Perhatikan contoh berikut. Pada prinsipnya membaca untuk mendapatkan isi bukan menghafal kata-katanya. Hal yang perlu dilakukan adalah mempercepat peralihan dari fiksasi ke fiksasi dan tidak terlalu lama berhenti dalam satu fiksasi.  Percepatlah gerak mata dari satu fiksasi ke fiksasi berikutnya. Mungkin hal di bawah ini dapat dilakukan sebagai latihan. Bacalah rangkaian frasa atau klausa di bawah ini dengan tetap memfokuskan pandangan ke tengah.  Bacalah sekaligus sebagai satu frasa/klausa, jangan terpisah-pisah. Jadi baris pertama harus Anda baca rumah sakit mata. Tetaplah perhatian ke tengah, dan bergeraklah ke bawah, ke baris-baris berikutnya. Usahakan kepala tidak ikut bergerak. Latihan 3 Biasanya untuk mencari data atau fakta dengan menggunakan teknik pemindaian, pola gerak mata tidak menyamping tetapi ke bawah seperti membaca kolom. Gerak mata harus terlatih menelusuri rangkaian data kearah bawah dengan cepat tanpa tergoda membaca melebar ke samping. Latihan berikut dapat Anda lakukan. Namun ingat, membaca dengan mengerti isinya. Bacalah kolom yang hanya terdiri atas satu kata ke arah bawahselanjutnya kolom berikutnya, waktu Anda 30 detik. Latihan berikutnya mengenali frasa dengan cepat. Bacalah ke bawah dan setiap kali Anda menemukan frasa di catatanku coret dengan pensil Anda. Lakukanlah secepat-cepatnya.Usahakan dalam tempo kurang dari  30 detik. Bacalah wacana berikut: (sebelumnya catat waktu sebelum membaca) Sarana Komunikasi, Kesadaran Berbahasa,dan Sikap Berbahasa yang Positif Sebagai mahluk sosial, manusia memerlukan manusia yang lain.  Artinya, manusia tidak dapat hidup dan memenuhi kebutuhannya, tanpa bantuan manusia lain. Karena memerlukan orang lain, manusia berinteraksi dan berkomunikasi dengan sesamanya. Berawal dari komunikasi lisan melalui alat ucap dan bunyi-bunyian sederhana, hingga terwujud simbol-simbol tulisan, manusia menyatakan pikiran, ide, gagasan, ataupun keinginannya. Sesuai dengan perkembangan peradaban dan teknologi, kini manusia dapat berkomunikasi dengan berbagai cara dan sarana. Sekarang ini, orang dengan cepat dapat berbahasa lisan tanpa berhadapan melalui telepon atau saling berbahasa tulisan melalui fasilitas chating di internet. Sejalan dengan itu, bahasa pun berkembang makin kompleks. Dalam perkembangannya, bahasa mengalami proses pengayaan. Pada tataran tata bahasa, terjadi penambahan kosakata, bentukan kata, dan berbagai pola serta jenis kalimat. Pada tataran pemakaian, telah beraneka ragam muncul model-model ungkapan, pemeo, jargon, dan lain-lain. Hal ini menunjukkan peningkatan dalam hal kesadaran berbahasa oleh manusia yang dianggap aspek penting dalam berkehidupan dan berhubungan sosial antarsesama. Namun, di sisi lain juga sangat memprihatinkan dan mengkhawatirkan. Kekhawatiran tersebut muncul jika kesadaran berbahasa sebagai sarana komunikasi tidak diimbangi dengan sikap berbahasa yang positif. Banyak terjadi akibat bahasa, persahabatan retak, persaudaraan putus, antarkelompok bermusuhan bahkan antarnegara terjadi peperangan. Begitulah kedasyatan bahasa yang lahir dari mulut manusia. Pantaslah bila ada pepatah mengatakan ”mulutmu adalah harimaumu”. Untuk menghindari itu, diperlukan sikap berbahasa yang positif. Perwujudan sikap positif berbahasa ialah dengan berbahasa secara santun, mempertimbangkan segala aspek yang berkaitan dengan tujuan dan efek komunikasi. Memilih kata, ungkapan, dan kalimat dengan cermat, serta menghargai mitra bicara. Hindari pemakaian kata/ungkapan dan kalimat yang berpotensi menimbulkan konflik. Dengan saling memiliki sikap berbahasa yang positif, komunikasi akan efektif, lancar, mencapai tujuan, dan aman.  (Catatlah waktu selesai membaca, lalu hitung kecepatan membaca berdasarkan rumus Kpm)Kemudian, jawablah pertanyaan di bawah ini: 1. Jelaskan mengapa manusia disebut makluk sosial! 2. Kemudahan apa yang dialami manusia dalam berkomunikasi sejalan dengan perkembangan teknologi? 3. Jelaskan proses pengayaan bahasa sebagai akibat kesadaran berbahasa! 4. Apa yang terjadi jika berbahasa tidak diimbangi sikap yang positif? 5. Bagaimana sikap berbahasa yang positif? Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini, dalam waktu 2 menit. 1. Pukul berapa acara topik petang di Anteve? 2. Acara apa yang ditayangkan oleh stasiun TPI pada pukul. 16.30? 3. Stasiun televisi apa saja yang masih siaran di atas pukul 03.00? 4. Stasiun mana saja yang banyak menayangkan acara olahraga? 5. Acara apa yang ditayangkan SCTV setelah Liputan 6 Malam?


C. Teknik Membuat Catatan
Dalam membaca pemahaman, jika bahan bacaan banyak dan tak semua hal-hal penting dapat diingat atau dipahami, pembaca perlu membuat catatan. Catatan ini dibuat sebagai sarana membantu menguatkan ingatan atau pemahaman terhadap isi bacaan sesuai dengan tujuan membaca.  Tidak semua uraian dicatat. Tujuan membaca secara umum adalah untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan atau memahami gagasan yang disampaikan penulis dalam bacaan. Agar catatan terarah, hal-hal yang perlu dicatat adalah, seperti berikut.: 1. Kata-kata kunci berupa kata/frasa/klausa yang dapat mengantarkan pada pikiran pokok. 2. Ide pokok atau gagasan utama setiap paragraf .3. Data dan fakta yang mendukung gagasan seperti hasil penelitian, angka-angka, dan lain-lain. 4. Informasi yang dianggap menarik termasuk pemikiran baru, opini, tanggapan, atau penyelesaian suatu masalah .5. Pendapat atau penilaian penulis mengenai hal-hal tertentu. 6. Jika yang dibaca berbentuk buku, jangan lupa catat halaman tempat informasi yang dicatat berada untuk memudahkan mencari kembali.


D. Teknik Menyusun Bagian
Dalam setiap karangan terdapat kumpulan ide pokok atau gagasan yang mendukung satu tema karangan. Setiap ide pokok diuraikan menjadi paragraf, masing-masing paragraf saling berkaitan. Gagasan pokok yang ada dalam setiap paragraf diuraikan menjadi kalimat utama dan kalimat penjelas. Untuk memahami sebuah karangan, kita dapat juga menggunakan teknik menyusun bagian, yaitu membedah karangan menjadi bagianbagian yang merupakan unsur pembangunnya. Perhatikanlah contoh di bawah ini: Setelah menyusun bagian-bagian karangan yang merupakan bentuk kerangka karangan, Anda dapat menentukan bagian-bagian tersebut dalam karangan yang dibaca lalu menyusunnya sesuai bagian-bagiannya. Contoh: Banyaknya perincian bergantung pada banyaknya paragraf yang terdapat dalam karangan. Penyusunan unsur/bagian karangan, selain disusun seperti di atas, dapat pula berupa pemaparan atau eksposisi seperti contoh di bawah ini. Topik : Sumber Belajar terdiri atas:  paragraf 1 berisi penjelasan mengenai pengertian sumber belajar  paragraf 2 berisi uraian atau penjelasan tentang macam-macam sumber belajar baik yang berbentuk tulisan maupun lisan dan seterusnya.
E. Menafsirkan Kata, Bentuk Kata, dan Ungkapan Idiomatik
Di dalam bacaan yang kita baca, adakalanya terdapat penggunaan kata yang berbentuk istilah atau kata yang memerlukan penafsiran khusus. Selain kata, terdapat pula penggunaan bentuk kata atau kata turunan serta pemakaian ungkapan idiomatik yang maknanya perlu dijelaskan. Untuk membantu mendapatkan penjelasan mengenai pengertian kata, bentuk kata, dan makna idiomatik, kita dapat menggunakan kamus seperti Kamus Besar Bahasa Indonesia. Di dalam kamus, sebuah kata dijelaskan secara detail mengenai arti kata, asal kata, kata turunannya, kelas kata, serta pengertian kiasnya jika adaContoh lembaran halaman dalam kamus: Wacana yang temanya menyangkut bidang ilmu tertentu seperti: pertanian, teknik, atau kesehatan. Biasanya banyak menggunakan istilah khusus yang menyangkut bidang tersebut, termasuk juga penggunaan bentuk kata, atau ungkapan idiomatiknya. Langkah dalam membaca pemahaman selain mencatat pokok-pokok isi bacaan, juga mendaftarkan istilah, bentuk kata, dan penggunaan ungkapan idiomatik yang tidak dimengerti untuk dicarikan maknanya dengan membuka kamus bahasa ataupun kamus istilah. Untuk wacana berbentuk karya sastra seperti cerpen dan puisi, sering kita temui pula kata atau bentukan kata yang tidak bermakna umum melainkan memiliki nuansa makna yang lebih bersifat kedaerahan atau bahasa sehari-hari seperti njelimet, ngawur, kesetanan. Untuk membantu memahami kata-kata seperti itu, kita dapat memanfaatkan kamus. Di samping itu, di dalam puisi atau syair lagu, sering kita temukan penggunaan ungkapan atau idiom. Untuk memahami puisi, kita juga harus dapat menafsirkan bentuk-bentuk idiom atau ungkapan yang bersifat idiomatik. Contoh penggunaan ungkapan dalam puisi Kaulah kandil kemerlap Pelita jendela di malam gelap  Melambai pulang perlahan Sabar, setia selalu (Bait kedua, puisi berjudul “Padamu Jua” karya Amir Hamzah) Dalam puisi tersebut, terdapat ungkapan kandil kemerlap yang berarti Lilin yang terang. Dan ungkapan pelita jendela ditafsirkan dengan penerang alam sekitarnya. Atau pemberi petunjuk. Dan malam gelap ialah sesuatu yang tidak diketahui atau tidak tentu arah. Kau pada puisi tersebut dimaknai dengan Tuhan. Tuhan menjadi petunjuk jalan kebenaran. Jadi, dalam memahami puisi atau syair, kita harus memahami simbolsimbol yang digunakan. Simbol atau makna kias dapat tercermin dari penggunaan kata, bentukan kata, atau ungkapan yang tak biasa. Untuk memahaminya, kita dapat melihat dari kedudukan kata, kaitan makna antarkata, atau bentukan kata tertentu dengan kata yang lainnya. Jika secara leksikal maupun gramatikal kalimat tersebut tak dapat dimaknai, kita harus menafsirkannya berdasarkan konteks kata atau kalimat. Sebab, setiap untaian kata, frasa, atau kalimat yang terdapat dalam puisi  merupakanuntaian perasaan, ekspresi, ataupun pengalaman kejiwaan penyairnya. Untuk memahami berbagai penggunaan kata baik secara leksikal,gramatikal, struktural, maupun kontekstual, kita dapat memanfaatkankamus. Di dalam kamus, dijabarkan penggunaan kata dalam berbagaiaspeknya. Dengan banyak menelaah kamus, kita akan memperoleh kekayaan kosakata. Dalam sebuah ceramahnya, penyair besar W.S. Rendra pun menganjurkan para penyair untuk selalu melihat arti kata dalam kamus, seperti ia sendiri selalu melihat kamus bahasa Indonesia dengan tekun untuk mendapatkan arti yang setepat-tepatnya. Tugas Mandiri: Bacalah wacana di halaman awal bab ini secara cepat denganmenggunakan teknik membaca memindai (skimming) dan membacapelayapan (scanning). Catatlah pokok-pokok isi bacaan tersebut lalususunlah menjadi kerangka karangan yang utuh. Daftarkanlah kata/istilah, serta ungkapan idiomatik yang terdapat di dalam bacaan, lalujelaskan maknanya. Untuk melatih cara membaca ini lebih jauh, ambilah kamus, buku telepon, atau jadwal acara televisi lainnya. Carilah informasi tertentu, misalnya beberapa kata dalam kamus, alamat dalam buku telepon, atau nama siaran dan jamnya. Anda dapat lakukan bersama teman sebangku secara berpasangan dan bergantian. Hitunglah kecepatannya  berdasarkan waktu mulai dan selesai. Bacalah wacana di bawah ini dengan saksama! Membaca Kreatif Membaca kreatif tidak berhenti setelah bacaan atau buku tuntas dibaca. Masih ada proses tindak lanjut yang tujuan akhirnya berupa peningkatan kualitas hidup. Mungkin Anda seorang kutu buku. Namun, apakah isi setiap bacaan atau buku yang baru selesai Anda baca lewat begitu saja? Ataukah justru memengaruhi pikiran? Bagaimanakah upaya agar pengetahuan yang Anda baca benar-benar berguna untuk meningkatkan kualitas hidup Anda? Pengaruh yang terjadi pada seseorang usai mencermati kata demi kata dalam sebuah bacaan atau buku tidaklah sama. Hal itu sangat bergantung pada cara membacanya. Berdasarkan tingkatan hasil yang diperoleh setelah membaca, jenis membaca dibedakan atas membaca literal, membaca kritis, dan membaca kreatif.  Membaca literal bertujuan mengenal arti yang tertera secara tersurat dalam teks bacaan. Pembaca cukup menangkap informasi    yang tertera secara literal (reading the lines) dalam teks bacaan. Pembaca tidak berusaha mendalami atau menangkap lebih jauh.Membaca kritis adalah membaca untuk memahami isi bacaan atau  membaca secara rasional, kritis, mendalam, disertai keterlibatan pikiran dalam menganalisis bacaan. Dalam membaca kritis, pembaca berupaya memahami lebih dalam materi yang dibaca. Untuk mencapai tujuan tersebut, pembaca menggunakan empat cara, yaitu bertanya (seolaholah berdialog dengan teks bacaan), menyimpulkan, menghubungkan satu keterangan dengan keterangan lain, dan menilai ide-ide dalam  bacaan. Meningkatkan kualitas hidup Yang paling bermakna dalam kegiatan membaca adalah membaca kreatif. Pada jenis ini, kegiatan membaca merupakan sebuah proses untuk mendapatkan nilai tambah dari pengetahuan yang terdapat dalam bacaan, yaitu dengan mengidentifikasi ide-ide yang menonjol atau mengombinasikan gagasan pokok bacaan dengan pengetahuan yang pernah diperoleh sebelumnya.  Kegiatan membaca kreatif tidak sekadar menangkap makna dan maksud dari isi bacaan, tetapi juga menerapkan ide-ide atau informasi yang tertuang dalam kehidupan sehari-hari, khususnya yang berkaitan dengan peningkatan kualitas hidup. Dengan menerapkan informasi diharapkan, kualitas hidup pembaca akan lebih terarah dan meningkat.  Kalau ternyata begitu selesai membaca tidak ada tindak lanjutnya, berarti ia bukan pembaca kreatif. Setelah membaca, pada diri seorang pembaca kreatif secara otomatis akan tampak sejumlah kemajuan, baik kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Dengan kata lain, tingkatan hasil membaca kreatif lebih tinggi daripada membaca literal atau kritis. Manfaat membaca kreatif Membaca kreatif akan memberikan banyak manfaat sesuai bahan bacaan yang dibaca. Banyak tema bacaan bermanfaat yang dapat dibaca, misalnya bacaan tentang siraman rohani, pemikiran para budayawan, informasi cara merawat kesehatan tubuh, informasi soal cara membuat makanan, atau barang. Ada juga yang memberikan informasi soal cara memanfaatkan lahan milik sendiri, misalnya membudidayakan tanaman hias, atau tanaman obat. Apabila Anda tertarik untuk memelihara ternak, dari buku pun Anda dapat belajar cara merawat, memilih makanan atau pakan yamg diperlukan, dan sebagainya. Pilihan lain untuk menambah pengetahuan antara lain, cara membuat bangunan dan menata ruangan secara artistik, termasuk cara merenovasi suatu bangunan agar terkesan lebih nyaman dan indah. Sekarang pun banyak buku yang mengajarkan cara mengatur keuangan keluarga serta cara berinvestasi untuk masa depan. Tak sedikit pula buku psikologi yang dapat memberi masukan tentang cara mendidik dan mengarahkan perkembangan jiwa anak. Ada juga buku tentang hobi atau keterampilan yang mungkin bisa memberikan ide untuk memproduksi sesuatu. Dengan membaca, kita dapat menerapkan pengetahuan baru yang kita peroleh untuk mengembangkan karier atau meningkatkan kemampuan dalam berbagai bidang sesuai kebutuhan masing-masing. (Dikutip dari Intisari: Oktober 2003, Penulis Yacob Suparsa Asman)

Selasa, 09 Oktober 2012

Buku dan Aku (WRITEN BY MY DOUGHTER)

Andai aku adalah seorang pelajar. Kujelajahi awal hidupku dengan membuka lembaran baru untuk menapakkan jejak kakiku di dunia pendidikan. Didikan yang tegas dan perhatian orangtua yang sangat yang telah mengantarkanku menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi sesuai harapan kedua orangtuaku. Selain itu, kedua orangtuaku membekali dengan kunci utama yang menjadikanku hingga seperti ini yaitu buku. Buku adalah jendela dunia yang telah memberikan tambahan wawasan hingga aku bisa menatap dunia lebih jauh.


Ingin membaca selengkapnya?. . . .
Hingga detik ini, buku adalah teman terbaikku. Ada pepatah yang mengatakan, ”khairu jaliisin fi zamaani kitaabin”. Sebaik-baik teman disetiap waktu adalah buku. Karena buku akan selalu ada disetiap langkah yang aku lalui dalam hidupku. Buku mengajariku tentang berbagai hal dalam hidup ini. Tentang roda-roda kehidupan yang terus berputar seiring dengan berjalannya waktu. Tentang indahnya dunia fana ini yang ternyata hanya fatamorgana. Dan tentang susahnya hidup di dunia ini yang ternyata hanya sementara. Buku mengajariku tentang bagaimana kita harus menjalani hidup ini dengan optimis, tidak pantang menyerah, aktif di dalam berbagai kegiatan yang diadakan masyarakat maupun aktif diberbagai even-even besar di lingkungan sekolah dan mengajari untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, bijaksana serta dapat mengambil sebuah keputusan yang dapat diterima oleh banyak pihak.
Tanpa adanya buku, aku bagai tersesat sendiri ditengah gegap gempitanya dunia ini. Aku bagai terbelenggu ditengah dinamika kehidupan yang semakin lama semakin menunjukkan kemajuan teknologinya. Tanpa buku aku tak bisa mengembangkan bakat dan minat yang terpendam di dalam diriku. Disaat seperti itu aku bagaikan orang terpuruk yang sangat menyedihkan. Aku seperti orang paling bodoh di era globalisasi seperti saat ini, dimana keadaan itu sangat bertentangan dengan cita-cita para ilmuwan terkemuka yang sangat aku idolakan. Dan tanpa buku aku tidak dapat berkomunikasi dengan lancar layaknya para diplomat yang berbicara dengan para relasinya. Dan yang paling utama, tanpa buku hidupku tampak suram. Tidak ada lagi semangat yang terus berkobar sebagai dorongan untuk meraih cita-citaku.
Buku panduan yang sebagai jalan untuk sukses dapat kita temui dimana-mana. Salah satunya di perpustakaan. Kita tak perlu jauh-jauh atau susah-susah untuk membeli berbagai macam buku yang kita inginkan di toko buku. Kita hanya tinggal datang ke sebuah perpustakaan yang tidak banyak mengeluarkan uang saku kita. Kalau kita sebagai pelajar, kita lebih mudah membaca di perpustakaan yang telah disediakan oleh pihak sekolah. Lebih mudah bukan?? Tapi bukan sembarang perpustakaan yang enak dipakai untuk membaca lho…. Perpustakaan yang enak untuk membaca adalah perpustakaan yang dapat membuat kita nyaman di dalamnya, perpustakaan yang tenang untuk kita membaca dan perpustakaan yang cukup penerangan dan cukup sirkulasi udaranya. Semua itu berpengaruh besar untuk mendorong daya minat baca masyarakat khususnya para siswa- siswi yang sulit untuk ditimbulkan. Selain perpustakaan, kita juga bisa mendapatkan buku-buku yang kita inginkan di toko buku bekas. Mungkin di toko buku bekas, kita harus merogoh saku celana lebih dalam lagi. Namanya juga toko buku, tidak mungkinkan kalau kita kesana hanya untuk meminjam buku? Walaupun bekas jugakan dijual. Apabila kita menginginkan buku yang tidak bekas sebagai koleksi, kita juga bisa membeli di toko buku yang mengadakan diskon besar-besaran. Lumayan bukan?? Itu hanya sebagian tempat-tempat yang bisa kita kunjungi. Masih banyak tempat-tempat menarik yang bisa kita jelajahi bersama.
Setelah berbagai pengamatan dan penelitian saya lakukan, tampak jelas beberapa fakta bahwa salah satu penyebab rendahnya kualitas dan kuantitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia adalah kurangnya daya minat baca Sumber Daya Manusia itu sendiri. Karena kurangnya daya minat baca tersebut, kebodohan semakin merajalela dimana-dimana. Karena kebodohan itu, Sumber Daya Manusia di Indonesia tidak dapat mengeksploitasikan dengan baik dan benar Sumber Daya Alam yang telah diamanahkan oleh Allah SWT. Mereka tidak dapat merawat bahkan memanfaat Sumber Daya Alam yang melimpah ruah dengan sebaik-baiknya hingga kekayaan Sumber Daya Alam di Indonesia banyak yang dijarah oleh negara lain. Jelas saja kalau negara lain itu dapat merampas hak-hak milik kita karena negara-negara tersebut lebih maju di bidang teknologinya. Mereka jauh lebih maju dibidang teknologinya karena mereka mendapatkan ilmu dengan membaca berbagai judul buku-buku.
Misalnya saja negara jepang. Orang-orang jepang mayoritas gemar sekali membaca. Buku-buku yang mereka baca jauh lebih bermutu dibandingkan buku-buku yang biasa dibaca oleh kalangan masyarakat di Indonesia. Hal ini sudah termasuk bukti nyata bahwa kualitas dan kuantitas Sumber Daya Manusia di Negara Indonesia jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Sumber Daya Manusia yang ada di Negara Jepang. Kegemaran masyarakat Jepang dalam membaca mengantarkan mereka semua menuju gerbang kemajuan.
Adalagi contoh Negara lain yang maju. Namanya Negara Belanda, biasa disebut dengan Negara Kincir Angin. Negara Belanda juga termasuk salah satu contoh Negara yang teknologinya sangat maju. Hal itu tak luput dari kegemaran warga-warganya yang suka membaca. Bagi mereka, buku bagaikan malaikat penolong. Bagaimana tidak? Karena buku, mereka dapat belajar dan terus belajar untuk mengatasi wilayahnya yang kita semua ketahui kalau wilayah Negara Belanda sebenarnya mayoritas perairan. Mereka terus mempelajari berbagai ilmu yang ada di banyak buku tentunya. Dengan kegigihan mereka dalam membaca untuk mengetahui teknologi tercanggih yang bisa mereka lakukan, akhirnya wilayah yang semula mayoritas perairan disulap menjadi daratan yang terbentang nyata diatas perairan yang merupakan wilayah mereka sebelumnya.
Itu hanya sebagian kecil bencana-bencana yang ditimbulkan akibat ketidak cintaannya pada buku. Ternyata diluar negara Indonesia masih banyak lagi masalah-masalah yang disebabkan oleh buku. Dan hal ini yang menjadi faktor utama penyebab kemunduran dibeberapa Negara di dunia. Contohnya adalah beberapa negara di benua Afrika yang sebagian besar warganya menyandang buta huruf.
Buta huruf adalah masalah yang lebih rumit dibandingkan dengan kecilnya minat baca yang dialami sebagian besar warga negara Indonesia. Menurut kami, faktor utama penyebab banyaknya penyandang buta huruf di Negara tersebut adalah tidak dibiasakannya membaca buku-buku ringan sejak dini. Dan lama kelamaan mereka divonis sebagai orang yang rendah minat bacanya. Selain hal itu, ada juga faktor-faktor yang melatar belakanginya. Antara lain kurang perhatiannya orang-orang dewasa untuk mengajarkan betapa pentingnya membaca bagi setiap individu dan juga kurangnya tenaga pengajaran yang disediakan di lembaga-lembaga pendidikan.
Sesaat aku teringat akan betapa besar peran serta buku dalam hidupku. Saat pertama kali aku membuka buku-buku fiksi yang aku peroleh dari orangtuaku, hatiku sangat senang karena itu adalah buku yang sebagai guru
pertamaku untuk mulai berani menginspirasikan seluruh isi dunia khayalku ke dalam bentuk tulisan-tulisan indah yang nyata agar orang-orang yang aku sayangi dalam hidup ini dapat ikut serta menikmatinya. Tak hanya itu saja,
aku juga sangat berharap supaya orang-orang terdekatku itu dapat menyampaikan inspirasi-inspirasi di dalam angan-angan mereka dalam benuk seperti yang aku lakukan. Yaitu dengan menari-narikan penanya di atas kertas putih bertuliskan kata-kata indah yang mu ngkin dapat menentramkan hati orang yang membacanya.
Mari kita renungkan sejenak, betapa pentingnya manfaat buku dalam hidup ini. Buku bisa membuat kita sukses dalam mengarungi kerasnya bahtera kehidupan ini. Ingat pesan Tantowi Yahya, tidak suka membaca dekat dengan kebodohan. Dan kebodohan itu sangat dekat dengan kemiskinan. Jadi kita harus banyak membaca supaya hidup kita tidak sengsara, lebih tenang dan kita tidak tersingkirkan di tengah-tengah masyarakat modern dengan teknologi yang sangat maju.
Demikian essay yang dapat saya tulis. Atas kurang lebihnya saya mohon maaf. Apabila terdapat kelebihan, itu datangnya hanya dari Allah SWT semata. Dan apabila terjadi suatu kekurangan, itu adanya hanya dari saya pribadi. Akhirukalam Wassalamualaikum Wr. Wb

Sabtu, 06 Oktober 2012

SOLUSI MENGATASI HAMBATAN DALAM MENULIS



SOLUSI MENGATASI HAMBATAN DALAM MENULIS
SEBAGAI PENULIS PEMULA HAMPIR DAPAT DIPASTIKAN AKAN MENGALAMI HAMBATAN YANG MENYEBABKAN PENANYA TAK BISA DIDERAKKAN LAGI, SEOLAH-OLAH IA KEHA BISAN IDE UNTUK
DITULIS. APAKAH BENAR IA KEHABISAN IDE ATAU IA BELUM PERNAH MEMPELAJARI TEORI MENULIS? MARI KITA IKUTI TULISAN SINGKAT INI!
"Jangan Pikirkan apa yang akan kamu tulis, tapi tulislah apa yang ada dalam pikiranmu." (Anis Matta)

Ingin baca selengkapnya:
Saya akan berceritasedikit tentang hambatan yang sering dialami oleh seorang penulis, salah satunya adalah apa yang disebut dengan "PEN MACET". Dalam dunia kepenulisan, istilah ini sering diartikan sebagai sebuah kondisi dimana seorang penulis mengalami kemandegan dalam berkarya. Saya sering mengalaminya. Saya kadang susah untuk memulai kalimat apa yang tepat untuk mengawali sebuah tulisan. Banyak yang menyarankan bahwa awalan tulisan harus menarik, itu yang kadang menggangu pikiran dan membuat saya susah mencari kalimat yang tepat.
Nah, biasanya, saya akan menuliskan sebuah pernyataan penting di awal kalimat. Itulah ide dasar saya, biasanya, keseluruhan tulisan nantinya berpatokaan pada ide awal itu. Ini saya lakukan untuk menghindari pembicaraan yang melebar. Kalau tidak, saya akan memaparkan gagasan seseorang (seperti dalam tulisan ini), harapannya, hanya untuk menarik perhatian saja, selebihnya yang paling penting adalah apa gagasan baru dan pengalaman yang bisa disampaikan.
Kemudian, saya juga sering kehabisan ide. Misalnya, ketika saya akan menulis sebuah artikel untuk media massa, ide itu serasa sudah habis. kasusnya begini, untuk artikel di media massa, biasanya berkisar antara 5-7 halaman. Kadang, baru sampai 2-3 halaman saja sudah mandeg, kehabisan ide. Untuk mengatasinya, biasanya saya bagi keseluruhan artikel itu kedalam 2 sub judul. Contoh, saya akan menulis tentang "Media dan Terorisme", judul utama itu dibagi lagi menjadi dua sub judul "propaganda" dan "Hegemoni AS". Hal itu akan memudahkan untuk menguraikan permasalahan tentang tema yang akan dikupas.
Sebenarnya, tak masalah menguraikan tulisan tersebut tanpa membaginya ke dalam 2 sub judul, tapi biasanya pembahasan akan melebar kemana-mana dan tidak fokus. Untuk menghindari ketidak fokusan pembahasan, pembagian sub judul itu yang sering saya lakukan . Selain itu, usaha lain yang saya lakukan agar kemandegan tidak menghinggap adalah menyiapkan data yang cukup terkait dengan tema tulisan yang akat diangkat. Untuk sebuah artikel, biasanya saya membaca 2-3 buku ditambah data dari internet atau koran, ini untuk memperkaya karya agar selain memuat hasil analisis, karya juga memaparkan data untuk memperkuat analisis itu.
Faktor lainya yang juga membuat saya mandeg menulis adalah masalah "Kemasalan". Kalau sudah malas, susah sekali untuk bangkit menulis. Semua orang pasti pernah mengalami rasa malas yang begitu hebat. Nah, bagaimana jika disaat menulis beberapa saat, tulisan belum selesai dan rasa malas itu mulai menyerang. Jawabannya adalah (ini pengalaman saya), yakin bahwa tulisan yang akan dibuat itu sangat penting untuk orang lain.
Ketika orang lain membaca, akan bertambah wawasannya, syukur-syukur bisa mencerahkan dan merubah tingkah lagu pembacanya menuju perliku yang lebih baik. Keyakinan ini yang bisa memberikan semangat kepada saya untuk segera merampungkan tulisan. Harapannya sederhana, orang lain yang membaca akan segera mendapatkan manfaat dari karya itu. Ini yang memberikan dorongan saya untuk segera merampungkan sebuah karya.
Demikian cerita singkat saya mengenai "PENSIL MACET", semoga berguna dan selamat menulis
nuven_ridel@yahoo.co.id

Rabu, 03 Oktober 2012

ISLAM REVIEW LINGUSTIC ETHIMOLOGI,NURIL ANWAR, S.Pd.

"Agama" by ethimologis derived from the word "a" means "no" and "gamma" which means "chaotic / confusion" Sangskerta). So in review lingusistik ethimologi religion means no messy / confused. For that to my students of SMK Negeri 10 is expected to conclude that there is a problem when the problem is severe, the only place to vent is run into the street of Sallah is Religion.
"Islam" in ethimologis means "Congratulations" (Arabic). Thus "Islam" in review Ethimologis linguistics can be predicted that reduced Islam to the world is nothing but unruk regulate human life in seluruhas [per life world (socially, commerce, education, etc.) in order to manage the world's most are professionals who are able to make humans humans as individuals / groups can live safely calm tranquility until the hereafter.
So I am writing this very simple hopefully will motivate the reader to constantly improving minded about religion so that they can apply them correctly in accordance with the guidance of Allah and His Messenger

AGAMA ISLAM TINJAUAN LINGUISTIK ETHIMOLOGI



AGAMA ISLAM TINJAUAN LINGUSTIK ETHIMOLOGI
Berbicara tentang agama memang secara faktual hanya berkisar pada ajaran-ajaran agama itu sendiri untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. namun dalam tulisan sederhana ini penulis  akan mengupas agama dalam tinjausan linguistik ethimologi dengan tujuan supaya memperoleh wawasan yang lebih luas tentang agama . memperluas wawasan tentang agama itu sah-sah saja, asal tidak bermaksud memutarbalikkan sehingga bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri

"Agama" secara ethimologis  berasal dari kata "a"  yang artinya "tidak" dan "gama" yang artinya "kacau/galau"Sangskerta). Jadi agama dalam tinjauan lingusistik ethimologi berarti tidak kacau/galau. Untuk itu pada siswaku SMK Negeri 10 diharapkan mampu menyimpulkan bahwa bila ada masalah problem yang berat, satu-satunya tempat curhat adalah lari ke jalan SAllah yaitu Agama.

            Sedangkan "Islam" secara ethimologis berarti"Selamat"(Arab). Jadi Agama Islam dalam tinjauan linguistik Ethimologis dapat diprediksi bahwa diturunkan Agama Islam ke dunia ini tidak lain hanyalah unruk mengatur kehidupan manusia dalam seluruh aspek kehidupan di dunia ini (pergaulan, perdagangan, pendidikan, dan lain sebagainya) agar dunia ini ter-manage secara profesional yang mampu menjadikan  manusia manusia sebagai individu/kelompok dapat hidup selamat tenang sentosa sampai hari akhir nanti.

             Demikian tulisan saya yang sangat sederhana ini semoga dapat memotivasi pembaca untuk selalu meningkatkan wawasannya tentang Agama sehingga mampu menerapkannya secara benar sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulnya
   

Sabtu, 22 September 2012

MEMBACA CEPAT

Membaca cepat dengan teknik skimming, Nuril Anwar
Ide pokok atau gagasan utama sering disebut dengan tema paragraf, karena gagasan tersebut menjiwai seluruh isi pargraf., jadi setiap paragraf hanya mengandung satu ide pokok sebab satu paragraf merupakan hasil pengembangan satu ide pokok menjadi satu kalimat panjang, atau beberapa kalimat yang secara sistematis, herarchis(berurutan) dan koheren(padu), sehingga tidak ada satu kalimat pun yang menyimpang dari ide pokok tersebut(kalimat sumbang)
Ide pokok dapat dikembangkan awal paragraf, awal dandipertegas pada akhir, pada akhir paragraf, bahkan bisa tersebar di seluruh kalimat dalam paragraf tersebut. Kalimat yang merupakan tempat dituangkan/dikembangkannya ide pokok disebut kalimat utama/kalimat topik. dan posisi kalimat utama dalam paragraf sesuai dengan letak ide pokok.
Logikanya untuk dapat dengan cepat menangkap ide pokok setiap paragraf kita dapat dilakukan deng cara mengidentifikasi jenis paragraf dengan menentukan hubungan antar kalimat, mana kalimat yang diterangkan dan mana kalimat yang berp[osisi sebagai penjelas. Maka kalimat yang berposisi sebagai yangijelaskan/D dapat diprediksi sebagai kamat utama dan di situlah dapat kita cari ide pokoknya. Bila cara ini sudah kita lakukan kita mengalami kesulitan dapat dipastikan bahwa paragraf tersebut ide pokoknya tertuang diseluruh kalimat dalam paragraf sehingga tidak ada kalimat yang dijelaskan dan tidak ada kalimat yang berposisisi sebagai penjelas. Paragraf semacam ini sering kita jumpai pada paragraf menyebar(naratif, dan deskriptif. dan cara menemukan ide poko cukup berhenti sejenak dan bertanya"tentang apa paragraf iniAdikku nakal sekali. Setiap hari pekerjaannya selalu membuat onar saja, baik di sekolah maupun di rumah. Di sekolah sering temn putri menangis gARa-gra tasnya disembunyikan adikku.Di rumah ia bergabung dengan teman-teman yang makal yang menamakan diri sebagai KANSAS(Kami anak Nakal Suatu saat akan Sadar). dI JALANAN UMUM Merekasering kebut-kebutan, sehingga mengganggu kelancaran lalulintas
Berdasarkan analisis hubungan atar kalimat, kalimat pertama berposaisi sebagai kalimat yang dijelaskan oleha kalimat-kalimat lain yaitu no.  2,3, dan  4. paragraf  semacam ini jelas disebut paragraf awal dan ide pokoknya tertuang dalam kalimat pertama.
Karena kalimat utama merupakan pengembangan dari ide pokok, maka cara menentukan ide pokok adalah dengan mencari kata kunci dan moment/penjelas, sedang keterangan atau perluasannya harus dibuang.
Dalam kalimat pertama kata kuncinya adalah"adikku" dan momentnya adal;ah"nakal, sedang bagian lain hanyalah hasil perluasan dari ide pokok.Dalam haini dapat dipastikan bahwa paragraf tersebut ide pokoknya adalah "Adikku nakal
Catatan: Teknik semacam ini dapat kita lakukan bila yang kita gunakan adalah jenis paragraf berdasarkan letak ide pokok. Bila tinjauan jenis paragraf yang kita gunakan adalah pola pengembangan gagasan, maka caranya pun akan berbeda pula.