WELCOME

SELAMAT BERKUNJUNG DI GURU BAHASA INDONESIA SMKN 10 MALANG SEMOGA DAPAT BERMANFAAT"

Rabu, 10 Oktober 2012

Rangkuman Materi Bahasa Indonesia SMK Kelas X.1.1

MENYIMAK UNTUK MEMAHAMI LAFAL, TEKANAN, INTONASI, DAN JEDA
YANG LAZIM/ BAKU DAN YANG TIDAK(BAB 1)
A. Tujuan Menyimak
Salah satu keterampilan bahasa ialah menyimak. Menyimak menggunakan indra pendengaran, namun bukan berarti saat mendengar seseorang sudah dikatakan sedang menyimak. Sesungguhnya proses menyimak tidak sekadar mendengar, tetapi lebih dari itu, yaitu mendengar dengan memusatkan perhatian kepada objek yang disimak. Proses menyimak merupakan kegiatan mendengarkan yang disengaja dalam rangka mencapai maksud-maksud tertentu. Maksud-maksud tersebut misalnya, untuk tujuan belajar, mengapresiasi sebuah karya, mendapatkan informasi khusus, memecahkan masalah, atau untuk memahami aspekaspek sebuah bahasa. Kegiatan menyimak yang bertujuan untuk mempelajari aspek-aspek bahasa meliputi hal-hal berikut.
a. Pengenalan dan pemahaman tentang unsur-unsur bunyi dan hal yang membentuknya seperti alat ucap yang disebut dengan ilmu fonetik dan fonemik.
b. Proses pembentukan kata, frasa, klausa, kalimat, dan unsur-unsur kalimat.
c. Pembagian kosakata dan hal yang menyangkut makna.
d. Makna kata berdasarkan situasi dan konteks pemakaiannya.
e. Makna budaya yang tercakup dan tersirat dalam suatu pesan, dan sebagainya.
B. Pemahaman terhadap Lafal, Tekanan, Intonasi, dan Jeda

Unsur bahasa yang terkecil berupa lambang bunyi ujaran disebut fonem. Ilmu yang mempelajari fonem disebut fonologi atau fonemik. Fonem dihasilkan oleh alat ucap manusia yang dikenal dengan artikulasi. Dalam bentuk tertulisnya disebut huruf. Lambang-lambang ujaran ini di dalam bahasa Indonesia terbagi dua, yaitu vokal dan konsonan. Cara mengucapkan lambang-lambang bunyi ini disebut dengan lafal. Jadi lafal adalah cara seseorang atau sekelompok penutur bahasa dalam mengucapkan lambanglambang bunyi yang dihasilkan oleh alat ucapnya.
Fonem vokal di dalam bahasa Indonesia secara umum dilafalkan menjadi delapan bunyi ujaran walaupun penulisannya hanya lima ( a, i , u, e, o ).
Misalnya, fonem / a / dilafalkan [ a ]. fonem / i / dilafalkan [ i ], fonem / u / dilafalkan [u ], fonem / e / dilafalkan tiga bunyi yaitu: [ e ] , [ . ] atau e lemah, dan [ε], atau e lebar.
Contoh pemakaian katanya;
lafal [ e ] pada kata < sate > lafal [. ] pada kata < p.san > lafal [ε ] pada kata < n ε n ε k >
fonem / o / terdiri atas lafal [ o ] biasa dan lafal [ ] atau o bundar. Contoh pemakaian katanya: lafal [ o ] pada kata [ orang ] lafal [ ] pada kata [ p h n ], saat mengucapkannya bibir lebih maju dan bundar. Variasi lafal fonerm / e / dan / o / ini memang tak begitu dirasakan, cenderung tersamar karena pengucapannya tidak mengubah arti kecuali pada kata-kata tertentu yang termasuk jenis homonim.
Tidak ada pedoman khusus yang mengatur ucapan atau lafal ini seperti bagaimana diaturnya sistem tata tulis atau ejaan dalam Pedoman Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) yang harus dipatuhi setiap pemakai bahasa tulis bahasa Indonesia sebagai ukuran bakunya. Lafal sering dipengaruhi oleh bahasa daerah mengingat pemakai bahasa Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa yang memiliki bahasa daerahnya masing-masing. Bahasa daerah ini merupakan bahasa Ibu yang sulit untuk dihilangkan sehingga saat menggunakan bahasa Indonesia sering dalam pengucapan diwarnai oleh unsur bahasa daerahnya. Contoh: kata diucapkan oleh orang Betawi menjadi ,

diucapkan .
Pada bahasa Tapanuli (Batak), pengucapan e umumnya menjadi ε, seperti kata menjadi , atau pada bahasa daerah Bali dan Aceh pengucapan huruf t dan d terasa kental sekali, misalnya ucapan kata teman seperti terdengar deman, di Jawa khusunya daerah Jawa Tengah pengucapan huruf b sering diiringi dengan bunyi /m / misalnya, menjadi [mBali], menjadi {mbesok} dan sebagainya.
Selain itu pelafalan kata juga dipengaruhi oleh bahasa sehari-hari yang tidak baku. Perhatikan contoh di bawah ini.
telur -------- telor, kursi -------- korsi, . lubang -------- lobang, kantung ------ - kant ng, senin -------- s.nεn, rabu -------- reb,
kamis -------- kemis, kerbau -------- kebo, dan lain sebagainya.
Menurut EYD, huruf vokal dan konsonan didaftarkan dalam urutan abjad, dari a sampai z dengan lafal atau pengucapannya. Secara umum setiap pelajar dapat melafalkan abjad dengan benar, namun ada pelafalan beberapa huruf yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena sering dipengaruhi oleh lafal bahasa asing atau bahasa Inggris. Contoh: --
huruf c dilafalkan ce bukan se, -- huruf g dilafalkan ge bukan ji, --
huruf q dilafalkan ki bukan kyu, -- huruf v dilafalkan fe bukan fi,
huruf x dilafalkan eks bukan ek, -- huruf y dilafalkan ye bukan ey,
Jadi :
Pengucapan MTQ adalah [em te ki] bukan [em te kyu], Pengucapan TV adalah [te fe] bukan [ti fi], Pengucapan exit adalah [eksit] bukan [ekit]
Dalam bahasa Indonesia ada gabungan vokal yang diikuti oleh bunyi konsonan w atau y yang disebut dengan diftong. Contoh:
1. Gabungan vokal /ai/ menimbulkan bunyi konsonan luncuran [ay] pada kata: - sungai menjadi sungay, - gulai menjadi gulay, - pantai menjadi pantay,
2. Gabungan vokal /au/ menimbulkan bunyi konsonan luncuran [aw] pada kata: harimau menjadi harimaw, limau menjadi limaw, - kalau menjadi kalaw,
3. Gabungan vokal / oi / menimbulkan bunyi konsonan luncuran [oy] pada kata: - koboi menjadi koboy, - amboi menjadi amboy, - sepoi menjadi sepoy Tetapi, ada kata-kata yang menggunakan unsur gabungan tersebut di atas tetap dibaca sesuai lafal kedua vokalnya. Contoh:
- dinamai tetap dibaca [dinamai], - bermain tetap dibaca [bermain],
- mau tetap dibaca [mau], - daun tetap dibaca [daun],
- koin tetap dibaca [koin], - heroin tetap dibaca [heroin],
Ada juga dalam tata bahasa Indonesia, gabungan konsonan yang dilafalkan dengan satu bunyi, seperti fonem /kh/, / sy/, ny/, /ng/ dan /nk/. Meskipun ditulis dengan dua huruf, tetapi dilafalkan satu bunyi, contoh: khusus , syarat, nyanyi, hangus, bank. Lafal dan fonem merupakan unsur segmental di dalam bahasa Indonesia. Selain unsur ini, ada pula unsur lain yang fungsinya berkaitan dengan unsur suprasegmental, yaitu tekanan, intonasi, dan jeda.
Tekanan adalah gejala yang ditimbulkan akibat adanya pengkhususan dalam pelafalan sebuah suku kata atau kata. Tekanan adalah bentuk tinggi rendahnya, panjang pendeknya, atau keras lembutnya suara atau pengucapan. Biasanya kata yang mengalami tekanan tertentu adalah kata yang dipentingkan. Tekanan dalam bahasa Indonesia tidak mengubah makna seperti pada bahasa Batak Toba /bóntar/ artinya putih, dan /bentár/ artinya darah. Tekanan hanya menunjukkan sesuatu kata atau frasa yang ditonjolkan atau dipentingkan agar mendapat pemahaman secara khusus bagi pendengar. Tekanan tertentu pada sebuah kata atau frasa menguatkan maksud pembicara.
Biasanya tekanan didukung oleh ekspresi atau mimik wajah sebagai bagian dari ciri bahasa lisan. Contoh penggunaan pola tekanan:
1. Adi membeli novel di toko buku. (yang membeli novel Adi, bukan orang lain),
2. Adi membeli novel di toko buku. (Adi membeli novel, bukan membaca),
3. Adi membeli novel di toko buku. (yang dibeli Adi novel bukan alat tulis),
4. Adi membeli novel di toko buku. (Adi membeli novel di toko buku bukan di pasar).
Ciri suprasegmental lainnya adalah intonasi. Intonasi ialah tinggi rendahnya nada dalam pelafalan kalimat. Intonasi lazim dinyatakan dengan angka (1,2,3,4). Angka 1 melambangkan titinada paling rendah, sedangkan angka 4 melambangkan titinada paling tinggi. Penggunaan intonasi menandakan suasana hati penuturnya. Dalam keadaan marah seseorang sering menyatakan sesuatu dengan intonasi menaik dan meninggi, sedangkan suasana sedih cenderung berintonasi menurun. Intonasi juga dapat menandakan ciri-ciri sebuah kalimat. Kalimat yang diucapkan dengan intonasi akhir menurun biasanya bersifat pernyataan, sedangkan yang diakhiri dengan intonasi menaik umumnya berupa kalimat tanya.
Contoh:- Mereka sudah pergi.- Mereka sudah pergi? Kapan?
Berbicara tentang intonasi berarti berbicara juga tentang jeda. Jeda adalah penghentian atau kesenyapan. Jeda juga berhubungan dengan intonasi, penggunaan intonasi yang baik dapat ditentukan pula oleh penjedaan kalimat yang tepat. Untuk kalimat panjang penempatan jeda dalam pengucapan menentukan ketersampaian pesan. Dengan jeda yang tepat pendengar dapat memahami pokok-pokok isi kalimat yang diungkapkan. Penggunaan jeda yang tidak baik membuat kalimat terasa janggal dan tidak dapat dipahami. Dalam bahasa lisan, jeda ditandai dengan kesenyapan. Pada bahasa tulis jeda ditandai dengan spasi atau dilambangkan dengan garis miring [/], tanda koma [,], tanda titik koma [;], tanda titik dua [:], tanda hubung [-], atau tanda pisah [--]. Jeda juga dapat memengaruhi pengertian atau makna kalimat.
Perhatikan contoh di bawah ini.
Menurut pemeriksaan dokter Joko Susanto memang sakit
Kalimat ini dapat mengandung pengertian yang berbeda jika jedanya berubah. Misalnya, a. Menurut pemeriksaan / dokter Joko Susanto / memang sakit. (yang sakit dokter Joko Susanto), b. Menurut pemeriksaan dokter / Joko Susanto / memang sakit. (yang memeriksa dokter dan yang sakit ialah Joko Susanto), c. Menurut pemeriksaan dokter Joko/ Susanto/ memang sakit. (yang memeriksa bernama dokter Joko, yang sakit Susanto).

C. Ciri Bahasa Indonesia Baku

Bahasa baku adalah bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku. Pedoman yang digunakan adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), Pedoman Pembentukan Istilah, dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Bahasa yang tidak mengikuti kaidahkaidah bahasa Indonesia disebut bahasa tidak baku. Fungsi bahasa baku ialah sebagai pemersatu, pemberi kekhasan, pembawa kewibawaan, dan kerangka acuan.
Ciri-ciri ragam bahasa baku, yaitu, sebagai berikut.
1. Digunakan dalam situasi formal, wacana teknis, dan forum-forum resmi seperti seminar atau rapat.,
2. Memiliki kemantapan dinamis artinya kaidah dan aturannya tetap dan tidak dapat berubah,
3. Bersifat kecendekiaan, artinya wujud dalam kalimat, paragraf, dan satuan bahasa yang lain mengungkapkan penalaran yang teratur,
4. Memiliki keseragaman kaidah, artinya kebakuan bahasa bukan penyamaan ragam bahasa, melainkan kesamaan kaidah,
5. Dari segi pelafalan, tidak memperlihatkan unsur kedaerahan atau asing


Rangkuman Materi Bahasa IndonesiaSMK (Kelas X.1.4)

MEMAHAMI INFORMASI TERTULIS UNTUK BERBAGAI BENTUK TEKS(BAB 4)
A. Mengindentifikasi Sumber Informasi dengan Teknik Membaca Cepat
Pada Bab 2, telah dibahas macam-macam sumber informasi. Sumber informasi terdiri atas sumber informasi yang berbentuk media cetak, media elektronik, dan langsung dari narasumber. Sumber informasi yang berbentuk media cetak, contohnya buku-buku, koran, majalah, tabloid, arsip, surat, dokumen, dan lain-lain. Media elektronik seperti radio, televisi, kaset VCD atau DVD ilmu pengetahuan, dan lain-lain. Sumber informasi dari narasumber, misalnya hasil wawancara, pidato, diskusi, seminar, dan lain sebagainya. Sumber informasi dari media cetak ataupun media elektronik merupakan sumber yang tidak langsung sebab kita tidak berhubungan langsung dengan narasumbernya. Untuk menjadikan sebuah informasi yang berasal dari media cetak atau elektronik yang berbentuk tulisan, kita harus mengatahui atau mengindentifikasi sumber informasi tersebut. Apa, siapa, kapan informasi tersebut dibuat atau ditulis. Jika berbentuk uraian peristiwa, dari mana dan kapan peristiwa itu terjadi. Setidaknya saat kita membaca sebuah teks tertulis, kita tahu indentitas sumber bacaan yang kita baca atau ketika kita menguraikan sebuah informasi yang kita peroleh, kita dapat menjelaskan dari mana dan oleh siapa kita dapatkan informasi tersebut. Khusus untuk teks tertulis, seseorang dapat mencari atau mengindentifikasi sumber tertulis tersebut dengan cara membaca memindai (scanning). Bila berbentuk buku, yang perlu kita ketahui adalah apa judul buku, siapa pengarangnya, siapa penerbitnya, kapan diterbitkan, di mana diterbitkan, dan cetakan ke berapa. Biasanya hal-hal yang berkaitan dengan indentitas buku dituliskan di halaman muka setelah judul. Anda dapat mencarinya di halaman tersebut. Contoh: Bila berbentuk teks berita di koran, Anda dapat mengetahuinya di halaman muka. Di tempat itu terdapat penjelasan tentang nama koran, hari dan tanggal kapan dicetak atau diedarkan, tapi jika yang Anda dapatkan hanya sepotong berita atau bagian koran yang tidak utuh, Anda dapat mencarinya pada uraian hasil liputan beritanya. Dalam uraian berita di koran, penyampai berita akan menulis kapan peristiwa tersebut diliput atau terjadi, misalnya tertulis (17/6), maksudnya peristiwa itu terjadi tanggal 17 bulan Juni. Biasanya peliputan dengan penyajian berita di koran hanya selisih satu hari. Apabila berita tersebut diliput tanggal 17 berarti koran yang Anda baca tertanggal hari berikutnya yaitu, 18 Juni dengan tahun yang sama. Selanjutnya keterangan tentang penulis atau penyusun berita pada surat kabar ternama sering dicantumkan di bagian akhir uraian berita ditulis di dalam kurung berupa singkatan nama atau nama pendek penulisnya. Contoh sumber informasi dari koran: Informasi yang berasal dari uraian berbentuk artikel yang terdapat di ruang khusus atau rubrik pada sebuah majalah, indentitas sumbernya dapat dicari di bagian bawah atau atas halaman. Biasanya tertera nama majalah, tanggal, bulan, dan tahun dicetak atau diterbitkan bahkan tertulis pula edisinya. Contoh: Untuk informasi dari internet, sumbernya biasanya dalam bentuk alamat web (jaringan) seperti : www.Google.com.,www. Yahoo.com. dan lain-lain tertulis dalam komputer http ://www.google.com, http ://www. yahoo.com. www.smk-dki.com, dan lain sebagainya. Pada alamat web tersebut, kalian dapat menjelajah situs-situs atau ruang informasi yang terdapat di dalamnya. Contoh somber informasi internet : B. Mengindentifikasi Jenis Teks Tertulis Sebagai penulis, seseorang dapat mengembangkan ide, gagasan, konsep, maupun fakta dengan berbagai cara. Dapat berupa nceritaan atau pengisahan, pemaparan, bahkan bersifat memengaruhi pembaca. Semua jenis uraian tersebut bergantung pada cara memperoleh data dan tujuan penulisan. Sebuah tulisan dapat berbentuk laporan perjalanan, hasil pengamatan, sebuah tips melakukan sesuatu, tajuk rencana, dan bentuk promosi iklan, dan sebagainya. Secara umum, bentuk tulisan atau karangan terbagi menjadi lima jenis, yaitu: narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi. Kita dapat mengindentifikasi jenis tulisan dengan membaca cepat serta memahami ciri tulisan masing-masing jenis. Tulisan berjenis narasi adalah tulisan yang berupa rangkaian peristiwa yang berlangsung pada waktu tertentu. Dari segi sifatnya, narasi terdiri atas narasi ekspositoris, narasi imajinatif, atau sugestif. Narasi ekspositoris contohnya: laporan perjalanan, kisah biografi, atau autobiografi. Narasi imajinatif contohnya: cerpen, novel, atau cerita bersambung. Tulisan berjenis deskripsi ialah tulisan yang berisi gambaran suatu objek sebagai hasil pengamatan penulisnya dan dijelaskan secara objektif agar pembaca dapat merasakan citraan terhadap objek sebagaimana penulisnya. Contoh karangan deskripsi, yaitu deskripsi tempat, deskripsi orang, dan deskripsi suasana. Tulisan berjenis eksposisi ialah tulisan atau karangan yang memaparkan serta menjelaskan tentang suatu hal. Tujuannya agar pembaca bertambah wawasan dan pengetahuan. Contoh tulisan eksposisi, yaitu tulisan tentang cara merawat wajah, langkah-langkah membaca efektif, dan lain sebagainya. Tulisan berjenis argumentasi ialah tulisan atau karangan yang berisi pendapat pengarang mengenai suatu hal dengan disertai berbagai alasan serta bukti-bukti pendukung yang masuk akal. Tulisan argumentasi bertujuan memengaruhi atau meyakinkan pembaca terhadap apa yang menjadi pendirian atau pendapat pengarang. Contoh jenis karangan argumentasi ialah tajuk rencana, artikel, karangan ilmiah, dan sebagainya. Tulisan berjenis persuasi ialah tulisan atau karangan yang mengutarakan pendapat disertai bukti-bukti yang kuat dengan tujuan mengajak, membujuk, menghimbau, atau memengaruhi pembaca agar melakukan tindakan sesuai dengan yang diharapkan penulis. Jenis karangan persuasif dapat dilihat pada tulisan yang bersifat propaganda, iklan, dan sebagainya

B.Teknik Membuat Catatan

Pada saat membaca, banyak hal yang kemudian diketahui pembaca dari bacaan yang dibacanya. Hal yang diketahui tersebut dapat bersifat tidak penting dapat juga penting. Informasi penting yang didapatkan dari sebuah bacaan tentu sayang jika dilewatkan begitu saja, apalagi hal tersebut berguna bagi pembaca di saat sekarang atau masa akan datang atau dalam rangka membuat tulisan lain. Jika sulit untuk diingat, jalan satu-satunya harus dicatat. Mencatat informasi dari sebuah sumber atau bacaan gunanya adalah: (1). mendokumentasikan hal-hal penting yang bermanfaat suatu saat, (2). mengumpulkan informasi untuk bahan penulisan, (3).memudahkan mengingat kembali, dan (4).sebagai bahan kutipan dalam karangan ilmiah. Hal-hal yang perlu dicatat dan dijadikan bahan catatan, yaitu sebagai berikut : (1).Id e pokok atau gagasan sentral setiap paragraf. (2). informasi penting dan menarik untuk diketahui atau diingat. (3). kata/frasa/kalimat yang merupakan kata kunci yang bermakna luas atau dalam, misalnya kata-kata nasihat, moto kehidupan, dan lain sebagainya. (4). pendapat atau asumsi mengenai sesuatu. (5). detail atau fakta-fakta hasil survei atau penelitian ilmiah. (6). pemikiran, cara, atau metode baru serta tanggapan atau jalan keluar sebuah persoalan. Dalam catatan, jangan lupa mencantumkan indentitas sumber informasi atau bahan bacaan tempat didapatkannya hal-hal yang dicatat. Catatan tentang sumber dapat berbentuk catatan kaki atau catatan perut. Hal-hal yang dicatat pada catatan kaki, yaitu: nama penulis atau pengarang (tidak dibalik), judul buku, tempat diterbitkan, dan nama penerbit serta tahun terbitan ditulis di dalam kurung, kemudian sertakan nomor halaman tempat informasi yang dicatat berada. Dalam karangan ilmiah catatan kaki ditulis pada bagian bawah halaman, diberi ruangan khusus. Catatan kaki memberi keterangan sebuah kutipan pada karangan ilmiah. Contoh penulisan catatan kaki:Abdul Chaer, Pengantar Semantik Bahasa Indonesia (Jakarta: Rineka Cipta, 2002). hlm. 37.
Catatan dapat berbentuk catatan perut jika sumber informasi yang harus ditulis cukup banyak. Catatan perut lebih singkat, hanya berisi keterangan nama pengarang (biasanya diambil nama belakangnya), diambil nama depan kemudian tahun terbit dan halaman. Namun pencatat harus dapat memahami sumber lengkap dari catatan perut yang ditulis. Sesuai namanya, catatan perut ditulis setelah sebuah pendapat dikutip. Tidak ada ruangan khusus seperti catatan kaki. Contoh penulisan catatan perut: - -------------------------------------------------(Chaer, 2002: 37)Bagaimana cara mencatat hal-hal atau informasi yang penting? Banyak orang yang tak mau repot membuat catatan khusus bagi hal yang dianggap perlu dicatat saat membaca sumber informasi. Seseorang mungkin dapat dengan rela mencatatnya di dalam buku bacaan tersebut, memberi tanda khusus, menggarisbawahi atau menstabilo. Namun, di samping akan membuat buku kurang bersih, juga tak semua buku dapat dicoret karena bukan milik sendiri, misalnya. Ada cara yang aman dan dianjurkan untuk membuat catatan terhadap informasi penting tanpa harus mencoret buku yang bersangkutan, yaitu sebagai berikut. (1). Menyediakan buku khusus untuk catatan. (2). Menyediakan lembaran file untuk mencatat yang akan dijadikan satu dalam map file. (3). Membuat kartu catatan (note card) dengan ukuran 10 x 15 cm. Segala hal yang ingin dicatat, akan ditulis pada lembaran kartu tersebut. Penggunaan kartu sering dilakukan oleh mahasiswa dan kalangan peneliti. Contoh kartu catatan: Kelebihan sistem kartu, yaitu: (1). mudah diatur berdasarkan kelompok masalah atau tema, (2)mudah menambahkan gagasan baru atau informasi baru, (3). satu kartu berisi satu topik atau gagasan, (4)dapat dibuat variasi warna kartu, misalnya untuk topik hukum warna ungu; ekonomi, warna kuning; sastra, arna biru. Kekurangannya adalah mudah tercecer atau tercampur baur jika tidak rapi menyimpan atau mengelolanya. Namun, hal itu dapat diatasi dengan menyediakan map atau kotak penyimpanan khusus sesuai dengan kategori atau kelompok warna tertentu.

D. Ciri Penanda Masalah, Gaya Tulisan, Fakta, Opini, Proses, dan Hasil yang Terdapat dalam Teks

Teknik dan cara membuat catatan juga dapat dipergunakan untuk menelaah sebuah teks yang di dalamnya terdapat uraian tentang suatu permasalahan. Uraian ini didukung oleh berbagai fakta dan opini serta penggambaran mengenai proses dan hasil yang diperoleh. Wacana atau teks seperti ini tentu sering dijumpai pada wacana berita. Wacana berita yang ada di dalam media cetak surat kabar atau majalah, acap memberi penjelasan tentang adanya masalah baik yang terjadi di sekitar masyarakat maupun pada tataran dunia. Berita tak dibuat jika tak ada masalah yang perlu diberitakan. 1. Gaya Bahasa Anda pun tahu bagaimana koran menguraikan sebuah berita, pasti berbeda gaya tulisannya dengan tulisan tentang hukum, agama, ilmu pengetahuan alam, dan sebagainya. Masing-masing punya ragam bahasanya yang disebut laras bahasa. Laras bahasa koran bersifat lugas, apa adanya, dan kadang memakai kata-kata yang tak lengkap, seperti ada pengurangan pada imbuhan tertentu untuk sebuah bentukan kata. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan menghemat ruangan pada kolom berita di koran. Dalam uraian berita, juga terdapat penjelasan tentang proses melakukan sesuatu dan hasilnya. Misalnya, pada operasi razia barang bajakan yang dilakukan oleh polisi disebutkan bagaimana operasi berlangsung dan hasilnya. Juga pada berita kriminal mengenai operasi penggerebekan markas penjahat dan akan disebutkan hasilnya. Uraian proses biasanya ditandai oleh adanya tahapan waktu yang menunjukkan keberlangsungan kegiatan. Proses waktu ini ditandai dengan penggunaan kata hubung waktu, misalnya kemudian, lalu, setelah itu, atau selanjutnya. Untuk bentukan katanya menggunakan imbuhan pe—an, seperti penantian, penyerbuan, pengamatan. Penjelasan mengenai hasil biasanya ditunjukkan oleh kalimat yang menggunakan kata berakhiran -an, misalnya rampokan, sitaan, bajakan, serbuan. Berikut ini contoh wacana berita dan perinciannya: Gubuk Kali Opak Bakal Dibongkar Ratusan gubuk di bantaran Kali Jelakeng dan Opak, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, segera ditertibkan. Penertiban dilakukan selambatlambatnya Oktober mendatang. Bangunan pedagang di bantaran kali tersebut dinilai melanggar Perda No. 11/1988 tentang Ketertiban Umum di wilayah Provinsi DKI Jakarta. Selain itu, penertiban ini juga untuk mendukung program revitalisasi kota tua. “Keberadaan bangunan itu mengganggu keindahan dan kelancaran lalu lintas serta kenyamanan pejalan kaki,“ kata Kepala Sudin Tramtib dan Linmas Jakbar, Abidin Mustofa. Untuk itu ujar Abidin, pihaknya memberikan waktu sekitar lima bulan kepada pedagang untuk mempersiapkan kepindahannya ke beberapa pasar seperti Pasar Slipi (147 kios), Pasar Glodok (144 kios), dan Pasar Pagi ( 288 kios). Jika sampai batas waktu tidak dipenuhi, Pemkot akan melakukan penertiban paksa. “Sebelum ditertibkan, para pedagang terlebih dahulu diberikan peringatan sesuai prosedur yang berlaku saat ini. Setelah itu baru dibongkar,“ ucapnya. (Sumber: Nonstop, 18 Mei 2007) 2. Penanda Masalah

Masalah yang diungkapkan dalam berita tersebut adalah sebagai berikut (1). Banyaknya bangunan atau gubuk di sepanjang bantaran kali Jelakeng dan Opak, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. (2). Ratusan bangunan di bantaran kali akan ditertibkan oleh Pemkot setempat selambatnya bulan Oktober. (3). Ratusan bangunan itu dinilai melanggar Perda No. 11/1988 tentang ketertiban Umum di wilayah Provinsi DKI Jakarta. 3. Fakta dan Opini Fakta yang terdapat dalam wacana berita di atas adalah sebagai berikut.(1). Terdapat ratusan gubuk pedagang di Bantaran Kali Jelakeng dan Opak, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.(2). Pemkot memberikan waktu sekitar lima bulan kepada pedagang untuk pindah ke beberapa pasar seperti Pasar Slipi ( 147 kios), Pasar Glodok (144 kios), dan Pasar Pagi (288 kios).(3). Pemkot memberikan peringatan kepada pemilik bangunan sebelum ditertibkan.Opini yang terdapat dalam wacana berita di atas ialah sebagai berikut.(1). Keberadaan bangunan itu dinilai melanggar Perda tentang Ketertiban Umum di wilayah Provinsi DKI Jakarta.(2). Keberadaan bangunan di bantaran Kali Jelakeng dan Opak dianggap mengganggu keindahan dan kelancaran lalu lintas serta kenyamanan pejalan kaki. 4. Kalimat yang Menyatakan Proses dan Hasil Kalimat proses pada wacana berita di atas adalah Penertiban dilakukan selambat-lambatnya Oktober mendatang. Penertiban artinya proses menertibkan. Kalimat yang menyatakan hasil pada wacana berita di atas adalah Bangunan pedagang di bantaran kali tersebut dinilai melanggar Perda. Bangunan artinya hasil membangun.


E. Membaca Grafik, Tabel, dan Bentuk Informasi Nonverbal Lainnya
Banyaknya bentuk visual seperti grafik, tabel, bagan, dan sejenisnya yang memenuhi ruang atau kolom tulisan baik di koran maupun rubrik-rubrik artikel membuat hidup uraian atau penjelasan. Jika dahulu model gambar atau bentuk nonverbal hanya digunakan untuk uraian bertema ekonomi, statistik, dan kependudukan, sekarang bentuk-bentuk nonverbal tersebut dianggap merupakan sarana yang lebih efektif dalam mengungkapkan fakta-fakta dan lebih menarik dari sekadar kata-kata. Penggunaan bentuk nonverbal dalam berbagai karangan seperti laporan jurnalisme, makalah, teks untuk persentase, artikel surat kabar, ulasan hukum, ekonomi, sosial, selebaran promosi, atau iklan menuntut para pembaca untuk lebih terampil membaca bentuk-bentuk nonverbal tersebut. Grafik, tabel, bagan, matriks, dan sejenisnya harus dapat dibaca dengan cara pemindaian (scanning) karena berisi pola-pola atau lambang-lambang berupa garis, titik, kolom , sel, substitusi, dan sebagainya yang menandakan suatu perkembangan atau penurunan, jumlah data-data hasil dan lain-lain yang perlu pengamatan yang cermat. Pada saat membaca gambar-gambar tersebut, pembaca minimal harus mendapatkan pengertian secara umum dari tampilan visual tersebut. Jika sudah mengetahui gambaran umumnya, akan mudah memahami maksud rinciannya. Berikut langkah-langkah membaca grafik, tabel, diagram, peta, dan sebagainya. 1. Bacalah judulnya. Langkah pertama ini merupakan langkah penting, resapkan isi judul grafik, tabel, diagram, atau peta yang dihadapi karena judul ini memberikan ringkasan yang padat tentang informasi yang akan disampaikan. 2. Bacalah informasi yang ada di atas, di bawah, atau di sisinya. Informasi yang ada merupakan kunci penjelasan tentang materi yang disajikan. Informasi tersebut dapat berupa urutan tahun, persentase, dan angka-angka. 3. Ajukan pertanyaan tentang tujuan grafik, peta, tabel, atau digram tersebut. Anda dapat mengetahui tujuan itu dengan mengubah judulnya menjadi pertanyaan: di mana, seberapa banyak, bagaimana terjadi dan jawabannya ada pada grafik, tabel, diagram, dan peta tersebut. 4. Bacalah grafik, tabel, diagram, atau peta itu. Sementara membacanya secara menyeluruh, tetaplah ingat akan maksud dan tujuannya, dan dapatkan keterangannya dalam informasi yang disajikan di sana. 1. Contoh Grafik 2.Contoh Tabel 6). Contoh Informasi Nonverbal dari Teks Verbal Setiap bulannya jumlah tagihan rekening listrik untuk PT PLN. Wilayah Sumut rata-rata mencapai Rp. 250 Miliar. Dari 2,3 Juta pelanggan PLN Wilayah Sumut, sebanyak 94,03% merupakan pelanggan rumah tangga, 3,43%, pelanggan bisnis, 1,7% sosial, 0,61% pemerintah, dan 0,16% pelanggan industri. Informasi nonverbalnya sebagai berikut. F. Membuat Simpulan Simpulan adalah uraian padat yang berisi intisari atau saripati dari informasi sumbernya. Simpulan dapat berisi penafsiran atau penilaian dari pembuat simpulan. Kesimpulan dapat diuraikan secara deduktif yaitu penjelasan dari hal umum ke hal khusus, atau secara induktif yaitu dari hal khusus ke hal bersifat umum. Simpulan harus singkat, padat, dan lugas. Contoh simpulan deduktif: Penggunaan internet di kalangan remaja mempunyai dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah berbagai informasi yang sifatnya memperluas wawasan, dapat diakses para remaja di luar jam sekolah. Dampak negatifnya adalah informasi tentang pornografi, kekerasan, rasialisme, perjudian, serta berita-berita menyesatkan sangat mudah diakses oleh mereka. TUGAS KELOMPOK: Bentuklah kelompok yang terdiri atas 4 orang. Kerjakanlah tugas berikut. 1. Bacalah wacana di halaman awal bab, identifikasilah: a. umber informasinya d. fakta dan opini b. agasan pokok berita e. proses dan hasil c. permasalahan f. simpulan isi wacana 2. Buatlah tabel, grafik, atau diagram (pilih yang cocok) dari data di bawah ini! “Sarana pendidikan di DKI pada tahun 2000, terdapat 1.588 pendidikan prasekolah, 3.145 Sekolah Dasar (2.380 SDN dan 765 SD swasta), terdapat 1.017 SLTP (283 negeri dan 734 swasta), dan untuk tingkat SMU terdapat 114 SMU negeri dan 359 SMU swasta, serta ada 41 universitas swasta, dan universitas negeri hanya UI dan UNJ. Sarana kesehatan, banyaknya rumah sakit di DKI Jakarta berjumlah 102 buah, yang terdiri atas 67 RSU dan 35 RS khusus, dan dari jumlah RS. Tersebut 75 RS di kelola oleh swasta dan 27 buah RS
pemerintah termasuk RS. Polri.

Rangkuman Materi Bahasa Indonesia SMK (Kelas X.1.6)

MEMILIH KATA, BENTUK KATA DAN UNGKAPAN YANG TREPAT(BAB VI)

A. Pilihan Kata dan Bentukan Kata dalam Konteks atau Topik Pembicaraan
Sering terjadi seseorang sulit menguraikan suatu peristiwa dalam pembicaraan atau tak dapat menyampaikan gagasan melalui kata-kata serta kalimat yang tepat sehingga terjadi penjelasan yang berbelit-belit, panjang lebar, dan kurang terarah. Hal ini menyebabkan pendengar sulit memahami maksud yang disampaikan oleh pembicara dan dapat terjadi salah pengertian. Untuk menyampaikan maksud pembicaraan, seseorang akan berupaya menggunakan berbagai kata atau ungkapan yang dapat mewakili makna atau konsep yang ingin diutarakan. Setidaknya ia memahami dan menguasai berbagai istilah kata yang berkaitan dengan topik yang akan disampaikan. Namun, seseorang belum tentu dapat dengan baik mengutarakan atau menjelaskan apa yang sudah dipahami tersebut lewat kata-kata atau kalimat yang tepat dan efektif. Ketidakefektifan seseorang dalam menyampaika sesuatu dapat disebabkan kurang menguasai kosakata, bentukan kata, atau ungkapan kata yang sesuai dengan topik, gagasan atau maksud yang ingin diungkapkan. Keluhan seperti saya agak susah mengatakannya atau ngomongnya gimana, ya? akan ternyatakan bila seseorang tidak menguasai kosakata bidang atau persoalan yang ingin diungkapkan. Kondisi ini dapat terjadi baik dalam penggunaan bahasa tulis maupun bahasa lisan (berbicara), misalnya seseorang tak dapat menjelaskan dengan baik persoalan tentang transportasi udara jika ia tak menguasai istilah, kata-kata atau ungkapan yang berhubungan dengan masalah itu. Saat membicarakan telepon seluler atau nirkabel, istilah pulsa, voucher, berbagai merek HP, isi ulang, kartu perdana dan sebagainya kerap diucapkan. Ketika berbicara tentang rumah sakit, istilah paviliun, kamar, rontgen, infus, fasilitas perawatan, nama penyakit, nama obat, dan sebagainya akan sering terdengar. Atau, orang tidak dapat terlibat pembicaraan orang lain tentang sesuatu yang ia tidak paham betul topik yang sedang dibahas serta tak menguasai kata-kata atau istilah yang berhubungan dengan hal yang dibicarakan. Di bawah ini, contoh lain beberapa kata atau istilah serta ungkapan yang saling berkaitan dalam satu topik atau pokok pembicaraan. 1. Kereta api : lokomotif, stasiun, kereta ekspres, kelas ekonomi, gerbong, abudemen, rel, langsam, dan sebagainya. 2. Sepak bola : kesebelasan, liga, galatama, copa Amerika, FIFA, striker, pinalti, kiper, hatrik, dan sebagainya. 3. Film : jam tayang, durasi, aktor, aktris, judul, sinetron, layar lebar, piala citra, top rating, dan sebagainya. 4. Musik : group band, konser, musisi, lagu, fans, vokalis, lagu favorit, request, platinum, dan sebagainya. 5. Internet : chating, e-mail, website, browser, situs, home page, neter, dan sebagainya. Pemilihan bentukan kata juga menentukan proses penyampaian maksud. Banyak kata atau bentukan kata yang secara umum memiliki kesamaan arti, tapi sesungguhnya mengandung pengertian khusus yang berbeda. Pilihan dan penggunaan bentukan kata yang tepat menjadikan kalimat lebih cermat dan terarah sehingga terhindar dari salah pengertian, misalnya kata membawa memiliki kata–kata sepadan yang secara khusus maknanya berbeda, yaitu memanggul, menggendong, dan menjinjing. Masing–masing kata ini mempunyai makna dan ciri khusus yang membedakan satu sama lain. Meskipun sama–sama membawa, pengertian memanggul ialah membawa dengan meletakkan barang bawaan di bahu, menggendong ialah membawa dengan kedua tangan sejajar dengan dada, menjinjing ialah membawa dengan tangan menggenggam barang bawaan seperti tas. Contoh dalam kalimat : Ia terpaksa memanggul karung beras itu sampai ke rumah. Guru BP menggendong siswa yang pingsan itu ke ruang UKS. Ibu itu menjinjing belanjaannya yang berisi sayuran. Seseorang dapat memanfaatkan kata bersinonim tersebut untuk lebih menekankan makna kata kepada pengertian yang lebih khusus agar topik pembicaraan lebih terarah.

B. Memanfaatkan Kata Bersinonim untuk Menghindari Kata yang Sama dalam Kalimat/Paragraf

Penguasaan kosakata yang tidak banyak, dapat menyulitkan seseorang untuk merangkai kalimat untuk menjelaskan sesuatu baik dalam bentuk tulisan maupun lisan. Kalimat yang dibuat dapat berisi banyak kata yang sama dan diulang-ulang. Kalimat menjadi tidak cermat atau kurang efektif atau berkesan mubazir.Mengurangi penggunaan kata yang berlebihan dan berulang-ulang dalam kalimat dapat diatasi dengan pemakaian kata yang bersinonim. Dengan penggunaan kata yang sepadan, kalimat menjadi tidak kaku serta lebih variatif. Contoh: 1a. Jumlah wisatawan kembali meningkat di Bali pasca tertangkapnya para tersangka peledak, bom Bali yang menghebohkan dunia itu. Para wisatawan merasa tak akan ada lagi aksi terorisme di Pulau Bali tersebut.Sebelumnya kunjungan wisatawan di Bali merosot drastis. 1b. Jumlah wisatawan kembali meningkat di Bali pasca tertangkapnya para tersangka peledak, bom Bali yang menghebohkan dunia itu. Para turis asing merasa tak akan ada lagi aksi terorisme di Pulau Dewata tersebut. Sebelumnya kunjungan wisman di Bali merosot drastis. 2a. Polisi tidak mentoleransi adanya aksi unjuk rasa saat pemilihan umum daerah berlangsung, yang pasti akan mengganggu jalan pemilihan umum daerah tersebut. Setiap aksi unjuk rasa akan ditindak tegas oleh polisi, siapa pun dan dari mana pun unjuk rasa itu berasal. 2b. Aparat keamanan tidak mentolerasi adanya demonstrasi saat pemilihan umum daerah berlangsung yang pasti akan mengganggu jalannya pesta demokrasi tersebut. Setiap aksi demontrasi akan ditindak tegas oleh polisi, siapapun dan dari manapun aksi massa itu berasal.

Free Download MP3

ANDA BELUM BERUNTUNG =)

C. Makna Leksikal, Kontekstual, Struktural, dan Makna Metaforis

Pilihan kata juga berkaitan dengan pertimbangan menggunakan kata yang memiliki makna-makna tertentu. Sebuah kata tidak serta-merta hanya memiliki satu makna atau pengertian. Tapi, sebuah kata dapat dimaknai secara leksikal, kontekstual, ataupun struktural. Yang dimaksud dengan makna leksikal ialah makna yang sesuai dengan konsep yang digambarkan pada kata tersebut. Makna leksikal disebut juga makna yang sesuai dengan referensial kata tersebut. Contoh kata kerbau adalah binatang mamalia bertanduk yang makanannya rumput atau sejenis sapi, sedangkan makna kontekstual ialah makna yang muncul sesuai dengan konteks kata tersebut dipergunakan. Artinya, makna tersebut muncul sebagai makna tambahan di samping makna sebenarnya berupa kesan-kesan yang ditimbulkan oleh sebab situasi tertentu, misalnya ungkapan dasar kerbau, kerjaannya makan tidur saja tentu yang dimaksud kerbau bukan binatang bertanduk tapi menunjuk pada manusia. Contoh lain ialah kata kursi, secara leksikal maknanya adalah tempat untuk duduk. Kursi pada kalimat banyak kursi yang nilainya puluhan juta saat pemilu, bermakna jabatan yang diperjualbelikan. Selain makna leksikal dan kontekstual, ada makna struktural atau gramatikal. Makna struktural adalah makna yang muncul akibat kata mengalami proses afiksasi atau penambahan imbuhan serta proses reduplikasi dan proses komposisi. Kata terdengar, misalnya pada kalimat suaranya terdengar sampai ke belakang berarti dapat didengar tapi kata terdengar yang memiliki kata dasar sama yaitu dengar, pada kalimat rencana jahatnya terdengar oleh tetangganya berarti tidak sengaja. Demikian pula pada kata buku dengan buku-buku yang mengalami reduplikasi menimbulkan makna jamak yang artinya banyak buku makna yang berbeda juga dapat ditimbulkan oleh akibat komposisi kata. Misalnya, kata sate ayam tidak sama maknanya dengan sate madura yang pertama menunjukkan bahan dan yang kedua menunjukkan tempat. Makna metaforis adalah makna yang ditimbulkan oleh adanya unsur perbandingan di antara dua hal yang memiliki ciri makna yang sama. Contoh kata kaki dengan ungkapan kaki langit, kaki gunung, dan kaki meja. Kaki tetap menunjukkan bagian bawah, namun ungkapan kaki langit bermakna horizon, kaki gunung berarti lembah, dan kaki meja adalah tiangtiang penyanggah meja. Benda yang ditunjukkan berbeda tetapi memiliki kemiripan keberadaan, yaitu di bagian bawah. Demikian pula dengan kata kepala yang membentuk perbandingan kepala kereta, kepala pemerintahan, dan kepala sekolah. Kata jatuh yang membentuk kata-kata jatuh cinta, jatuh miskin, jatuh bangun, jatuh hati, dan sebagainya. Gaya bahasa ini kemudian disebut dengan polisemi. Makna metaforis juga dapat berbentuk ungkapan jika dilihat dari segi ekspresi kebahasaannya, yaitu dalam usaha penutur untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan emosinya dalam bentuk-bentuk satuan bahasa tertentu yang dianggap tepat, seperti ungkapan panggung dunia, bunga desa, bintang kelas, jendela informasi, dan bahtera rumah tangga. . Hanya saja kita harus dapat membedakan makna-makna kata tersebut sehingga dapat menggunakannya secara tepat. Perhatikan tabel berikut.emosinya dalam bentuk-bentuk satuan bahasa tertentu yang dianggap tepat, seperti ungkapan panggung dunia, bunga desa, bintang kelas, jendela informasi, dan bahtera rumah tangga. Beberapa kata di dalam bahasa Indonesia dapat dimaknai secara leksikal, kontekstual, struktural, atau metaforis tergantung pada kebutuhan penggunaannya. Hanya saja kita harus dapat membedakan makna-makna kata tersebut sehingga dapat menggunakannya secara tepat.Perhatikan tabel berikut:

D. Majas dan Pribahasa


1. Majas Gejala memperbandingkan pun terjadi pada bentuk-bentuk majas seperti majas perbandingan. Yang termasuk majas perbandingan ialah: majas perumpamaan, majas metafora, majas personifikasi, majas alegori, dan majas antitesis. 1).Majas perumpamaan, ialah majas perbandingan dua hal yang pada hakekatnya berlainan dan sengaja dianggap sama. Perbandingan ini ditandai oleh pemakaian kata seperti: bagaikan, ibarat, umpama, laksana, dan seperti. a. Larinya cepat laksana kilat. b. Mukanya pucat bagaikan mayat. c. Suaranya menggelagar seperti halilintar. 2).Majas metafora, ialah majas perbandingan yang paling singkat , padat, tersusun rapi. Di dalamnya, terlibat dua ide: yang satu adalah suatu kenyataan dan satunya lagi merupakan perbandingan terhadap kenyataan tadi. Contoh; a. Nani jinak-jinak merpati. b. Dia anak emas pamanku. c. Bapak tulang punggung keluarga kita. 3) Majas personifikasi, adalah jenis majas yang melekatkan sifat-sifat insani kepada barang yang tidak bernyawa atau benda abstrak. Contoh: a. Angin meraung-raung. b. yiur melambai-lambai. c. Ombak menerjang karang. 4) Majas alegori, ialah cerita yang diceritakan dengan lambang-lambang. Alegori biasanya berisi tentang moral dan hal-hal yang berkaitan dengan spiritual manusia. Alegori dapat berbentuk puisi maupun prosa. Bentuk alegori singkat misalnya, fabel dan farabel. Fabel adalah sejenis alegori yang di dalamnya terdapat tokoh-tokoh binatang yang dapat berbicara dan bertingkah laku seperti manusia. Contoh: a. Kancil dan buaya b. Kancil dan kura-kura c. Tom dan Jerry Farabel adalah cerita singkat yang mengemukakan masalah moral, misalnya cerita para nabi atau cerita orang-orang saleh. Sekarang banyak muncul pula cerita yang penuh hikmah dari buah kebaikan atau akibat perbuatan buruk seperti dalam kisah Rahasia Ilahi, dan Pintu Hidayah. 5).Majas antitesis, ialah sejenis majas yang mengadakan komparasi atau perbandingan antara dua antonim (majas ini bersifat perlawanan). Contoh: a. Dia bergembira ria atas kegagalan dalam ujian itu. b. Setelah ditodong, ia malah menolong penjahat itu. c. Orang tua itu bergembira atas pernikahan putrinya, sekaligus merasa was-was dengan masa depannya. 2. Peribahasa Gaya bahasa perbandingan juga dapat berbentuk peribahasa. Peribahasa adalah kalimat atau kelompok perkataan yang tetap susunannya dan biasanya mengiaskan sesuatu maksud tertentu. Zaman dahulu peribahasa merupakan sarana untuk mengungkapkan penilaian, nasihat, gurauan, atau sindiran. Di dalam peribahasa, terdapat simbol atau lambang-lambang yang dianggap mewakili maksud yang ingin diungkapkan. Contoh peribahasa: 1. Datang tampak muka, pergi tampak punggung. Artinya: Datang dengan baik, pergi pun harus dengan baik pula. 2..Sepala-pala mandi biar basah. Artinya: Mengerjakan sesuatu perbuatan hendaklah sempurna, jangan separuh-paruhnya. 3. Arang habis, besi tak kimpal. Artinya: Kerugian sudah banyak, maksud tak sampai. 4. Besar pasak daripada tiang. Artinya: Besar pengeluaran daripada penghasilan. 5. Bagai mencencang air. Artinya: Mengerjakan pekerjaan yang sia-sia. 6. Bagai telur di ujung tanduk. Artinya: Keadaan yang sudang gawat atau genting. 7. Bagai anak ayam kehilangan induk. Artinya: Seseorang yang tidak punya pegangan, hidupnya tak tentu arah. E. Pilihan Kata dalam Laras Bahasa Pada pelajaran terdahulu, sudah dijelaskan tentang laras bahasa. Laras bahasa adalah ciri khas suatu penggunaan bahasa pada kelompok atau lingkungan pemakai bahasa tertentu. Kekhususan tersebut meliputi pilihan kata, ungkapan, istilah, ragam bahasa, dan gaya penuturan. Misalnya, laras bahasa hukum akan banyak menggunakan istilah atau kosakata yang berkaitan dengan hukum, aturan, dan perundang-undangan. Karena bersifat penjelasan mengenai peraturan, biasanya kalimat dalam bahasa hukum panjang-panjang atau berbentuk kalimat luas. Lain lagi dengan bahasa sastra, lebih banyak menggunakan kata bermakna konotasi atau simbolik. Kalimatnya pun panjang namun banyak perumpamaan atau bersifat metaforis. Bahasa pers lebih cenderung menghemat kata atau sering menghilangkan bentuk imbuhan dalam bentukan kata. Kalimatnya pun bersifat lugas dan apa adanya. Contoh bahasa hukum: “Jika tindak pidana psikotropika sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60, Pasal 61, Pasal 62, Pasal 63, dan Pasal 64, dilakukan oleh korporasi, maka di samping pidananya pelaku tindak pidana, kepada korporasi dikenakan pidana denda sebesar 2 (dua) kali pidana denda yang berlaku untuk tindak pidana tersebut dan dapat dijatuhkan pidana penambahan berupa pencabutan izin usaha.” Contoh bahasa pers: a.“ PT. Natural belum beri Keputusan.” b. “ Pasokan Melimpah, Permintaan Beras Turun.” c. “ Petani Tak Mampu Penuhi Persyaratan Bank.”

Rangkuman Materi Bahasa Indonesia SMK Kelas X 1.7)

MENGGUNAKAN KALIMAT YANG BAIK, TEPAT, DAN SANTUN(BAB 7)

A.Syarat-Syarat Kalimat yang Baik dan Komunikatif

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari pembicara kepada pendengar melalui sarana bahasa secara lisan dan tulisan. Komunikator atau pembicara menyampaikan informasi lewat kalimat-kalimat yang dianggap dapat menjelaskan maksud yang ingin diungkapkan. Kalimatkalimat tersebut harus dapat dipahami oleh pendengar agar nantinya mendapatkan respons berupa jawaban atau tanggapan yang sesuai. Untuk mencapai komunikasi yang baik dan lancar, kalimat yang disampaikan harus efektif dan komunikatif. Kalimat yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.
(1). Tidak menyimpang dari kaidah bahasa
(2). Logis atau dapat diterima nalar
(3). Jelas dan dapat menyampaikan maksud atau pesan dengan tepat Kalimat yang tidak menyimpang dari kaidah bahasa maksudnya adalah kalimat yang cermat baik dari segi pemilihan kata dan bentukan kata maupun susunan kalimatnya memenuhi aturan sintaksis yang benar.
Sebaliknya, kalimat yang menyimpang dari kaidah bahasa, susunan kalimatnya tidak sesuai dengan aturan sintaksis yang benar.Contoh:
1. Pada jadwal di atas menunjukkan kereta eksekutif ArgoLawu berangkat pada pukul 17.00 dari Gambir.
2. Bagi yang menitip sepeda motor harus dikunci.
3. Yang punya HP harus dimatikan.Kalimat di atas meskipun dapat dipahami tapi terasa janggal didengar.
Pada kalimat pertama terasa ada yang kurang secara sintaksis. Jabatan subjeknya tidak ada karena penggunaan kata tugas “pada”. Jika kata “pada” dihilangkan, akan terasa lebih tepat. Penggunaan kata tugas “bagi” pada kalimat kedua juga tidak pada tempatnya dan tidak perlu sebab yang dimaksud sesungguhnya adalah sepeda motor yang dititipkan bukan orangnya. Kalimat kedua mengandung pengertian bahwa yang dititipkan adalah pemilik sepeda motor atau orangnya.
Demikian pula pada kalimat ketiga, yang dimatikan adalah HP bukan pemilik HP. Perbaikan kalimat di atas ialah:
1. Jadwal di atas menunjukkan kereta api eksekutif Argo Lawu berangkat pada pukul 17.00 dari Gambir.
2. Sepeda motor yang dititipkan harus dikunci
3. Yang memiliki HP agar mematikan HP-nya. Kalimat juga harus logis atau dapat dinalar oleh akal.
Meskipun secara gramatikal sesuai dengan kaidah namun jika tidak logis, kalimat tersebut tak akan dapat dipahami dengan baik bila disampaikan kepada orang lain. Contoh:
1. Anak-anak itu sedang asyik makan pohonan.
2. Ini adalah daerah bebas parkir.
3. Di sini tempat pendaftaran buta huruf.
Ketiga kalimat di atas salah nalar. Kalimat pertama jelas tidak masuk akal. Secara akal sehat, tidak ada manusia yang memakan pohonan sebab pengertian pohonan adalah keseluruhan pohon dari akar dan batang hingga daun. Kata pohonan juga dapat dimaknai banyak pohon.
Meskipun secara struktur kalimatnya benar karena ada subjek, predikat, dan objek, tapi secara nalar tidak masuk akal. Kalimat kedua dan ketiga juga tidak tepat. Pengertian bebas parkir harusnya sama dengan bebas narkoba, bebas becak, dan bebas bea yang artinya daerah tersebut tidak ada lagi narkoba, becak, atau pungutan. Tapi arti bebas parkir mengapa jadi boleh parkir tanpa bayar. Kalimat ketiga maksudnya bagi yang buta huruf agar mendaftar di tempat ini untuk mendapatkan pengajaran. Pengertian pada kalimat di atas adalah orang mendaftarkan diri agar jadi buta huruf.
Perbaikan kalimatkalimat di atas, yaitu:
1. Anak-anak itu sedang asyik mengumpulkan pohonan.
2. Ini adalah daerah boleh parkir bebas atau parkir gratis.
3. Di sini tempat pendaftaran kursus paket A bagi yang buta huruf.
Kalimat yang baik juga harus mengandung pengertian yang jelas, tidak membingungkan serta tidak menimbulkan penafsiran ganda atau ambigu. Tidak sedikit pula kita temui kalimat-kalimat yang diucapkan oleh penutur bahasa mengandung pengertian ganda. Kalimat ini selain dapat membingungkan juga menimbulkan respons atau tanggapan yang tak sesuai karena tidak tersampaikannya pesan secara benar.Contoh:
1. Saya melihat kelakuan anak itu bingung.
2. Mereka mengantar iring-iringan jenazah ke kuburan.
3. Semua mahasiswa fakultas yang baru agar berkumpul di ruang senat. Ketiga kalimat di atas bermakna ganda.
Kalimat pertama mengandung dua pengertian, dapat anak yang bingung atau saya yang bingung. Jika anak yang bingung, kata bingung harus mendapatkan imbuhan ke—an menjadi kebingungan. Jika saya yang bingung, kata bingung harus berada setelah kata saya. Perbaikannya ada dua varian, yaitu:
1a. Saya bingung melihat kelakuan anak itu.
1b. Saya melihat anak itu kebingungan.
Kalimat kedua bermakna jenazah yang diantar banyak. Frasa iringiringan jenazah mengandung pengertian jamak. Jadi pengertian kalimat kedua adalah mereka mengantarkan banyak jenazah ke kuburan. Apa benar? Sebenarnya maksudnya kata iring-iringan bukan ditujukan pada jenazah, tapi para pengiringnya sehingga makna sebenarnya adalah mereka mengantar para pengiring jenazah ke kuburan. Dan lebih jelas lagi jika kata mengantar dihilangkan.
Perbaikannya ialah sebagai berikut:
2a. Mereka mengantar jenazah ke kuburan.
2b. Mereka mengiringi jenazah ke kuburan.
Kalimat ketiga dapat menimbulkan salah pengertian karena yang dimaksud adalah mahasiswa baru atau mahasiswa fakultas yang baru. Predikat baru ditujukan kepada mahasiswa atau pada fakultasnya.Perbaikannya ada dua varian, yaitu: 3a. Semua mahasiswa baru di fakultas itu agar berkumpuil di ruang senat.Atau 3b. Semua mahasiswa pada fakultas yang baru itu agar berkumpul di ruang senat.

B. Kalimat yang Komunikatif, tetapi tidak Cermat

Dalam proses komunikasi sering kita temui kalimat yang ditulis atau diucapkan tidak terlalu mengindahkan tata bahasa atau gramatikal. Artinya, kemungkinan dalam penyusunan kalimat banyak terjadi kesalahan atau kurang cermat, namun dapat dipahami karena memang sudah terbiasa didengar atau diucapkan. Namun, tetap saja ketidakcermatan penyusunan kalimat tidak menjamin terjadinya komunikasi yang efektif. Oleh sebab itu, kita harus memahami kriteria kalimat yang kurang cermat. Ketidakcermatan kalimat dapat ditinjau dari beberapa segi berikut.
1. Ketidaklengkapan unsur-unsurnya Sebuah kalimat jika tidak lengkap unsur-unsurnya apalagi unsur tersebut seharusnya ada menjadi tidak berarti. Di dalam kalimat, terdapat minimal dua unsur, yaitu subjek dan predikat. Kalimat yang seharusnya memiliki unsur jabatan tersebut lalu secara tersurat tak terungkap membuat kalimat menjadi rancu.Contoh:
a.Dilengkapinya perpustakaan dengan koleksi buku remaja menjadikan bertambahnya para pengunjung perpustakaan sekolah.(Kalimat ini tidak menjelaskan siapa yang melengkapi perpustakaan.
Artinya, kalimat ini tidak menyertakan siapa pelakunya atau subjek kalimatnya.)
b. Dengan bersemangat Pak guru menceritakan kepada anak-anak muridnya agar mereka dapat mengambil hikmah.Kedua kalimat ini juga janggal. Keterangan aspek seperti akan, belum, telah, masih, sedang, dan sebagainya tidak boleh disisipkan pada kata kerja pasif yang berupa ikatan erat antara subjek kata kerjanya.Perhatikan perbaikannya berikut ini:
c. Selanjutnya akan saya berikan kekurangannya setelah pekerjaan selesai.
d. Jadi, harus kita sukseskan pilkada tahun ini.

3. Penggunaan unsur-unsur kalimat yang berlebihan
Ketidakcermatan kalimat juga dapat dilihat dari penggunaan unsur kalimat yang berlebihan. Unsur yang berlebihan itu dapat berupa penggunaan kata yang sama artinya atau pemakaian kata tugas yang tidak perlu.Contoh:
a. Para ibu-ibu sedang mengikuti penyuluhan hidup sehat dan bersih.
b. Di dalam tubuhnya terdapat banyak virus-virus yang membahayakan.
c. Remaja harus mengetahui akan bahaya narkoba.
d. Bagi siswa yang mengisi acara pensi harap segera menghubungi panitia.
Kalimat pertama dan kedua berlebihan dalam hal pemakaian kata para dan banyak yang menunjukkan makna jamak. Maka, kata berikutnya tidak perlu diulang. Kalimat ketiga dan keempat tidak perlu memakai kata tugas akan dan bagi. Jadi, kalimat yang benar ialah:
a. Para ibu sedang mengikuti penyuluhan hidup sehat dan bersih.
b. Di dalam tubuhnya terdapat banyak virus yang membahayakan.
c. Remaja harus mengetahui bahaya narkoba.
d. Siswa yang mengisi acara pensi harap segera menghubungi panitia.

4. Pilihan kata tidak tepat
Ketidakefektifan atau ketidakcermatan penyusunan kalimat juga dapat disebabkan karena pilihan kata tidak tepat. Hal ini dapat dipengaruhi oleh bahasa sehari-hari atau pengaruh bahasa asing. Selain itu, ketidakpahaman terhadap arti sebuah kata menyebabkan penggunaan kata tersebut tidak tepat.Contoh
a.Kepada yang pernah ke gunung ini pasti akan merasakan dinginnya udara di sini. b.Kenikmatan mie buatannya menggemparkan warga sekitarnya.
c.Rumahnya besar sendiri dibandingkan rumah-rumah tetangganya.
Kalimat pertama terdapat ketidakcocokan antara kata pernah dan akan. Kata pernah menunjukkan sudah dilakukan, bertentangan dengan kata akan yang baru atau belum dialami. Seharusnya kata akan diganti dengan sudah. Kata depan kepada juga sebaiknya dihilangkan. Kalimat kedua ketidaktepatan pada kata menggemparkan. Kata ini berkonotasi negatif yang berarti membuat panik. Padahal kenikmatan adalah suatu kesenangan dan dalam hal ini berkaitan dengan urusan rasa. Maka, frasa yang tepat adalah membuat takjub. Kalimat ketiga kata besar sendiri dipengaruhi bahasa daerah gede dewe, yang tepat adalah paling besar.
Jadi, perbaikannya
a. Mereka yang pernah ke gunung ini pasti sudah merasakan dinginnya udara di sini. b. Kenikmatan mie buatannya membuat takjub warga sekitarnya.
c. Rumahnya paling besar dibandingkan dengan rumah-rumah tetangganya.


C. Kalimat yang Cermat, tetapi tidak Komunikatif




Kalimat yang disampaikan oleh pembicara secara lisan atau penulis secara tertulis mungkin saja telah sesuai dengan kaidah bahasa, namun jika penyampaiannya tidak lugas dan padat, dapat menyulitkan komunikan untuk memahaminya. Sebuah kalimat dapat saja penyusunannya sudah cermat tapi tidak komunikatif.
Hal ini dapat terjadi karena hal-hal berikut ini.
1. Kalimat terlalu luas atau berbentuk kalimat majemuk kompleks .
Kalimat yang terlalu luas atau panjang dapat mengaburkan maksud yang sebenarnya dari kalimat tersebut. Meskipun penyusunannya tidak menyalahi kaidah gramatikal, namun karena kata yang dipergunakan banyak dan bercabang, dapat menyebabkan pesan yang dikandungnya jadi tidak dapat ditangkap secara utuh.:
a.. Karena dalam kurikulum itu bidang studi Bahasa Indonesia mendapat tempat yang teratas berdasarkan alokasi waktu yang disediakan untuk pelajaran Bahasa Indonesia, yaitu 8 jam pelajaran seminggu, sedangkan untuk bidang studi yang lain berkisar dari 2 sampai dengan 6 jam seminggu, pelajaran
b Bahasa Indonesia dianggap sangat penting dalam rangka mencapai pendidikan nasional berdasarkan Pancasila, yaitu untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan.Bahasa Indonesia yang oleh Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 diakui sebagai bahasa nasional dipakai di seluruh Indonesia, di daerahdaerah yang berbeda-beda latar belakang kebahasaan, kebudayaan, kesukuan, dan di dalam lapisan masyarakat yang berbeda-beda pula latar belakang pendidikannya Dua contoh kalimat di atas merupakan kalimat luas atau panjang karena terdapat klausa-klausa perluasan subjek dan predikat. Uraian kalimat yang terlalu luas itu sulit dicerna jika disampaikan secara lisan, dan juga harus dibaca lebih dari sekali untuk memahaminya dalam bentuk tulisan.
Kalimat dapat diperpendek agar lebih mudah dan cepat dipahami dalam bentuk berikut ini.
a. Dalam kurikulum itu, bidang studi Bahasa Indonesia mendapat tempat teratas, yaitu 8 jam pelajaran seminggu, sedangkan untuk bidang studi yang lain berkisar 2 sampai 6 jam seminggu. Karena itu, pelajaran Bahasa Indonesia dianggap penting dalam rangka mencapai pendidikan nasional berdasarkan Pancasila, yaitu untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan
b. .Bahasa Indonesia yang dalam sumpah Pemuda telah diakui sebagai bahasa nasional dipakai di seluruh Indonesia yang memiliki keragaman bahasa, budaya, suku, dan lapisan masyarakat yang berbeda-beda latar belakang pendidikannya.
2. Kalimat yang terperinci namun pengertiannya secara umum sudah diketahui Kalimat yang cenderung panjang kemungkinan dibebani dengan penjelasan yang harus terperinci. Namun, adakalanya kalimat dapat panjang karena menggunakan keterangan yang tidak perlu. Keterangan tersebut secara umum sudah diketahui oleh pendengar atau pembaca. Dengan kata lain, penjelasan tersebut dapat diganti dengan kata yang sepadan tetapi lebih hemat.Contoh:
a. Hari ini, Rudi menggunakan baju dengan kerah pendek yang biasa orang pakai untuk salat di masjid.
b. Andi memasukkan angin ke dalam ban sepeda agar ban itu kembali dapat dijalankan. Kalimat di atas terlalu panjang dan tidak efektif. Kedua kalimat di atas dapat diganti dengan kalimat berikut.
a. Hari ini, Rudi memakai baju koko.
b. Andi memompa ban sepedanya agar dapat jalan lagi.
3. Kalimat tidak logis
Kalimat yang disampaikan secara cermat juga dapat tidak komunikatif karena tidak logis. Kalimat seperti ini dapat menyebabkan salah penafsiran sehingga menimbulkan pemahaman dan tanggapan yang berbeda.Contoh:
a. Dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,
b. Pemenang terbaik ke-2 akan mendapatkan voucher belanja seharga 2 juta rupiah. Kalimat pertama memang tidak logis karena tidak mungkin dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dapat membuat karya tulis selesai. Kalimat kedua tidak logisnya pada kata terbaik. Makna kata terbaik adalah paling baik, jadi tidak ada terbaik kedua.
Kalimat di atas dapat diperbaiki menjadi:
a. Penulis mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena karya tulis ini dapat penulis selesaikan. Atau Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini.
b.Pemenangke-2akan mendapatkan voucher belanja seharga 2 juta rupiah.

D. Menggunakan Kalimat yang Efektif dan Santun

Dalam komunikasi, bukan hanya penyampaian kalimat yang efektif dan komunikatif yang harus diperhatikan, tetapi juga kesantunan dalam berbahasa. Kalimat yang santun lebih ditujukan untuk penghormatan kepada mitra bicara atau komunikan. Penyampaian kalimat memang harus tetap efektif, cermat, dan komunikatif juga bernilai rasa bagus dan santun. Untuk menyampaikan kalimat yang santun, harus dipertimbangkan pula penggunaan kosakata baku dan pilihan kata yang sewajarnya serta tidak berkonotasi kurang baik. Dengan kalimat yang efektif dan santun, tanggapan yang muncul dari mitra komunikasi juga akan berkesan baik.. Perhatikanlah contoh kalimat di bawah ini .1a. Agar kami dapat memberikan nilai pada pekerjaan Saudara, kami perlu data pribadi Saudara.
Bandingkan dengan:
1b. Agar kami dapat mengevaluasi pekerjaan Saudara, kami membutuhkan data pribadi Saudara.
2a. Yang kami tahu selama ini, belum ada siswa yang dikeluarkan karena kasus narkoba. Bandingkan dengan
2b. Sepengetahuan kami, belum ada siswa yang dikeluarkan karena kasus narkoba.
3a. Setelah membaca surat Saudara tertanggal 4 Juli 2007 dengan nomor surat 122/PC-3/2007, maka kami kirimkan surat balasan...
Bandingkan dengan:
3b. Menjawab surat Saudara tertanggal 4 Juli 2007, Nomor 122/PC-03/2007, kami sampaikan bahwa...
4a. Untuk menyambut tamu yang kita hormati, kami harap hadirin berdiri. Bandingkan dengan:
4b. Untuk menyambut tamu kehormatan kita, kami mohon kesediaan hadirin untuk berdiri. 5a. Kami ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelalaian kami tersebut.Bandingkan dengan: 5b. Kami menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian kami tersebut. Kalimat b lebih terasa santun daripada kalimat a.

BERLATIH MENGERJAKAN SOAL UTS SMK KELAS X.1.1




UJI KOMPETENSI(BAB.I)
I. Pilihlah jawaban yang paling tepat dari pernyataan di bawah ini!
1. Menurut para ahli, tujuan menyimak adalah berikut ini, kecuali a. memahami informasi b. memahami unsur bahasa c. memecahkan masalah d. melatih pendengaran e. mengevaluasi pekerjaan
2. Pengertian menyimak adalah a. mendengarkan informasi atau pesan secara tertulis maupun lisan b. menginterpretasi informasi c. memahami perubahan bunyi dan pola tekanan d. mendengarkan dengan aktif dan penuh perhatian supaya dapat memahami isi dari semua informasi e. mengapresiasikan informasi yang disampaikan
3. Ilmu bahasa yang membahas mengenai unsur-unsur bahasa yang berhubungan dengan bunyi dan pengucapan disebut a. lafal b. unsur segmental dan suprasegmental c. Intonasi d. Konteks e. lambang bahasa
4. Unsur segmental yang terkecil berhubungan dengan bunyi ujaran adalah a. prosa b. Artikulasi c. morfem d. Fonem e. huruf
5. Di bawah ini yang bukan unsur-unsur suprasegmental adalah a. tekanan b. Jeda c. Intonasi d. Lafal e. konsep
6. Ilmu yang mempelajari tata bunyi dan alat ucapnya disebut a. morfologi b. Fonologi c. fonemik d. Fonetik e. morfofonemik
7. Cara dan kebiasan seseorang atau kelompok masyarakat dalam mengucapkan bunyi atau lambang bahasa disebut a. kata b. Lafal c. Tekanan d. Intonasi e. fonem
8. Yang merupakan unsur segmental di bawah ini, kecuali a. tekanan b. Intonasi c. Lafal d. a dan b e. a, b, dan c
9. Variasi lafal fonem yang tidak membedakan arti disebut a. alofon b. Alomorf c. Rima d. Intonasi e. jeda
10. Penonjolan suku kata yang dilakukan dengan cara memperpanjang pengucapannya, meninggikan nada, atau memperbesar tenaga dalam mengucapankan suatu kata dinamakan.... a. irama b. Tekanan c. Nada d. Jeda e. intonasi
11. Menandai batasan ujaran juga membantu memahami ketepatan pesan atau informasi serta membantu pengambilan napas bagi pembicara ialah fungsi dari a. tekanan b. Jeda c. Fonem d. Irama e. Lafal
12. Gabungan vokal yang diikuti oleh bunyi konsonan luncuran / w / atau / y / disebut a. diftong b. konsonan c. Bunyi pelancar . Jeda e. Tekanan
13. Kata-kata yang menggunakan diftong di bawah ini, yaitu kata a. mau b. Memadai c. Namai d. Pantai e. menyamai
14. Huruf e yang diucapkan lemah terdapat pada kata a. bebek b. Karpet c. Perang d. Nenek e. berkotek
15. Huruf e yang diucapkan terbuka terdapat pada kata a. pedas b. Terang c. Teliti d. Teman e. peta
16. Di bawah ini, kata yang tidak mengandung diftong / au / ialah a. harimau b. Menghimbau c. Kalau d. Walau e. mau
17. Menggunakan bahasa baku dalam keadaan atau situasi di bawah ini, kecuali a. formal b. Seminar c. pertemuan ilmiah d. Pergaulan e. resmi
18. Kalimat yang tidak menggunakan kosakata baku di bawah ini, yaitu a. Pemerintah akan menggalakkan kebersihan lingkungan. b. Siswa-siswi SMK PELITA akan mengadakan wisata ke Anyer. c. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia akan menghakpatenkan semua hasil penelitian ini. d. Hadirin dipersilakan berdiri! e. Dia sudah dikasih uang oleh orang tuanya.
19. Contoh fonem vokal yang berbeda arti, adalah a. mantel–mental b. perang—parang c. ari–sari d. makin—mangkin e. tema–tamu
20. Di bawah ini adalah kalimat yang tidak sesuai dengan lafal baku, kecuali a. Paman jalan-jalan ke Ragunan, kemaren. b. Kami haturkan terima kasih banyak atas bantuannya. c. Dian setiap pagi sarapan dengan nasi goreng d. Silahken tunggu sebentar. e. Awas, hati-hati ada lobang!
II. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan tepat dan benar!
1. Apa yang dimaksud dengan menyimak?
2. Sebutkan 4 hal yang menjadi tujuan mengenal unsur-unsur bahasa dalam menyimak!
3. Apa yang dimaksud dengan lafal?
4. Apa yang dimaksud dengan diftong? Contohnya?
5. Buatlah kalimat dengan gabungan vokal yang bukan diftong!
6. Apa yang dimaksud dengan tekanan?
7. Buatlah kalimat yang menggunakan kata dengan lafal tidak baku sebanyak 2 buah!
8. Buatlah kalimat dengan menggunakan diftong /ai/ 3 kalimat?
9. Sebutkan ciri-ciri bahasa baku!
10. Buatlah jeda yang tepat pada kalimat di bawah ini sehingga terdapat perbedaan pengertian. Menurut Ibu Tanjung Sari memang anak yang rajin.

UJI KOMPETENSI(BAB 2)
I. Pilihlah jawaban yang paling tepat dari pernyataan di bawah ini! 1. Yang termasuk fakta adalah a. Rumah yang terkena banjir berjumlah 92 buah. b. Semua anak Indonesia wajib bersekolah. c. Kita harus memberantas narkoba sampai ke akarnya. d. Agar lingkungan kota bersih mari kita jaga kebersihan. e. Jakarta rawan kecelakaan lalu lintas. 2. Seorang siswa SMK bercita-cita ingin masuk ke Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Alasan yang tepat untuk dapat masuk ke Fakultas Ekonomi di UI ialah a. Keluarganya umumnya lulusan UI. b. Nilai Matematika dan IPA saya selalu sangat memuaskan. c. Lulusan Fakultas Ekonomi UI selalu dapat pekerjaan. d. aya akan mengembangkan bakat, minat, kemampuan di bidang ekonomi. e. Setuju ekonomi sangat dibutuhkan oleh perusahaan. 3. Terjadi gerakan reformasi dan krisis ekonomi yang berkepanjangan di negeri ini telah membawa pengaruh dalam kehidupan sosial. Salah satu contoh negatif dari pengaruh itu adalah makin meluasnya kenakalan remaja. Berbagai tindakan kenakalan seperti kebut-kebutan, penggunaan obat-obat terlarang, pencurian, perampokan, sampai dengan tindakan asusila hampir setiap hari tertampung di surat kabar. Tentu saja kita tak boleh tinggal diam menghadapi peristiwa seperti ini. Kalimat opini yang sesuai dengan ilustrasi di atas adalah a. Maraknya aksi kebut-kebutan di Jalan Karangmenjangan setiap malam minggu meresahkan masyarakat sekitar dan pemakai kendaraan. b. Berkali-kali gobang itu dibacokkan ke tubuh Dewi karena tidak mau menyerahkan sepeda motornya. c. Sabtu dini hari, petugas Polres Surabaya menangkap empat “ayam” ABG yang sedang beroperasi di hotel. d. Para orang tua seharusnya memerhatikan lebih serius perilaku putranya untuk mengurangi perilaku yang menyimpang. e. Minggu dini hari, petugas kepolisian berhasil mengamankan empat remaja yang kedapatan membawa cimeng (ganja) setelah melakukan razia. 4. Kalimat yang merupakan fakta khusus ialah a. Indonesia belum memiliki kereta api bawah tanah. b. Peristiwa itu terjadi pada pagi hari, Sabtu, 23 Juni 2007 di Pantai Indramayu. c. Beberapa nelayan dinyatakan hilang saat melaut. d. Para siswa harus melakukan ujian susulan karena sakit. e. Kita harus menghormati orang tua dan guru. 5. Kalimat yang termasuk opini ialah a. Indonesia belum memiliki kereta api bawah tanah. b. Peristiwa itu terjadi pada pagi hari, Sabtu, 23 Juni 2007 di Pantai Indramayu. c. Beberapa perairan pantai rusak akibat abrasi karena tidak dipelihara dengan baik. d. Para siswa harus melakukan ujian susulan karena sakit. e. Kita harus menghormati orang tua dan guru. 6. Gizi yang baik sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan kecerdasan, terutama untuk anak-anak balita dan usia sekolah. Dalam situasi krismon seperti sekarang, banyak anak usia sekolah yang perlu mendapatkan bantuan. Ibu-ibu pengajian mengadakan kegiatan sosial dengan nama “peduli balita”, misalnya pemberian minuman susu gratis dan pemberian makanan bergizi. Pernyataan yang sesuai dengan fakta dalam bacaan di atas adalah a. Kegiatan itu baik, tetapi apakah tidak menimbulkan kecemburuan sosial? b. Kegiatan-kegiatan positif dalam menunjang perbaikan gizi balita perlu direalisasikan. c. Sebaiknya, sebelum kita melaksanakan kegiatan, perlu dievaluasi untung dan ruginya. d. Pikiran saya sejalan dengan gagasan Anda, yaitu bahwa fakta tentang anak putus sekolah perlu dicari. e. Saya sependapat dengan Anda dan siap membantunya. 7. Bahasa yang dipakai di berbagai bidang ilmu dan masing-masing memiliki perbedaan disebut.... a. ragam bahasa, b. bentuk bahasa, c. laras bahasa, d. gaya bahasa, e. unsur bahasa 8. (1) Di sini peran pendidikan sangat vital. (2) Pemberdayaan perempuan pun menjadi agenda dalam proses pe mbelajaran. (3) Para penentu kebijakan kurikulum mestinya berkaca pada agenda ini. (4) Data empiris dari ekonomi Marco Francesconi menganalisis dan British Household Panel Survey yang mendata 10 ribu individu dari 5.500 keluarga. (5) Penelitian dilakukan sejak 1991-1999. (6) Data ini menunjukkan bahwa pria yang sukses justru akan memilih dengan wanita karier yang bekerja keras.Kalimat yang berisi fakta pada paragraf tersebut terdapat pada nomor.... a. (1) dan (2) b. (2) dan (3) c. (3) dan (5) d. (4) dan (6) e. (3) dan (5) 9. Yang merupakan bahasa surat kabar ialah a. Alfalfa mengandung klorofil yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. b. Penelitian ini mengambil objek di daerah utara wilayah Cirebon. c. Proses pemilihan kepala daerah berlangsung sangat tertib. d. Kebakaran hanguskan puluhan rumah di Penjaringan Utara. e. Rasa terima kasih kami sampaikan pada semua pihak yang telah membantu. 10. Ragam bahasa ilmu pengetahuan ialah a. Kejadian ini melibatkan berbagai disiplin ilmu. b. Drama kolosal itu digarap oleh sutradara Imam Tantowi. c. Saturnus memiliki diameter kurang lebih 10 kali diameter bumi dalam tata surya. d. Beberapa pekerja ikut tertimbun tanah longsor itu. e. Gunung Semeru menunjukan aktifitasnya. 11. Ragam bahasa sastra (cerpen) ialah.... a. Polisi dan Tim SAR belum menemukan nelayan yang hilang. b. Lelaki umur tiga puluh tahun dan berjenggot itu masuk ke rumah makan itu dengan tenang. c. Pasien rumah sakit itu memprotes adanya mal praktek yang terjadi padanya. d. Tumbuhan anggur hidup di daerah tropis dengan kelembaban tertentu. e. Hasil penyelidikan sementara menunjukkan ialah tersangkanya 12. (1) Lain benalu lain pula cendana. (2) Kalau benalu dianggap bukan tanaman berharga, lain cerita dengan pohon yang bernama santalun album atau cendana. (3) Kayu berbau harum ini termasuk komoditi agak bernilai tinggi. (4) Jelas harganya mahal. (5) Sayangnya, populasinya makin menipis karena para penangkar mengalami kesulitan mengembangkannya. (6) Biji cendana sulit tumbuh. (7) Meski bijinya mudah berkecambah, cendana muda mudah mati. Kalimat fakta dalam paragraf di atas terdapat pada nomor: a. 1 dan 3 b. 4 dan 5 c. 4 dan 6 d. 5 dan 6 e. 5 dan 7 13. Kalimat yang menyatakan hasil adalah a. Rambutan itu mahal harganya. b. Ia suka berkumpul dengan temannya di pangkalan itu. c. Penghasilannya bisa mencapai lima juta rupiah per bulan. d. Ia memendam perasaannya selama lima tahun. e. Karangannya mendapat juara satu lomba mengarang tingkat kotamadya. 14. Kalimat yang menyatakan proses ialah.... a. Pemerintah merencanakan pembangunan transportasi sungai di Jakarta. b. Penantian yang panjang membuahkan hasil sangat mengharukan antara sang ibu dan anaknya. c. Habis manis sepah dibuang. d. Pengungsi korban lumpur Lapindo mengharapkan bantuan pemerintah. e. Telah terjadi unjuk rasa besar-besaran pada hari buruh sedunia. 15. Sejak jam tujuh pagi, ia mengikuti ... tentang narkoba. Kata berimbuhan pe–an untuk pengisi titik-titik yang tepat adalah.... a. pelajaran b. Pemberantasan c. Penanggulangan d. Penyuluhan e. penelitian 16. Ia diminta pimpinan untuk menyerahkan ... keuangan bulan ini. Kata berakhiran –an untuk pengisi titik-titik yang tepat pada kalimat di atas adalah.... a. laporan b. Rincian c. Uraian d. Rancangan e. bayaran 17. Karangan yang berisi uraian cara atau tahapan proses beserta pernyataan hasilnya disebut juga a. narasi b. deskripsi c. Eksposisi d. Argumentasi e. persuasi 18. Kata hubung yang menunjukkan adanya proses yang berlangsung atau penandaan urutan waktu terdapat di bawah ini, kecuali.... a. selanjutnya b. setelah itu c. dan lagi d. Kemudian e. Lalu 19. Pemerintah kota dan DPRD menyepakati anggaran untuk pendidikan sekitar 23 persen tahun ini. Akhiran –an pada kata anggaran berarti a. sesuatu yang berkaitan dengan uang b. hasil dari sesuatu yang dianggarkan c. proses menganggarkan d. hal penganggaran e. masalah keuangan yang direncanakan 20. Kalimat yang berisi pemerian adalah a. Ahmad membeli sepatu di Pasar Baru dan Jatinegara. b. Barang itu dijual seharga Rp. 50.000 dan Rp. 30.000. c. Ibu sedang menawar harga barang-barang rumah tangga. d. Bibi membeli keperluan dapur berupa kecap, garam, gula pasir, dan cabe. e. Barang-barang rumah tangga ini dapat dijual di pasar loak. II. Jawablah soal-soal di bawah ini dengan tepat dan benar! 1. Sebutkan jenis-jenis sumber informasi! 2. Sebutkan contoh bentuk informasi yang tergolong media cetak, sebanyak 5 buah! 3. Buatlah contoh uraian berisi fakta khusus! 4. Buatlah contoh uraian berisi opini atau konsep! 5. Buatlah contoh uraian yang bersifat pemerian berupa satuan kalimat atau bagian! 6. Faktor apa saja yang menyebabkan timbulnya ragam bahasa? 7. Buatlah dua kalimat yang menggunakan afiks/imbuhan yang menandakan proses dan hasil! 8. Buatlah kalimat yang menggunakan ragam semi formal, sebanyak 2 buah! 9. Buatlah 2 contoh yang bukan termasuk sumber informasi? 10. Bagaimana ciri-ciri sumber informasi yang baik? UJI KOMPETENSI(BAB 3) I. Pilihlah jawaban yang paling tepat dari pernyataan di bawah ini! 1. Ia dikenal di sekolah seorang kutu buku. Makna kata kutu buku adalah a. suka membeli buku b. suka membaca buku c. suka mengoleksi buku d. suka menjual buku e. Suka merawat buku 2. Berdasarkan tingkatannya, membaca dibedakan menjadi berikut ini, kecuali a. membaca kreatif b. membaca kritis c. membaca literal d. a dan b e. a, b, dan c 3. Membaca untuk memahami isi bacaan secara rasional dan mendalam disebut a. membaca kritis b. membaca cepat c.membaca literal d. membaca kreatif e.membaca pemahaman 4. Hal yang dilakukan dalam membaca kritis adalah berikut ini, kecuali a. bertanya b. Menyimpulkan c. Menghubungkan d. mencatat hal penting e. menilai ide-ide dalam bacaan 5. Membaca untuk mendapatkan nilai tambah dari pengetahuan baru yang terdapat dalam bacaan adalah a. membaca kritis b. membaca cepat c. membaca pendalaman d. membaca kreatif e. membaca literal 6. Tujuan membaca kreatif adalah a. memahami informasi b. mengetahui sesuatu lebih dalam c. peningkatan kualitas hidup d. lebih kritris e. menambah wawasan 7. Hal di bawah ini termasuk kategori bahan bacaan dalam membaca kreatif, kecuali a. wacana tentang cara merawat kesehatan b. wacana tentang pemikiran budayawan c. wacana tentang kehidupan laut d. wacana tentang membuat makanan e. wacana mengenai memelihara tanaman 8. Yang bukan informasi mengenai memanfaatkan lahan adalah a. membudidayakan tanaman hias b. membuat surat tanah c. membudidayakan tanaman obat d. menanam dan merawat anggrek e. cara menanam 11. Untuk membaca cepat diperlukan latihan, sebagai pemula target kecepatan adalah a. 130 - 150 kpm b. 25 - 140 kpm c. 120 - 150 kpm d. 110 - 130 kpm e. 100 - 150 kpm 12. Membaca cepat dengan tujuan untuk memperoleh suatu informasi langsung ke pokok masalah adalah teknik membaca a. teknik pemindaian (skimming) b. teknik membaca naskah c. teknik pelayapan (scanning) d. teknik membaca ekspresionis e. teknik membaca frasa 13. Di bawah ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat catatan, kecuali a. kata/frasa/kalimat yang mengantarkan pada gagasan pokok b. ide pokok atau gagasan sentral setiap paragraf c. setiap penjelasan penting yang ada pada bacaan d. pendapat atau asumsi penulis mengenai hal-hal tertentu e. data atau fakta yang mendukung gagasan 14 Cara membaca yang hanya untuk mendapatkan ide pokoknya atau saripati bacaan disebut a. teknik pemindaian (skimming) b. teknik membaca naskah c. teknik pelayapan (scanning) d. teknik membaca ekspresionis e. teknik membaca frasa 15. Dalam sastra, setiap kata tidak selalu diartikan dengan makna sesungguhnya. Kata dapat ditafsirkan dua cara, yaitu a. majas dan laras b. konotatif dan denotatif c. puisi dan sajak d. cerpen dan puisi e. sastra dan idiomatik 16. Di bawah ini, beberapa manfaat membaca cepat, kecuali a. bagian-bagian yang diperlukan dapat diketahui b. pembaca dapat mengetahui opini orang lain c. topik bacaan dapat diketahui d. mengetahui organisasi penulisan e. dapat melatih indra mata 17. Berikut ini yang tidak termasuk pelatihan membaca cepat ialah a. membaca dengan cara melebarkan jangkauan mata b. membaca ke samping c. membaca dengan tatapan per fiksasi d. Membaca dengan hati-hati e. membaca kolom 18. Yang dimaksud dengan regresi ialah a. membaca dengan melakukan pengulangan bacaan b. membaca dengan perlahan-lahan c. berhenti pada suatu pandangan d. bacaan dihentikan e. pembaca tidak konsentrasi dalam membaca 19. Hal yang salah dan menjadi kebiasaan dalam membaca berikut ini, kecuali a. membaca dengan menggerakkan bibir b. membaca dengan menggerakkan mata c. membaca dengan menggelengkan kepala d. membaca dengan mengeraskan suara e. Dengan menatap kata per kata 20. Akibat yang terjadi ketika komunikasi berjalan tidak seimbang, kecuali a. persaudaraan retak b. persahabatan putus c. menimbulkan konflik d. menghargai mitra bicara e. bisa terjadinya peperangan antarkelompok atau antarnegara II. Jawablah soal-soal di bawah ini dengan tepat dan benar! 1. Hal-hal apa sajakah yang perlu dilakukan ketika kita menemukan ide pokok dari bagian wacana? 2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan apresiasi dalam sastra! 3. Sebutkan dan jelaskan dua cara teknik membaca cepat! 4. Apa saja yang perlu dicatat dalam membaca pemahaman! 5. Dalam setiap paragraf, terdapat dua unsur kalimat. Sebut dan jelaskan maksudnya! 6. Bahasa sastra dapat juga disebut 7. Mengapa dalam bermasyarakat kita harus memerhatikan sikap berbahasa yang positif? 8. Apa saja sikap berbahasa yang positif dan efisien? 9. Mengapa manusia disebut makhluk sosial? 10. Dampak apa saja yang terjadi ketika komunikasi berjalan dengan efisien dan positif? UJI KOMPETENSI(BAB 4) I. Pilihlah jawaban yang paling tepat dari pernyataan di bawah ini! 1. Di bawah ini yang termasuk sumber informasi yang berbentuk media elektronik, kecuali a. video.... b. Televisi c. dokumentasi d. Audio e. audio-visual 2. Di bawah ini sumber informasi yang berbentuk media cetak, adalah a. audio-visual, tabloid, dan televisi b. iklan, internet, dan majalah c. majalah, dokumentasi, dan buku d. internet, televisi, dan koran e. buletin, internet, dan video 3. Penulisan sumber informasi dari media elektronik di bawah ini adalah a. Kompas, 12 Juli 2007 b. senin (9/4) ..... c. ( RCTI, 2007 : 4 ) d. www.yahoo.com e. Intisari, Oktober 1998 4. Menguraikan gagasan atau hal yang disampaikan secara tertulis dapat ditampilkan dalam beberapa uraian, kecuali a. deskrpisi b. Narasi c. Biografi d. Argumentasi e. persuasi 5. Tulisan yang berupa gambaran mengenai keadaan, benda, dan tempat disebut a. narasi b. Deskripsi c. Eksposisi d. Argumentasi e. persuasi 6. Penulisan yang berisi kalimat ajakan, himbauan seperti argumentasi disebut a. narasi b. Deskripsi c. Eksposisi e. Persuasi d. argumentasi 7. Penulisan yang berisi tentang pendapat, cara melakukan sesuatu, pemaparan tentang suatu hal disebut a. narasi b. Deskripsi d. Argumentasi c. Eksposisi e. persuasi 8. Di bawah ini kegunaan membuat catatan untuk bacaan yang akan dibaca, kecuali a. detail dan menarik b. mengambil isi pokok informasi c. membantu mengingat isi bacaan d. memudahkan membuat kutipan dalam menyusun e. menjadikannya bahan informasi 9. Beberapa cara untuk mencatat informasi yang dapat dilakukan dan dianjurkan, kecuali a. mencatat di buku khusus b. memberi coretan khusus pada informasi penting c. mencatat pada lembaran-lembaran yang dijadikan satu di sebuah map file d. mencatat pada kartu catatan e. catatan khusus 10. Pemilihan proses dan hasil pada wacana/teks bacaan dapat dilakukan dengan cara a. scanning b. skimimg c. Grafik d. Diagram e. tabel 11. Untuk menghemat waktu dan menunjukkan statiska penulisan informasi, dapat digunakan alat bantu visual di bawah ini, kecuali a. grafik b. tabel c. Peta d. Selebaran e. diagram 12. Karangan ekspositoris adalah jenis karangan yang termasuk karangan a. komik b. roman c. Cerpen d. Biografi e. novel 13. Informasi nonverbal dapat berupa bentuk di bawah ini, kecuali a. diagram b. Grafik c. Bagan d. Matriks e. Opini 14. Bentukan kata yang menyatakan proses biasanya dinyatakan oleh imbuhan a. –an b. me- -kan c. pe- d. per-an e. pe -an 15. Uraian padat yang berisi intisari atau saripati dari informasi asalnya disebut ..... a. hasil b. Proses c. kesimpulan d. Grafik e. biografi 16. Penulisan simpulan dapat diuraikan dalam dua jenis yaitu a. intensif dan ekspresif b. naratif dan persuasif c. persuasif dan induktif d. sugestif dan imajinatif e. deduktif dan induktif 17. Penulisan simpulan secara deduktif dijelaskan secara a. umum – khusus b. detail c. khusus - umum d. khusus saja . Ekspresionis 18. Simpulan secara induktif ditulis dan dijelaskan secara a. umum- khusus b. Detail c. khusus - umum d. khusus saja e. Ekspresionis 19. EKSPOR-IMPOR INDONESIA(Dalam US $000.000 ) Termasuk Minyak Bumi Tidak Termasuk Minyak Bumi dan Gas Tahun Ekspor Impor Ekspor Impor 1992 33.967,0 27.279,6 23.296,1 25.184,6 1993 36.823,0 28,327,8 27.007,2 26.157,3 1994 39.707,8 30.341,8 30.341,7 28.772,7 Kalimat yang sesuai dengan tabel di atas adalah a. Ekspor minyak Indonesia terus meningkat. b. Indonesia tidak mengimpor minyak. c. Nilai Impor minyak dan gas Indonesia Indonesia tidak mencapai 10%. d. Ekspor migas memegang peranan utama dalam perdagangan luar negeri. e. Tahun 1994, Indonesia menikmati surplus perdagangan luar negeri sebesar lebih dari US $ 8 juta. 20. Jadwal Pentas Seni di SMK Negeri 10 Malang Hari dan Tanggal Wktu Nama Acara Jumat, 20 Desember 2007 Pagi 09.0 - 09.30 Marawis oleh Group Marawis kelas X MM 1 09.30 - 10.00 Tarian Kreasi 0leh Siswa XI TKJ 2 .............. ........................................... Siang 13.0 - 13.00 13.30 - 14.30 Pembacaan Puisi oleh siswa Kielas X MO 1 Pagelaran siswa-siswi Kelas XII Berdasarkan jadwal tersebut, puisi dibacakan pada a. Pagi, pukul 10.00 - 10.30 b. Pagi, pukul 10.30 - 11.00 c. Pagi, pukul 09.00 - 09.30 d. Siang, pukul 13.00 - 13.30 e. hari Jumat, 20 Desember 2006



II. Jawablah soal-soal di bawah ini dengan tepat dan benar!




1 Sebutkan sumber media apa saja yang dapat dijadikan informasi!
2. Tuliskan susunan catatan kaki dari data di bawah ini!
3. Sebutkan beberapa jenis teks yang kalian ketahui!
4. Sebutkan kegunaan dari membuat catatan!
5. Berikan contoh-contoh alat bantu visual dalam menguraikan informasi supaya menarik dan efektif!
6. Sebutkan langkah-langkah membaca grafik!
7. Apa yang dimaksud dengan simpulan? sebutkan dua jenisnya! 8. Jelaskan apa yang dimaksud dengan informasi nonverbal!
9. Sebutkan ciri-ciri bahasa surat kabar!
10. Tuliskan contoh kalimat yang menyatakan proses dan hasil!