WELCOME

SELAMAT BERKUNJUNG DI GURU BAHASA INDONESIA SMKN 10 MALANG SEMOGA DAPAT BERMANFAAT"

Rabu, 20 Februari 2013

UJI KOMPETENSI(BAB 8)


Uji Kompwetensi BIn SMKN 10 MLG
)
I. Pilihlah jawaban yang paling tepat dari pernyataan di bawah ini!

1. Di bawah ini yang termasuk intonasi kalimat memberi tahu ialah....

a. pulang b.Pulang c. Pulang d. Pulang e. pulang.


2. Biasanya pengunaan kalimat dengan menggunakan tekanan karena.....

a. lawan bicara tidak mengerti maksudnya.

b. hanya sebuah ekspresi pembicara saja.

c. mementingkan kata-kata yang disingkat.

d. supaya bervariasi.

e. kata itu pokok kalimat.


3. Bentuk pengucapan kata atau kalimat dalam dialog drama banyak ditentukan oleh.....

a. irama b. Aksen c. Nalar d. Frasa e. jeda.


4. Yang disebut dengan tekanan dalam ilmu tata bunyi ialah.....

a. tempo b. Ritual c. Irama d. Aksen e. segmental.


5. Di bawah ini adalah hal-hal yang penting dalam kalimat untuk menunjukkan kata atau kelompok kata supaya mendapatkan perhatian dan pengertian khusus ialah.....

a. aksen, nalar.

b. tekanan, intonasi, dan nada.

c. frasa dan tekanan.


d. Jeda.

e. segmental.


6. Ciri intonasi dalam kalimat bertanya ialah....
a. pengucapan suku kata panjang dan menaik.

b. menaik di saat pengucapan suku kata terakhir.

c. menurun di saat pengucapan dengan tekanan akhir kata.

d. pengucapan suku awal dan akhir menaik.

e. pengucapan suku awal dan akhir menurun.


7. Penggambungan antara jeda, nada, dan tekanan ialah.....

a. tempo b. Ritme c. Irama d. Intonasi e. aksen.

8. Lafal Indonesia yang dipengaruhi bahasa daerah disebut.....

a. laras b. Dialek c. Ragam d. Warna e. kelas.

9. Kalimat yang mempunyai panjang pendeknya tekanan disebut.....

a. irama b. Tempo c. Aksen d. Irama e. intonasi.

10. Di bawah ini adalah kata lafal yang dipengaruhi dari daerah Betawi, kecuali.....

a. new unstuck say.

b. ape unstuck ape.

c. key mane unstuck key manna.

d. moor unstuck k Boor.

e. diary unstuck did sine.


11. Kate lafal yang dipengaruhi daerah Tapanuli adalah.....


a. berapa menjadi bara.


b. senang menjadi senang.


c. ingin menjadi pengen.


d. seperti menjadi kayaknya.


e. telur menjadi telor.


12. Unsur kata asing yang lafal dan ejaannya telah diserap di bawah ini, kecuali.....


a. apotek ---- apotik.


b. percentage ---- persentase.


c. ambulance ---- ambulans.


d. contingent ---- kontingen.


e. complex ----- kompleks..


13. Kata yang tidak sesuai dengan lafal baku dalam kalimat berikut ini, kecuali.....


a. Kita nonton pilem itu yuk!.

b. Ibu pergi ke pasar pagi kemaren..

c. Ke mane orang-orang pergi..

d. Tiap hari ia makan dengan nasi dan telor dadar........

e. Kami menyeberang sungai itu malam-malam..


14. Penanda tekanan pada kalimat di bawah ini yang benar adalah.....

a. Dia sudah pulang b. Siapa anak itu? c. Siapa bilang...? d. Angkat kayu itu! e. Ia lulus ujian..


15. Nenek senang sekali makan jengk l. Kata yang lafalnya sama dengan/ jengk l /, ialah.....


a. kacau b. Limau c. Tolong d. Loyo e. solo.


16. Kita break sebentar untuk mengatur strategi. Kata yang sepadan dengan kata break di atas adalah....


a. duduk b. Istirahat c. Stop d. Finis e. kompak.


17. Keberhasilan perusahaan terletak pada manajemen yang baik. Kata yang sepadan dengan kata manajemen adalah.....


a. organisasi b. Struktur c. Pengelolaan d. Keuangan e. etos kerja.


18. Ia berhasil mencapai sarjana karena ditunjang oleh ketekunan dan finansial yang mapan. Kata finansial berarti.....


a. organisasi b. Struktur c. Pengelolaan d. Keuangan e. etos kerja.


19. Unsur-unsur yang perlu diperhatikan dalam membaca puisi adalah berikut ini kecuali.....


a. suasana puisi b. pengulangan kata c. bagian sampiran d. Rima e.kata bermakna luas

20. Unsur serapan yang penulisan dan pelafalannya tidak berubah sesuai aslinya ialah....

a. coffe break b. shuttle cock c. dealer d. go public e. ratio.
II. Jawablah soal-soal di bawah ini dengan tepat dan benar!

1. Bacalah surat pengumuman di atas!.


2. Sebutkan isi dari pengumuman di atas!.


3. Dari dan untuk siapakah surat pengumuman itu ditujukan?.


4. Tuliskan kata pengumuman dan pola intonasi atau tekanannya menurut kalian!.


5. Dalam pengumuman tersebut, sebutkan kata-kata apa sajakah yang mendapatkan aksen!.


6. Sebutkan beberapa hal yang termasuk aksen atau intonasi!.


7. Apa saja simbol yang menandakan jeda?.


8. Jelaskan apa yang dimaksud dengan membaca indah!.


9. Sebutkan perbedaan antara membaca deklamasi dan membaca puisi!.


10. Simbol apa sajakah yang menandakan jeda?.


Selasa, 19 Februari 2013

Rangkuman Materi Bahasa Indonesia SMK X.10


"MEMBUAT BERBAGAI TEKS TERTULIS DALAM KONTEKS BERMASYARAKAT"A. Perencanaan Membuat Karangan
1. Tema dan Topik Karangan
Sebelum melakukan penulisan, setiap orang pasti sudah memikirkan apa yang ingin ditulisnya. Tentu hal-hal yang akan ditulis berhubungan dengan segala yang telah diketahui. Jika hal tersebut merupakan hal yang baru, maka setidaknya ia akan mengaitkan hal yang ingin ditulis dan hal yang telah diketahuinya atau ia akan mengumpulkan bahan-bahan informasi yang berhubungan dengan sesuatu yang ingin ditulis.
Apa yang ingin ditulis sebelum seseorang menulis karangan merupakan sesuatu yang menjadi dasar atau pedoman dalam menulis atau mengembangkan karangannya. Sesuatu yang ingin ditulis itu merupakan sebuah ide atau gagasan yang merupakan pijakan dasar mengenai apa karangan tersebut. Hal yang menjadi dasar karangan itu disebut dengan tema. Tema memang merupakan unsur terpenting yang harus ada sebelum mengarang. Dalam banyak teori mengarang, menentukan tema karangan merupakan langkah pertama dalam merencanakan membuat karangan. Setelah menentukan hal yang ingin ditulis, langkah selanjutnya adalah memerinci tema karangan menjadi pokok-pokok pikiran yang lebih khusus. Pokok-pokok pikiran ini menjabarkan tema karangan. Pokok-pokok pikiran itu disebut dengan topik karangan atau gagasan pokok. Topiktopik ini disusun dan dirumuskan untuk masing-masing dikembangkan menjadi paragraf-paragraf. Topik yang masih umum dapat dijabarkan lebih terperinci lagi menjadi subtopik. Semua unsur itu disusun secara vertikal.
Susunan ini disebut dengan kerangka karangan.

2. Tujuan
Selain menetapkan tema dan menyusun topik karangan, penulis juga harus merumuskan tujuan. Tujuan karangan merupakan maksud penulis atau pengarang dalam mengarang. Tujuan dapat berkaitan dengan bentuk karangan yang akan dibuat. Banyak hal yang dapat dijadikan tujuan, misalnya tujuan memberi informasi kepada pembaca, bentuk karangannya bersifat ekspositoris. Tujuan menggugah dan menghimbau, karangannya dapat berjenis persuasi dan sebagainya.
Contoh tujuan pada karangan berbentuk narasi:
Tema : Kisah usaha seorang kakak untuk membelikan adiknya boneka dari hasil menyemir sepatu.
Tujuan : Menggugah simpati pembaca untuk ikut memikirkan betapa susahnya hidup orang tak mampu tapi tetap
menyayangi saudaranya.
Contoh tujuan pada karangan argumentasi:
Tema : Bahaya kecanduan rokok
Tujuan : Menggugah orang yang terbiasa merokok agar mengurangi kebiasaan merokok

3. Judul
Setiap tulisan atau karangan selalu mempunyai judul. Judul di dalam sebuah karangan merupakan unsur yang penting. Seringkali seorang ingin membaca sebuah karangan karena judulnya menarik. Oleh sebab itu, dalam menentukan judul, diusahakan judul karangan enak dibaca, mudah diucapkan, dan mudah diingat.
Judul sebuah karangan tidak perlu panjang. Judul yang terlalu panjang membuat pembaca sulit mengingatnya. Judul yang dibuat atau dipilih harus memiliki daya tarik untuk mendorong orang membaca karangan tersebut. Judul dapat berbentuk pertanyaan atau seruan, misalnya:
Sudah Sukseskah Anda?
Narkoba? No Way!
dan sebagainya
Penulisan judul harus sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Huruf awal setiap kata ditulis dengan huruf kapital, kecuali kata depan atau kata tugas yang berada di tengah. Kata tugas yang berada di awal kalimat judul ditulis dengan huruf kapital.
Contoh hubungan antara tema, topik, tujuan, dan judul dalam perencanaan membuat karangan:
Tema : Perpustakaan sekolah
Topik : - Perpustakaan sekolah
Sebagai sumber belajar
Memanfaatkan perpustakaan sekolah
Perpustakaan sekolah sarana berkumpul
Judul :
Ngerumpi Positif di Perpus, yah !
Menggali Ilmu di Perpustakaan
Perpustakaan Solusi Cerdas
Tujuan : - Memotivasi siswa agar memanfaatkan perpustakaan sekolah sebagai sarana menggali ilmu dan tempat
berkumpul sesama siswa.
B. Pola Pengembangan Karangan
Semua pokok pikiran yang telah ditulis sebagai penjabaran tema dan sesuai dengan tujuan penulisan disusun serta dirumuskan menjadi kerangka karangan. Penyusunan kerangka karangan bertujuan untuk mengorganisasi tiap gagasan pokok, mana yang lebih dahulu dibahas dan mana yang kemudian dan seterusnya.
Dengan susunan kerangka karangan, penulis juga dapat mengevaluasi pokok pikiran atau gagasan yang tidak perlu sehingga harus dihilangkan serta pokok pikiran yang tumpang tindih. Pokok pikiran yang telah disusun
harus saling berkaitan sesuai dengan tema yang ditetapkan.
Dari kerangka karangan, karangan dapat dikembangkan dengan sistematis. Setiap topik atau gagasan pokok yang ada dalam karangan dijabarkan menjadi paragraf. Di dalam paragraf, terdapat satu pokok pikiran yang tertuang menjadi kalimat utama. Kalimat utama dapat berada di awal paragraf, dapat juga di akhir bergantung pada pola pengembangan yang dipilih. Jika berada di awal, disebut paragraf deduktif, sedangkan jika berada di akhir, disebut paragraf induktif.
Perhatikan gambar berikut ini!

Contoh paragrafnya :
Arang aktif adalah sejenis arang yang diperoleh dari suatu pembakaran yang mempunyai sifat tidak larut dalam air. Arang ini dapat diperoleh dari pembakaran zat-zat tertentu, seperti ampas debu, tempurung kelapa, dan tongkol jagung. Jenis arang ini banyak digunakan dalam beberapa industri pangan atau nonpangan. Industri yang menggunakan arang aktif adalah industri kimia dan farmasi seperti pekerjaan memurnikan minyak, menghilangkan yang tidak murni, dan menguapkan zat yang tidak perlu.
kalimat utama

Contoh paragrafnya:
Dua anak kecil ditemukan tewas di pinggir jalan Jenderal Sudirman. Seminggu kemudian seorang anak wanita hilang ketika pulang dari sekolah. Sehari kemudian polisi menemukan bercak-bercak darah di kursi belakang mobil John. Polisi juga menemukan potret dua orang anak yang tewas di jalan Jenderal Sudirman di dalam kantung celana John. Dengan demikian, John adalah orang yang dapat dimintai pertanggungjawaban tentang
hilangnya tiga anak itu.

Kalimat utama juga bisa berada di awal dan di akhir. Biasanya kalimat utama di akhirnya hanya bersifat penegasan kembali apa yang telah tertuang di awal paragraf.
Perhatikan contoh berikut:

Contoh paragrafnya:
Pemerintah menyadari bahwa rakyat Indonesia memerlukan rumah murah, sehat, dan kuat. Departemen PU sudah lama menyelidiki bahan rumah yang murah, tetapi kuat. Agaknya bahan perlit yang diperoleh dari batu-batuan gunung berapi sangat menarik perhatian para ahli. Bahan ini tahan api dan tahan air. Lagi pula, bahan perlit dapat dicetak menurut keinginan seseorang. Usaha ini menunjukkan bahwa pemerintah berusaha membangun rumah murah, sehat dan kuat untuk memenuhi keperluan rakyat.
Paragraf juga ada yang berisi kalimat utama seluruhnya. Setiap kalimat merupakan pikiran pokok dan masing-masing berdiri sendiri. Namun, paragraf seperti itu jarang ditemui. Paragraf seperti ini biasanya terdapat pada karangan narasi.

Contoh paragrafnya:

Pagi hari aku duduk di bangku panjang dalam taman di belakang rumah. Matahari belum tinggi benar, baru sepenggalah. Sinar matahari pagi menghangatkan badan. Di depanku bermekaran bunga beraneka warna. Kuhirup hawa pagi yang segar sepuas-puasku.Di dalam paragraf, terdapat satu pokok pikiran atau gagasan utama. Yang lainnya adalah kalimat-kalimat penjelas yang menjelaskan kalimat utama. Kalimat penjelas merupakan penjabaran dari subtopik atau pikiranpikiran penjelas. Sebelum membuat paragraf, sebaiknya dibuat dahulu kerangka paragraf.
Perhatikan contoh kerangka paragraf berikut ini!
C. Menulis Berbagai Jenis Cerita
1. Karangan narasi atau cerita
Karangan narasi adalah karangan yang berusaha menciptakan, mengisahkan, merangkaikan tindak-tanduk perbuatan manusia dalam sebuah peristiwa secara kronologis atau yang berlangsung dalam satu kesatuan waktu.
Dalam membuat karangan jenis narasi, yang perlu diperhatikan adalah:
(1). mampu membuat ide cerita yang baru
(2) dapat menerapkan penokohan yang tepat
(3). dapat mengutarakan gaya cerita yang baik
(4). dapat menggunakan gaya bahasa yang pas
Contoh :
Malam itu Ayah kelihatan benar-benar marah. Aku sama sekali dilarang berteman dengan Syairul. Bahkan, Ayah mengatakan bahwa aku akan diantar dan dijemput ke sekolah. Itu semua gara-gara Slamet yang telah memperkenal aku dengan Siti.

2. Karangan deskripsi atau penggambaran
Karangan deskripsi adalah karangan yang menggambarkan keadaan, bentuk, atau suasana tertentu, seperti benda, orang, tempat sesuai dengan objek yang sebenarnya.
Langkah-langkah dalam menyusun karangan deskripsi adalah:
(1). menentukan topik atau tema karangan
(2) menetapkan tujuan
(3) mengadakan pengamatan di lokasi
(4) mengumpulkan bahan
(5) membuat kerangka karangan
(6) mengembangkan kerangka (memulai proses penulisan)
Contoh :
Pasar Tanah Abang adalah sebuah pasar yang sempurna. Semua barang ada di sana. Di toko yang paling depan, berderet toko sepatu dalam dan luar negeri. Di lantai dasar, terdapat toko kain yang lengkap dan berderetderet.
Di samping kanan pasar, terdapat warung-warung kecil penjual sayur dan bahan dapur. Di samping kiri ada pula berjenis-jenis buah-buahan. Pada bagian belakang, kita dapat menemukan berpuluh-puluh pedagang daging.

3.Karangan eksposisi atau pemaparan
Karangan eksposisi adalah karangan yang berisi pemaparan terhadap suatu konsep, gagasan, ide, dengan tujuan menguraikan, mengupas, menerangkan sesuatu yang akan menambah pengetahuan atau wawasan pembaca. Dalam karangan ini, sesuatu diuraikan secara terperinci terkadang dengan penambahan bentuk-bentuk visual seperti grafik, bagan, atau denah.
Langkah-langkah dalam menyusun karangan eksposisi adalah:
(1). menentukan topik paparan
(2). menentukan tujuan paparan
(3). membuat kerangka karangan
(4). mengembangkan kerangka karangan
Contoh :
Pasar Tanah Abang adalah pasar yang kompleks. Di lantai dasar terdapat sembilan puluh kios penjual kain dasar. Setiap hari rata-rata terjual tiga ratus meter untuk setiap kios. Dari data ini, dapat diperkirakan berapa besarnya uang yang masuk ke kas DKI dari Pasar Tanah Abang.

4. Karangan argumentasi
Karangan argumentasi adalah karangan yang berisi pendapat mengenai suatu hal yang disertai alasan-alasan yang logis dan sistematis serta penyajian bukti-bukti dengan tujuan memengaruhi pembaca untuk meyakini atau menyetujui pendapat tersebut. Karangan ini bersifat objektif.
Langkah-langkah dalam menyusun karangan argumentasi adalah:
(1). membuat topik terlebih dahulu
(2). menetapkan tujuan karangan
(3). melakukan observasi lapangan
(4). membuat kerangka karangan
(5). mengembangkan kerangka karangan
(6). membuat kesimpulan
Contoh :
Dua tahun terakhir, terhitung sejak Boeing B-737 milik maskapai
penerbangan Aloha Airlines celaka, isu pesawat tua mencuat ke permukaan. Ini dapat dimaklumi sebab pesawat yang badannya koyak sepanjang 4 meter itu sudah dioperasikan lebih dari 19 tahun. Oleh karena itu, adalah cukup beralasan jika orang menjadi cemas terbang dengan pesawat berusia tua. Di Indonesia, yang mengagetkan, lebih dari 60 persen pesawat yang beroperasi adalah pesawat tua.
5.Karangan Persuasi
Karangan persuasi adalah karangan yang berisi uraian mengenai sikap, pendapat, gagasan, dan perasaan yang bertujuan membuat pembaca percaya, yakin, dan terbujuk akan hal-hal yang diuraikan.
Langkah-langkah dalam pembuatan karangan persuasi adalah:
(1). menentukan topik atau tema persuasi
(2). menetapkan tujuan persuasi
(3). mengadakan pengamatan terhadap objek sasaran
(4). membuat kerangka karangan
(5). mengembangkan kerangka karangan
(6). membuat kesimpulan Contoh :
Sampah yang setiap harinya dibuang terdiri atas sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik adalah sampah yang berasal dari sisa-sisa makanan dan sampah basah yang dapat membusuk. Sampah anorganik ialah sebaliknya yang tak dapat membusuk seperti plastik, kaca, karet, kulit dan sebagainya. Jika setiap harinya sampah dibuang oleh setiap orang, dapat dibayangkan berapa puluh dan ribu ton akan terkumpul. Tidak semuanya dapat didaur ulang. Oleh sebab itu, kita dapat membantu memilah sampah, untuk mengurangi tumpukan sampah, yaitu dengan cara sampah yang organik dapat dikubur di dalam tanah ukuran 3 x 3 m. Kemudian sampah yang anorganik dapat diberikan kepada pemulung untuk didaur ulang. Dengan demikian, kita telah membantu mengurangi tumpukan sampah setiap harinya di pembuangan sampah akhir.

Jumat, 15 Februari 2013

Rangkuman Materi Bahasa Indonesia SMK Kelas X.KD 8, MENGGUNAKAN KALIMAT DENGAN JELAS, LANCAR, BERNALAR DAN WAJAR

A. Tekanan, Intonasi, Nada, Irama, dan Jeda
Pada pelajaran–pelajaran terdahulu telah dibahas mengenai unsur bunyi, lafal, intonasi, dan jeda. Pada bab ini akan disinggung kembali tentang lafal, intonasi, nada, irama, dan jeda yang berkaitan dengan cara menggunakan kalimat dengan jelas ,lancar, bernalar, dan wajar.
Penggunaan kalimat secara lisan dituntut kejelasan dan kelancaran. Jelas dalam pengucapan dan lancar dalam penyampaian. Untuk membuat kalimat menjadi jelas dan lancar sehingga dapat dipahami dengan baik oleh pendengar, perlu dicermati cara pengucapan kalimat berdasarkan tekanan, intonasi, nada, irama, dan jeda yang tepat.
Tekanan berhubungan dengan keras lembutnya ucapan. Biasanya digunakan untuk menunjukkan bagian kalimat yang ditonjolkan atau dipentingkan. Pengucapannya dapat didukung oleh ekspresi atau mimik wajah yang serius. Contoh :
1. Dia telah pergi ke luar negeri kemarin.(yang dipentingkan adalah aspek waktu kemarin bukan sekarang atau besok)
2. Dia telah pergi ke luar negeri kemarin.(yang dipentingkan adalah aspek tempat ke luar negeri, bukan ke tempat yang lain)
3. Dia telah pergi ke luar negeri kemarin.(yang dipentingkan adalah aspek predikat, yaitu telah pergi bukan baru tiba atau pulang)
4. Dia telah pergi ke luar negeri kemarin.(yang pentingkan adalah aspek pelaku, yaitu dia bukan saya atau Anda)
Intonasi berkaitan dengan naik-turunnya pengucapan kalimat. Intonasi ditandai dengan lambang titinada 1, 2, 3, dan 4. Angka 1 menunjukkan titinada terendah dan angka 4 menunjukkan titinada tertinggi. Satu kalimat dapat diungkapkan dalam beberapa maksud sesuai dengan intonasi pengucapannya.

Penggunaan irama berkaitan dengan panjang pendeknya pengucapan. Irama berhubungan dengan tempo bicara. Tempo bicara juga dapat ditentukan oleh suasana hati pembicara. Tempo bicara yang cepat sering menandakan
suasana hati yang riang atau serius namun dapat juga suasana marah. Tempo diperlambat saat menegaskan suatu hal yang dianggap penting, sedangkan tempo pengucapan yang pendek atau terpatah-patah mengesankan suasana panik atau gugup. Pengucapan dengan irama akhir yang panjang biasanya digunakan untuk kalimat interjeksi atau seruan, seperti memanggil, takjub, keheranan, atau kesakitan termasuk juga ucapan pertanyaan dengan nada kaget atau tidak yakin.
Penggunaan intonasi, nada, dan irama yang bervariasi terjadi pada percakapan atau dialog, seperti percakapan lewat pesawat telepon yang tidak berhadapan dan tidak melihat langsung pembicaranya. Saat bicara, intonasi menjadi hal yang penting untuk menyampaikan maksud perkataan. Demikian pula dalam dialog drama, pengucapan kalimat selalu didukung oleh tekanan, intonasi, nada, dan irama yang tepat selain ekspresi dan gerakan sehingga dialog hidup dan dipahami oleh penontonnya
.Contoh dialog drama:

.”Diam semua. Tiba-tiba meledak tawa mereka bersama-sama.

Di samping tekanan, intonasi, nada, dan irama, unsur suprasegmental yang perlu diperhatikan dalam berbicara khususnya pengucapan kalimat ialah jeda atau penghentian. Jeda berfungsi menandakan batasan kalimat. Dalam tulisan, jeda ditandai dengan spasi atau tanda baca titik (.), koma (,), garis miring (/), atau tanda pagar (#). Jeda juga dapat digunakan untuk membuat sebuah kalimat panjang menjadi dua kalimat pendek tanpa mengubah pengertian.
Contoh :
Perampokan serta pembunuhan terjadi di rumah seorang pengusaha karpet yang membuat gempar penduduk sekitarnya. Perampokan serta pembunuhan terjadi di rumah seorang pengusaha karpet. Kejadian itu membuat gempar penduduk sekitarnya. Dalam bahasa lisan, aspek yang menjadi unsur gramatikal cenderung tersirat. Faktor pendukung yang digunakan adalah pola tekanan, intonasi, nada, irama, dan jeda selain ekspresi dan gerakan. Penggunaan tekanan, intonasi, nada, irama, dan jeda yang tepat membuat kalimat yang diucapkan mudah dipahami serta terhindar dari kesalahpahaman atau salah nalar. Pengucapan kalimat dengan tekanan, intonasi, nada, dan irama serta jeda yang tepat sesuai maksud yang ingin diungkapkan membuat kalimat menjadi jelas, lancar, bernalar, dan wajar.
B. Membaca Indah
Kata-kata yang indah merupakan ciri laras bahasa sastra. Yang termasuk sastra ialah prosa, puisi, dan drama. Ketiga bentuk sastra tersebut tidak saja dapat dibaca untuk diri sendiri, tapi juga dibacakan untuk orang lain atau dipertunjukkan. Selain pementasan drama, banyak akhir-akhir ini yang mengadakan acara pembacaan puisi atau cerpen.
Di samping dibutuhkan penghayatan terhadap isi atau kandungan karya sastra, pembacaan karya sastra juga perlu memahami tokoh, watak, gaya bahasa, dan maksud setiap ucapan tokohnya dalam percakapan atau dialog.
Saat membacakan percakapan atau dialog penggunaan tekanan, intonasi, nada, irama, dan jeda harus diperhatikan. Penggunaan tekanan, intonasi, nada, irama, dan jeda yang tepat membuat pendengar dapat menikmati pembacaan karya sastra dengan memahami jalan cerita serta unsur-unsur intrinsiknya seperti tema, tokoh, watak tokoh, setting, amanah, sudut pandang, dan gaya bahasa.
Khusus karya sastra berbentuk puisi, pembacaannya harus memerhatikan unsur-unsur pembangun puisi, misalnya diksi (pilihan kata), gaya bahasa, tipografi, persajakan (rima), dan pencitraan. Di dalam puisi, tokoh biasanya tersembunyi sehingga pembaca puisi harus memahami terlebih dahulu tema puisi dan pesan yang ingin diungkapkan dalam puisi tersebut. Tema dan kandungan isi dapat ditelaah lewat judul, pilihan kata, dan simbol-simbol yang digunakan pada puisi. Pemakaian kata dalam puisi tidak sepenuhnya bermakna denotasi, tapi dapat bermakna konotasi atau kias. Kata-kata bermakna kias atau idiom serta bentuk ungkapan metaforis lainnya harus dipahami terlebih dahulu. Pemahaman terhadap isi puisi dan kata-kata yang digunakan, mendorong seseorang untuk terampil memberikan tekanan, intonasi, nada, dan irama pada pembacaan setiap larik puisi. Demikian pula pada kata atau kelompok kata yang merupakan kesatuan arti, pembaca dituntut berhati-hati dalam memberikan jeda atau penghentian sehingga tidak mengaburkan arti.
Berikut ini, hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum membaca puisi.
1. Bacalah secara keseluruhan puisi tersebut untuk menangkap kandungan maknanya secara umum.
2. Pahami maksud dari setiap lirik.
3. Pahami suasana puisi yaitu, haru, kecewa, semangat, dan sedih.
4. Perhatikan rima persamaan bunyi.
5. Perhatikan perulangan kata yang ada bentuk repetisi.
6. Berikan tanda jeda pada kata-kata, frasa, atau klausa yang mengandung kesatuan arti.
7. Berikan aksen pada kata yang diulang.
8. Perhatikan kata-kata yang bermakna kias.Contoh penandaan aksentuasi pada puisi :
C. Membaca Teks Pengumuman

)
Teks pengumuman bersifat informatif, artinya apa yang ada dalam teks pengumuman harus diketahui oleh khalayak yang dituju. Oleh karena itu, dalam membacakan pengumuman, tidak boleh asal membaca agar isi pengumuman dapat dipahami. Penggunaan tekanan, intonasi, dan lainnya juga perlu diperhatikan. Biasanya ada bagian-bagian isi pengumuman yang wajib diketahui dan dimengerti oleh pendengar. Bagian penting ini dibacakan dengan tekanan keras, tempo lambat, dan intonasi yang jelas. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membaca pengumuman adalah sebagai berikut.
1. Membacakannya dengan suara yang cukup terdengar oleh pendengar.
2. Kata Pengumuman yang biasanya ditulis sentering diberikan aksen pada awal dan suku akhirnya.
3. Kata atau frasa yang menjadi hal penting diberikan aksen (tekanan)
4. Perincian dibaca dengan tempo yang lebih lembut
5. Kalimat yang panjang dibaca per frasa atau klausa
6.Perhatikan tanda baca seperti tanda titik (.), tanda koma (,), tanda titik dua (:), tanda titik koma (;), dan sebagainya.
7.Dalam setiap frasa atau klausa yang biasanya dijeda karena tedapat tanda koma (,) diberi aksen menaik atau diucapkan lebih panjang. Contoh : Siswa yang akan mendaftar ,.....
:Contoh : PENGUMUMAN

Membaca pidato tidak jauh berbeda dengan membaca teks pengumuman. Pada dasarnya, pengucapannya diupayakan jelas, lancar, dan wajar.


RANGKUMAN MATERI BAHASA INDONESIA, KELASX.2.1KD 8

MENGGUNAKAN KALIMAT DENGAN JELAS, LANCAR,BERNALAR DAN WAJAR

A. Tekanan, Intonasi, Nada, Irama, dan Jeda
Pada pelajaran–pelajaran terdahulu telah dibahas mengenai unsur bunyi, lafal, intonasi, dan jeda. Pada bab ini akan disinggung kembali tentang lafal, intonasi, nada, irama, dan jeda yang berkaitan dengan cara menggunakan kalimat dengan jelas ,lancar, bernalar, dan wajar.
Penggunaan kalimat secara lisan dituntut kejelasan dan kelancaran. Jelas dalam pengucapan dan lancar dalam penyampaian. Untuk membuat kalimat menjadi jelas dan lancar sehingga dapat dipahami dengan baik oleh pendengar, perlu dicermati cara pengucapan kalimat berdasarkan tekanan, intonasi, nada, irama, dan jeda yang tepat.
Tekanan berhubungan dengan keras lembutnya ucapan. Biasanya digunakan untuk menunjukkan bagian kalimat yang ditonjolkan atau dipentingkan. Pengucapannya dapat didukung oleh ekspresi atau mimik wajah yang serius. Contoh :
1. Dia telah pergi ke luar negeri kemarin.(yang dipentingkan adalah aspek waktu kemarin bukan sekarang atau besok)
2. Dia telah pergi ke luar negeri kemarin.(yang dipentingkan adalah aspek tempat ke luar negeri, bukan ke tempat yang lain)
3. Dia telah pergi ke luar negeri kemarin.(yang dipentingkan adalah aspek predikat, yaitu telah pergi bukan baru tiba atau pulang)
4. Dia telah pergi ke luar negeri kemarin.(yang pentingkan adalah aspek pelaku, yaitu dia bukan saya atau Anda)
Intonasi berkaitan dengan naik-turunnya pengucapan kalimat. Intonasi ditandai dengan lambang titinada 1, 2, 3, dan 4. Angka 1 menunjukkan titinada terendah dan angka 4 menunjukkan titinada tertinggi. Satu kalimat dapat diungkapkan dalam beberapa maksud sesuai dengan intonasi pengucapannya.

Penggunaan irama berkaitan dengan panjang pendeknya pengucapan. Irama berhubungan dengan tempo bicara. Tempo bicara juga dapat ditentukan oleh suasana hati pembicara. Tempo bicara yang cepat sering menandakan
suasana hati yang riang atau serius namun dapat juga suasana marah. Tempo diperlambat saat menegaskan suatu hal yang dianggap penting, sedangkan tempo pengucapan yang pendek atau terpatah-patah mengesankan suasana panik atau gugup. Pengucapan dengan irama akhir yang panjang biasanya digunakan untuk kalimat interjeksi atau seruan, seperti memanggil, takjub, keheranan, atau kesakitan termasuk juga ucapan pertanyaan dengan nada kaget atau tidak yakin.
Penggunaan intonasi, nada, dan irama yang bervariasi terjadi pada percakapan atau dialog, seperti percakapan lewat pesawat telepon yang tidak berhadapan dan tidak melihat langsung pembicaranya. Saat bicara, intonasi menjadi hal yang penting untuk menyampaikan maksud perkataan. Demikian pula dalam dialog drama, pengucapan kalimat selalu didukung oleh tekanan, intonasi, nada, dan irama yang tepat selain ekspresi dan gerakan sehingga dialog hidup dan dipahami oleh penontonnya
.Contoh dialog drama:

.”Diam semua. Tiba-tiba meledak tawa mereka bersama-sama.


Di samping tekanan, intonasi, nada, dan irama, unsur suprasegmental yang perlu diperhatikan dalam berbicara khususnya pengucapan kalimat ialah jeda atau penghentian. Jeda berfungsi menandakan batasan kalimat. Dalam tulisan, jeda ditandai dengan spasi atau tanda baca titik (.), koma (,), garis miring (/), atau tanda pagar (#). Jeda juga dapat digunakan untuk membuat sebuah kalimat panjang menjadi dua kalimat pendek tanpa mengubah pengertian.
Contoh :
Perampokan serta pembunuhan terjadi di rumah seorang pengusaha karpet yang membuat gempar penduduk sekitarnya. Perampokan serta pembunuhan terjadi di rumah seorang pengusaha karpet. Kejadian itu membuat gempar penduduk sekitarnya. Dalam bahasa lisan, aspek yang menjadi unsur gramatikal cenderung tersirat. Faktor pendukung yang digunakan adalah pola tekanan, intonasi, nada, irama, dan jeda selain ekspresi dan gerakan. Penggunaan tekanan, intonasi, nada, irama, dan jeda yang tepat membuat kalimat yang diucapkan mudah dipahami serta terhindar dari kesalahpahaman atau salah nalar. Pengucapan kalimat dengan tekanan, intonasi, nada, dan irama serta jeda yang tepat sesuai maksud yang ingin diungkapkan membuat kalimat menjadi jelas, lancar, bernalar, dan wajar.

B. Membaca Indah
Kata-kata yang indah merupakan ciri laras bahasa sastra. Yang termasuk sastra ialah prosa, puisi, dan drama. Ketiga bentuk sastra tersebut tidak saja dapat dibaca untuk diri sendiri, tapi juga dibacakan untuk orang lain atau dipertunjukkan. Selain pementasan drama, banyak akhir-akhir ini yang mengadakan acara pembacaan puisi atau cerpen.
Di samping dibutuhkan penghayatan terhadap isi atau kandungan karya sastra, pembacaan karya sastra juga perlu memahami tokoh, watak, gaya bahasa, dan maksud setiap ucapan tokohnya dalam percakapan atau dialog.
Saat membacakan percakapan atau dialog penggunaan tekanan, intonasi, nada, irama, dan jeda harus diperhatikan. Penggunaan tekanan, intonasi, nada, irama, dan jeda yang tepat membuat pendengar dapat menikmati pembacaan karya sastra dengan memahami jalan cerita serta unsur-unsur intrinsiknya seperti tema, tokoh, watak tokoh, setting, amanah, sudut pandang, dan gaya bahasa.
Khusus karya sastra berbentuk puisi, pembacaannya harus memerhatikan unsur-unsur pembangun puisi, misalnya diksi (pilihan kata), gaya bahasa, tipografi, persajakan (rima), dan pencitraan. Di dalam puisi, tokoh biasanya tersembunyi sehingga pembaca puisi harus memahami terlebih dahulu tema puisi dan pesan yang ingin diungkapkan dalam puisi tersebut. Tema dan kandungan isi dapat ditelaah lewat judul, pilihan kata, dan simbol-simbol yang digunakan pada puisi. Pemakaian kata dalam puisi tidak sepenuhnya bermakna denotasi, tapi dapat bermakna konotasi atau kias. Kata-kata bermakna kias atau idiom serta bentuk ungkapan metaforis lainnya harus dipahami terlebih dahulu. Pemahaman terhadap isi puisi dan kata-kata yang digunakan, mendorong seseorang untuk terampil memberikan tekanan, intonasi, nada, dan irama pada pembacaan setiap larik puisi. Demikian pula pada kata atau kelompok kata yang merupakan kesatuan arti, pembaca dituntut berhati-hati dalam memberikan jeda atau penghentian sehingga tidak mengaburkan arti.
Berikut ini, hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum membaca puisi.
1. Bacalah secara keseluruhan puisi tersebut untuk menangkap kandungan maknanya secara umum.
2. Pahami maksud dari setiap lirik.
3. Pahami suasana puisi yaitu, haru, kecewa, semangat, dan sedih.
4. Perhatikan rima persamaan bunyi.
5. Perhatikan perulangan kata yang ada bentuk repetisi.
6. Berikan tanda jeda pada kata-kata, frasa, atau klausa yang mengandung kesatuan arti.
7. Berikan aksen pada kata yang diulang.
8. Perhatikan kata-kata yang bermakna kias.Contoh penandaan aksentuasi pada puisi :
C. Membaca Teks Pengumuman
Teks pengumuman bersifat informatif, artinya apa yang ada dalam teks pengumuman harus diketahui oleh khalayak yang dituju. Oleh karena itu, dalam membacakan pengumuman, tidak boleh asal membaca agar isi pengumuman dapat dipahami. Penggunaan tekanan, intonasi, dan lainnya juga perlu diperhatikan. Biasanya ada bagian-bagian isi pengumuman yang wajib diketahui dan dimengerti oleh pendengar. Bagian penting ini dibacakan dengan tekanan keras, tempo lambat, dan intonasi yang jelas. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membaca pengumuman adalah sebagai berikut.
1. Membacakannya dengan suara yang cukup terdengar oleh pendengar.
2. Kata Pengumuman yang biasanya ditulis sentering diberikan aksen pada awal dan suku akhirnya.
3. Kata atau frasa yang menjadi hal penting diberikan aksen (tekanan)
4. Perincian dibaca dengan tempo yang lebih lembut
5. Kalimat yang panjang dibaca per frasa atau klausa
6.Perhatikan tanda baca seperti tanda titik (.), tanda koma (,), tanda titik dua (:), tanda titik koma (;), dan sebagainya.
7.Dalam setiap frasa atau klausa yang biasanya dijeda karena tedapat tanda koma (,) diberi aksen menaik atau diucapkan lebih panjang. Contoh : Siswa yang akan mendaftar ,.....
:Contoh : PENGUMUMAN

Membaca pidato tidak jauh berbeda dengan membaca teks pengumuman. Pada dasarnya, pengucapannya diupayakan jelas, lancar, dan wajar.

Senin, 17 Desember 2012

Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran Posted on 12 September 2008 by PAPA OVI AISHITERU AREMA, FROM:AKHMAD SUDRAJAT

Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran
Pengertian Pendekatan, Strategi, Metode, Teknik, dan Model Pembelajaran
Posted on 12 September 2008 by PAPA OVI AISHITERU AREMA, FROM:AKHMAD SUDRAJAT this.value
Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah:
Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu:

(1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan

(2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered

Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu:

1.Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.

2.Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.

3.Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.

4.Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.

Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:

1.Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.

2.Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.

3.Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.

4.Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.
Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.
Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.
Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.
Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekalkigus juga seni (kiat)
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.

Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:

Di luar istilah-istilah tersebut, dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran. Jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktivitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Jika dianalogikan dengan pembuatan rumah, strategi membicarakan tentang berbagai kemungkinan tipe atau jenis rumah yang hendak dibangun (rumah joglo, rumah gadang, rumah modern, dan sebagainya), masing-masing akan menampilkan kesan dan pesan yang berbeda dan unik. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) rumah yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe rumah yang akan dibangun.
Berdasarkan uraian di atas, bahwa untuk dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, seorang guru dituntut dapat memahami dan memliki keterampilan yang memadai dalam mengembangkan berbagai model pembelajaran yang efektif, kreatif dan menyenangkan, sebagaimana diisyaratkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Mencermati upaya reformasi pembelajaran yang sedang dikembangkan di Indonesia, para guru atau calon guru saat ini banyak ditawari dengan aneka pilihan model pembelajaran, yang kadang-kadang untuk kepentingan penelitian (penelitian akademik maupun penelitian tindakan) sangat sulit menermukan sumber-sumber literarturnya. Namun, jika para guru (calon guru) telah dapat memahami konsep atau teori dasar pembelajaran yang merujuk pada proses (beserta konsep dan teori) pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, maka pada dasarnya guru pun dapat secara kreatif mencobakan dan mengembangkan model pembelajaran tersendiri yang khas, sesuai dengan kondisi nyata di tempat kerja masing-masing, sehingga pada gilirannya akan muncul model-model pembelajaran versi guru yang bersangkutan, yang tentunya semakin memperkaya khazanah model pembelajaran yang telah ada.

==========
Sumber:

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.

Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.

Udin S. Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Beda Strategi, Model, Pendekatan, Metode, dan Teknik Pembelajaran (http://smacepiring.wordpress.com/)

Rabu, 14 November 2012

FUNGSI UMUM PENDIDIKAN/PERSEKOLAHAN



A.Pendidikan dan Persekolahan
Pendidikan pada dasarnya adalah upaya yang dilakukan secara sadar untuk mendewasakan peserta didik, yang ditandai oleh adanya kemandirian dari diri peserta didik. Kemandirian yang dimaksudkan disini adalah kemampuan mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri tanpa harus selalu tergantung pada orang lain. Kemandirian peserta didik dapat dilihat dari beberapa indikator:
1.Adanya sifat kestabilan dan kemantapan
Kestabilan ini mencakup kestabilan dalam tingkah laku, pandangan hidup dan kestabilan dalam nilai-nilai yang dianut. Kestabilan dalam perilaku berarti seseorang yang segala perbuatannya, tingkah lakunya senantgiasa berdasarkan atas suatu rencana yang telah dipikirkan dan dipertimbangkan secara matang. Artinya peserta didik yang memiliki kestabilan adalah mereka yang selalu berupaya memikirkan secara matang untung dan rugi, apa kaitannya dengan nilai-nilai yang di masyarakat sebelum dia berperilaku atau mengambil suatu keputusan yang berkaitan dengan kehidupan sosialnya di masyarakat.
Kestabilan disini bukanlah dalam pengertian kaku (tidak dapat diubah-ubah) tetapi kestabilan yang dinamis dalam arti perilaku daapat berubah meskipun sudah direncanakan, tetapi perubahan ini didasarkan pertiumbangan-pertimbangan yang sangat rasional. Dengan kata lain terjadinya perubahan terhadap suatu keputusan yang telah diambil seseorang atas dasar pemikiran yang matang juga berarti suatu kematapan dalam keputusan.
Kestabilan dalam pandangan hidup berarti bahwa dengan kesadaran dan keyakinan seseorang telah menganut suatu pandangan hidup/keagamaan tertentu secara utuh dengan tidak mudah tergoyahkan oleh factor apapun.
Kestabilan dalam nilai-nilai yaitu segala perbuatan/perilaku dan sikapnya selalu didasarkan kepada nilai-nilai kehidupan/kemasyarakatan serta nilai-nilai dalam berbangsa dan bernegara.


2.Adanya sikap tanggung jawab
Sikap tanggung jawab mencakup tiga hal pokok yaitu tanggung jaawab individu, tanggung jawab sosial dan tanggung jawab susila.
Tangung jawab individu berarti seorang yang berani berbuat, berani bertanggung jawab tentang segala resiko dari perbuatannya. Menolak tanggung jawab deang alas an yang benar dan dianggap benar oleh semua orang juga berarti bertanggung jawab.
Tanggung jawab sosial berarti bahwa semua perbuatan yang dilakukan seseorang harus sudah dipikirkan akibat-akibatnya atau untung ruginya bagi orang lain, masyarakat dan lingkungannya.
Tanggung jawab susila berarti bahwa perbuatan seseorang harus sesuai dengan norma-norma susula, moral dan etika.. Oleh sebab itu segala perilakukan harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral dan etika. Karena itu pendidikan pada dasarnya juga harus membentuk nilai moral dan ettika kepada peserta didik untuk dapat mempersiapkan ekemandirian dan kemampuan bertanggung jawab secara moral.

3.Adanya sifat mandiri
Mandiri berarti bahwa segala perbuatan yang dilakukan seseorang adalah atas dasar pilihannya sendiri, ditentukan dan diputuskan atas kemauan sendiri dengan pertimbangan yang matang. Apa yang dipilih, ditentukan dan diperbuat memang diputuskan atas dorongan dari dalam diri sendiri bukan karena desakan atau paksaan orang lain. Keputusan yang diambil berdasarkan masukan/saran-saran dari sejumlah orang juga berarti keputusannya sendiri, sejauh saran dan masukan dari olrang lain tersebut hanya manjadi bahan untuk memikirkan dan mempertimbangkan keputusan yang terbaik menurut dirinya sendiri, tanpa menggantungkan harapan kepada orang lain. Mandiri secara ekonomi berarti bahwa seseorang yang mengaku dirinya dewasa maka ia sudah memiliki kemampuan untuk menghidupi dirinya sendiri, membeiayai kehidupannya atas dasar usahanya sendiri, bukan karena meminta atau disokong (support) oleh orang lain. Usaha sendiri bukan berartri tidak boleh bekerja pada orang lain.
Dengan demikian berarti pendidikan dapat pula diandang sebagai suatu lembaga yang melakukan kegiatan dalam rangka mendewasakan manusia melakukan berbagai aktivitas mendidik dalam wujud pemberian pengalaman-pengalaman belajar, berlatih dan melakukan berbagai kegiatan kepada semua peserta didik (manusia yang belum dewasa). Pengalaman-pengalaman yang diperoleh melalui kegiatan-kegiatan pendidikan adalah merupakan gejala yang bersifat universal dari suatu masyarakat. Isi dan corak dari pengalaman-pengalaman pendidikan tersebut sangat bervariasi sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat yang memiliki latar belakang budaya, nilai, keyakinan, filosofi yang berbeda. Sifat-sifat universal dari pengalaman-pengalaman pendidikan dapat memberikan kontribusi pengembangan masyarakat dan kebutuhan bagi semua masyarakat untuk mempertahankan nilai-nilai warisan budayanya, dan menanamkan terhadap generasi muda nilai-nilai luhur budaya, cita-cita, kebiasaan-kebiasaan, dan standar perilaku dari budaya masyarakatnya.
Pendidikan sebagai suatu wahana untuk mendewasakan manusia lainnya dilakukan dalam suatu proses. Proses dimana anak belajar mengenal cara hidup dan berperilaku, kebiasaan-kebiasaan serta nilai-nilai budaya masyarakat yang disebut sebagai proses enkulturasi. Pada waktu yang sama semua anggota masyarakat harus belajar bagaimana mereka menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakatnya. Suatu proses dimana generasi muda belajar terhadap nilai-nilai atau kebiasaan-kebiasaan baru tersebut disebut alkulturasi. Dua proses enkulturasi dan alkulturasi tersebut berjalan seiring, berkesinambungan dan saling pengaruh mempengaruhi, sampai pada akhirnya masyarakat merasa memiliki kemantapan nilai-nilai tertentu yang diyakininya sebagai nilai yang dapat membawa kebaikan bagi kehidupannya. Semua orang di dalam masyarakat harus mengadaptasi pola-pola perilaku dan sistem nilai serta cara berfikir yang sudah mantap. Akan tetapi dalam kenyataannya sistem nilai, pola perilaku dan cara-cara berfikir tersebut juga mengalami perubahan, seiring dengan perubahan budaya baik sebagai akibat masuknya budaya lain maupun sebagai akibat kemajuan budaya masyarakat setempat akibat proses pendidikan itu sendiri. Kegagalan seseoran individu yang berada dalam suatu lingkungan untuk mengadaptasi nilai-nilai baru yang tumbuh dan berkembang di lingkungannya dapat mengakibatkan resiko konflik dan mungkin stagnasi, bahkan seseorang dapat terisolasi dari lingkungan masyarakat dimana dia berada apabila dia gagal dalam mengadaptasi diri. Oleh karena itu pendidikan berfungsi pula untuk mempersiapkan peserta didik kemampuan penyesuaian diri dengan lingkungannya. Sehingga sekolah secara kelembagaan tidak dapat dipisahkan dengan lingkungannya dalam pembentukan anak secara utuh.
Ini berarti kegagalan dalam beradaptasi merupakan ancaman bagi eksistensi seorang individu dalam lingkungan dimana dia berada, agar mereka tidak mengalami kegagalan tersebutlah sekolah berperan membantu memfasilitas anak. Tingkat dan intensitas terjadinya modifikasi-modifikasi tersebut sangat bervariasi antar sistem budaya masyarakat yang satu dengan sistem budaya masyarakat yang lain. Akan tetapi secara umum, tanpa memandang tingkat kemajuan masyarakat, apakah masyarakat tersebut berpendidikan atau tidak, masyarakat pra-industri atau masyarakat industri, masyarakat tradisional ataupun masyarakat yang telah maju, proses-proses pembudayaan melalui proses sosialisasi dan edukasi dari generasi muda, selalu terjadi dan pasti menghadapi masalah-masalah. Berbagai permasalahan dalam proses adaptasi tersebut menjadi kewajiban orang tua, sekolah dan masyarakat untuk memfasilitasinya.
Pembicaraan tentang kebudayaan dan sekolah sering membatasi penggunaan istilah edukasi dan sosialisasi. Edukasi sering dihubungkan dengan belajar dalam sekolah formal, sedang sosialisasi dianggap suatu konsep yang memiliki makna yang lebih luas, yaitu meliputi segala hal yang berhubungan dengan upaya belajar untuk menyesuaikan dan mengadopsi nilai-nilai baru. Meskipun sebenarnya edukasi dan sosialisasi keduanya bermuara pada tujuan akhir pendewasaan seseorang. Adakalanya seseorang dapat beradaptasi terhadap nilai baru sebagai akibat dari keikutsertaannya dalam pencarian informasi melalui sosialisasi. Dengan demikian sosialisasi pada dasarnya merupakan salah satu cara dalam proses edukasi.
Tumbuh dan berkembangnua budaya masyarakat dapat terbentuk melalui kedua proses tersebut, yaitu proses sosialisasi dan edukasi, walau proses-proses tersebut tidak dapat diabstraksikan dari cakupan budaya dan struktur sosial, agaknya aspek-aspek tersebut dapat dimengerti sebagai bagian dari aspek kebudayaan.
Proses pendidikan secara formal dilakukan melalui system persekolahan, pada umumnya dipandang sebagai proses terbuka. Proses pendidikan secara formal ini bersifat terbuka sehingga dapat diketahui dan terlihat oleh siapapun, dan diorganisasi secara baik, mulai dari penagturan peserta didik sempai pada pengaturan kapan seseorang harus belajar dan apa yang harus dipelajari pada waktu tertentu sampai pada pengaturan system penilaian sebagai bukti terjadinya perubahan pada diri individu sebagai akibat proses pendidikan. Akan tetapi baik edukasi maupun sosialisasi juga dapat terjadi secara informal dan bersifat tertutup, dan bahkan sebagian tidak disadari oleh individu yang bersangkutan.
Dalam beberapa masyarakat, misalnya pada kelompok-kelompok masyarakat tribal, terutama di negara-negara sedang berkembang dari Dunia Ketiga, proses edukasi dan sosialisasi dari generasi muda berlangsung tidak selalu melalui prosedur dan jalur belajar formal yang ekstensif. Namun demikian proses “ schooling” atau persekolahan sebenarnya selalu terjadi dimana-mana, dan masyarakat sukar menghindari diri dari proses belajar mengajar formal tersebut, baik di dalam masyarakat di desa-desa, masyarakat yang hidup di padang pasir, masyarakat di lereng-lereng gunung, semuanya sekarang pasti telah dijamah oleh proses “schooling” tersebut. Sifat universal dari sekolah-sekolah dan proses schooling tersebut dapat digolongkan menjadi enam golongan besar :
1. Sekolah-sekolah yang memberikan dasar-dasar pengetahuan untuk menyadari dirinya sebagai warga masyarakat dan warga negara. Sekolah-sekolah ini meliputi pendidikan tingkat kanak-kanak, sekolah dasar, dan sekolah lanjutan.
2. Sekolah-sekolah yang memberikan pengetahuan tingkat lanjut di perguruan tinggi, yang memberikan pendidikan dan latihan spesialist.
3. Sekolah-sekolah yang berorientasi pada pendidikan keagamaan.
4. Sekolah-sekolah yang menyiapkan generasi muda menjadi militer.
5. Sekolah-sekolah kejuruan yang berorientasi pada kerja, dan
6. Sekolah-sekolah dalam bentuknya yang lain misalnya sekolah yang dipersiapkan untuk menyebarluaskan pengetahuan tertentu, misalnya sekolah untuk kepentingan indoktrinasi, sekolah untuk menyiapkan guru-guru agama, dan sekolah-sekolah untuk mempersiapkan tenaga-tenaga profesional lainnya (Chesler and Cave, 1981:2)
Proses dari persekolahan bukan merupakan sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Sekolah-sekolah seperti itu sejak lama telah dipersiapkan oleh masyarakat, dan dimaksudkan untuk melestarikan warisan budaya masyarakat, serta berfungsi untuk melangsungkan proses memajukan masyarakat. Lebih jelasnya tujuan-tujuan yang ingin dicapai melalui proses pendidikan dimanapun proses pendidikan itu berlangsung (melalui persekolahan atau diluar persekolahan) adalah untuk menghasilkan orang-orang agar mereka mengenal dan menyadari dirinya serta bertanggungjawab untuk menyempurnakan/mengembangkan masyarakatnya atau dengan kata lain mendewasakan manusia yang ditandai oleh indikator: bertanggung jawab, mandiri, tidak tergantung atau selalu mengagntungkan diri kepada orang lain, berani mengambil keputusan terbaik untuk dirinya dan masyarakatnya serta menanggung resiko dari keputusan yang diambilnya.
Munculnya sekolah-sekolah formal sebagai konsekuensi dari perkembangan masyarakat, dan kompleksnya tatanan sosial yang ada, serta untuk merespon kebutuhan bagi upaya melestarikan warisan budaya, kontrol sosial dan untuk memajukan masyarakat yang bersangkutan. Kemunculan sekolah ini pada awalnya didasarkan pada kenyataan bahwa pendidikan yang dilaksanakan di lingkungan keluarga oleh orang dewasa di sekitar keluarga, tidak mampu lagi berperan mempersiapkan anggota keluarganya secara intensif dalam memberikan pengalaman belajar untuk menghadapi berbagai kemajuan dan kompleksitas kehidupan dan tatanan sosial budaya yang berkembang secara cepat.
Bagi orang-orang/masyarakat yang menempatkan permikiran pada orientasi edukasi, untuk memajukan masyarakat, tidak menginginkan perubahan-perubahan masyarakat secara radikal, apalagi dengan jalan berontak atau kekerasan untuk melakukan perubahan-perubahan terhadap institusi dan struktur sosial yang ada. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada dasarnya kelembagaan pendidikan itu hakekatnya adalah merupakan lembaga konservatif, yang berfungsi untuk mempertahankan dan mewariskan budaya sambil berusaha mengembangkan budaya bagi kesejahteraan masyarakatanya. Titik tolak atau sentral segala upaya dalam pengembangan budaya yang dilakukan melalui proses persekolahan ataiu proses pendidikan di sekolah pada dasarnya adalah memajukan kehidupan masyarakat, meningkatkan kualitas kehidupan warga masyarakat atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam pengertian yang utuh, yaitu sejahtera dalam arti lahir dan sejahtera dalam arti bathin. Dengan demikian orientasinya bukan semata pada aspek materialistis tetapi juga aspek psikologis dan spritualistis. Oleh sebab itulah maka sekolah dimanapun, dalam kondisi apapun sebagai lembaga pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan masyarakatnya. Mestinya dia tumbuh dan berkembang dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat.
Pada sisi lain sekolah dihadapkan pada kenyataan perkembangan budaya masyarakat yang sangat cepat, perubahan-perubahan yang tejadi terhadap berbagai aspek-aspek budaya dan masyarakat yang begitu cepat menjadikan sekolah mempunyai misi sebagai alat untuk melakukan perubahan-perubahan (agen of change), sesuai dengan tuntutan perkembangan masyarakat. Sekolah berfungsi sebagai alat untuk mengintrodusir nilai-nilai baru yang memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup dan kehidupan masyarakat tanpa meninggalkan nilai lama yang perlu dipertahankan agar dapat diadopsi oleh masyarakat, demi mengadaptasi perkembangan teknologi dan pengetahuan, yang pada akhirnya sebenarnya bertujuan agar kehidupan masyarakat lebih berkualitas.
Jadi adalah tidak mungkin kita berfikir dan memfungsikan sekolah hanya sebagai alat untuk melestarikan kebiasaan-kebiasaan dan tata nilai yang berlaku di dalam masyarakat serta sebagai alat untuk mentransmisikan warisan-warisan budaya masyarakat semata-mata, karena masyarakat akan tertingal dari budaya yang terus menerus berkembang, lebih-lebih pada masa sekarang perkembangan budaya masyarakat jauh lebih cepat dari apa yang dapat dilakukan oleh sekolah. Bersamaan dengan proses pelestarian tersebut, sekolah harus dipandang sebagai agen pembaharuan serta kekuatan yang mampu memciptakan kondisi-kondisi untuk melakukan perubahan-perubahan kearah peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dengan demikian dalam pembicaraan mengenai sekolah ini kita dihadapkan dua kepentingan atau tujuan pokok, yaitu:Melakukan kegiatan-kegiatan pendidikan untuk mempersiapkan anak didik agar dapat mengantisipasi masa depan tanpa harus meninggalkan budaya dan nilai yang sudah menjadi karakteristik masyarakat. Jadi sekolah disatu pihak dapat dipandang sebagai lembaga konservasi nilai-nilai masa lampau dan kedua sebagai agent untuk melakukan perubahan.
Kepentingan tersebut di atas tidak perlu dianggap sebagai asumsi yang harus dipertentangkan, akan tetapi harus ditempatkan di dalam suatu kontinum, yang akan memberi kesempatan kepada pengambil kebijakan, untuk mengambil pilihan-pilihan yang diinginkan, atas pertimbangan-pertimbangan situasi, tempat dan kepentingan tertentu.
Dari uraian-uraian tersebut di atas, nampak bahwa pembicaraan tentang persekolahan tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan tentang masyarakatnya, sebab sekolah diciptakan sebagai lembaga yang berperan dalam mengembangkan masyarakat kearah kemajuan, berkualitas dan sejahtera. Oleh sebab itu sangat tepat kalau tokoh pendidikan Inodonesia Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan itu berpusat pada tiga lembaga yaitu : keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiga lembaga tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dalam proses pembentukan masyarakat yang berkualitas

B. Keluarga sebagai Medium dari Proses Sosialisasi

Pada umumnya para ahli sosiologi menyatakan bahwa proses sosialisasi pertama dan utama serta mekanisme kunci dari proses sosialisasi di dalam semua kebudayaan masyarakat manusia adalah sosialisasi di lignkungan keluarga. Dari keluarga, hal-hal yang berhubungan dengan transformasi anak untuk menjadi anggota masyarakat dilakukan melalui hubungan perkawinan. Di dalam keluarga terjadi sistem interaksi yang intim dan berlangsung lama. Keluarga merupakan kelompok primer yang ditandai oleh loyalitas pribadi, cinta kasih, dan hubungan intim penuh kasih saying diantara anggota kelompok keluarganya masing-masing. Dalam keluarga, anak memenuhi sifat-sifat kemanusiaannya dan berkembang dari insting-insting biogenetik yang primitif untuk belajar terhadap respons-respons sosial. Di dalam keluarga anak belajar melakukan interaksi sosial yang pertama serta mulai mengenal tentang perilaku-perilaku yang diperankan oleh orang lain di lingkungannya. Dengan perkataan lain, pengenalan tentang nilai-nilai budaya masyarakat dimulai dari lingkungan keluarga. Di sini anak juga belajar tentang keunikan pribadi seseorang, dan sifat-sifat kelompok sosial di sekitarnya.
Hampir di semua masyarakat, keluarga dikenal sebagai unit sosial dimana anak mulai memperoleh pengalaman-pengalaman hidupnya. Karena itu lingkungan keluarga merupakan awadah bagi anak-anak anggota keluarga untuk mengenal hubungan-hubungan prokreasi dan kreasi secara syah dan dibenarkan serta diyakini. Di dalam suatu masyarakat, keluarga inti men-jalankan fungsi yang sebenarnya dari masyarakat, sementara pada masyarakat lain, pola-pola kekerabatan memegang fungsi utama dalam membudayakan generasi muda.
Dalam kasus lain, keluarga sering menjalankan fungsi sebagai perantara antara budaya lokal dan unit sosial, dimana nilai-nilai budaya mulai ditanamkan dari generasi tua kepada generasi muda.
Keluarga juga menjalankan fungsi-fungsi pendidikan politik, dimana ke-luarga membantu mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dan kemampuan-kemampuan untuk hidup berkelompok dalam struktur kelompok yang mulai mengenal pembagian kekuasaan secara sederhana. Di dalam keluarga anak mengenal proses pengambilan keputusan, kepatuhan terhadap penguasa dan ketaatan untuk menjalankan aturan-aturan yang berlaku. Karena di dalam keluarga sebagai unit sosial terkecil, terjadi fungsi-fungsi pengambilan keputusan, maka keluarga merupakan sistem politik pada tingkat mikro. Di dalam keluarga, anak pertama kali belajar mengenai pola-pola kekuasaan, bagaimana kekuasaan terbagi, serta jaringan-jaringan hubungan kekuasaan berlangsung. Di sini anak mulai mengenal mengapa ayah/ibu memiliki power yang lebih tinggi dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lebih tua, serta bagaimana pembagian kekuasaan antara laki-laki dan perempuan, antara yang muda dengan yang lebih tua, antara ayah dan ibu, dan antara anak-anak dengan orang tua. Sifat-sifat kepatuhan anak di dalam keluarga akan dibawa dalam kepatuhan di sekolah dan di masyarakat. Demikia juga sifat-sifat suka memberontak, kebiasaan melawan dan tidak disiplin di dalam keluarga, juga akan mempengaruhinya dalam kehidupan di sekolah dan di masyarakat.
Di samping keluarga memiliki fungsi politik, keluarga juga memiliki fungsi ekonomi, yaitu fungsi-fungsi yang berhubungan dengan proses-proses mem-produksi dan mengkonsumsi tentang barang-barang dan jasa. Di dalam siklus hubungan intim di dalam keluarga, anak-anak belajar mengenai sikap-sikap dan ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan untuk memainkan peranan dalam kegiatan produksi dan konsumsi, barang dan jasa. Setiap keluarga mengadopsi pembagian tugas yang merupakan tugas-tugas yang harus dilakukan oleh keluarga. Di dalam keluarga juga ditemukan tentang nilai-nilai kerja, peng-hargaan tentang kerja dan hubungan antara kerja dan imbalan-imbalan yang dianggap layak.
Peranan keluarga bukan saja berupa peranan-peranan yang bersifat intern antara orang tua dan anak, serta anak yang satu dengan anak yang lain. Keluarga juga merupakan medium untuk menghubungkan kehidupan anak dengan kehidupan di masyarakat, dengan kelompok-kelompok sepermainan, lembaga-lembaga sosial seperti lembaga agama, sekolah dan masyarakat yang lebih luas. Setelah anak memiliki pergaulan dan pengalaman-pengalaman yang luas di dalam kehidupan masyarakatnya, sering pengaruh orang-orang dewasa di sekitarnya lebih mempengaruhi dan membentuk perilakunya dibandingkan dengan pengaruh dari keluarga. Dalam situasi semacam itu tidak jarang akan terjadi konflik di dalam diri anak. Pola perilaku manakah yang kemudian diadopsi untuk dijadikan pola anutan. Bagaimana jaringan-jaringan proses sosialisasi anak di dalam keluarga dan masyarakat tersebut dapat disederhanakan melalui gambar berikut :


Mengingat pentingnya peranan keluarga dalam pembentukan sikap budaya anak, maka sekolah perlu menjalin kerjasama yang erat dengan keluarga, sehingga dapat secara bersama-sama dalam satu persepsi, sikap dan tindakan untuk berupaya menyiapkan anak didik untuk siap menghadapi tantangan masa depan melalui proses persekolah.
Pendidikan memiliki fungsi-fungsi secara rinci dapat dilihat pada uraian berikut ini.
1.Memindahkan Nilai-nilai Budaya
Dalam hubungannya dengan nilai-nilai budaya, pendidikan dapat dirumuskan sebagai proses kegiatan yang direncanakan untuk memindahkan pengetahuan, sikap dan nilai-nilai serta kemampuan-kemampuan mental lainnya dari satu generasi yang lebih muda. Kebudayaan pada dasarnya mencakup pandangan-pandangan, sistem keyakinan, cita-cita serta harapan-harapan yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat, nilai-nilai, system perilaku, system symbol dan lain sebagainya. Dalam proses interaksi antara guru dan siswa, siswa akan memperoleh nilai-nilai budaya tersebut, di mana kemudian sebagian besar akan tercermin dalam sikap dan perilakunya sehari-hari.

2.Nilai-nilai Pengajaran
Fungsi mengenai nilai-nilai pengajaran berhubungan dengan kontrol sosial. Sekolah merupakan tempat di mana siswa mengalami proses sosialisasi, dan mempengaruhi anak untuk menyatu (conform) dengan norma-norma yang berlaku. Selama dalam tahun-tahun pertama anak memasuki sekolah, sekolah lebih menekankan pentingnya fungsi kontrol sosial dibandingkan dengan fungsi-fungsi yang lain. Pada tahun-tahun pertama tersebut anak diajarkan mengenai bagaimana harus mengikuti instruksi-instruksi dari gurunya, tunduk dan patuh pada pemerintah dan disiplin yang diberikan oleh gurunya, misalnya harus mengacungkan tangannya lebih dahulu sebelum mengangkat bicara, mengerjakan tugas-tugas sesuai dengan jadwal yang lebih ditetapkan. Sekolah mengajarkan nilai-nilai baru yang dalam banyak hal mungkin sekali terdapat perberbedaan dengan nilai-nilai yang berlaku di dalam keluarga atau dalam masyarakat lingkungan sekitar anak berada. Sistem nilai di dalam keluarga lebih bersifat askripsi dan partikulasi. Orang tua menyayangi dan mencintai anaknya, bukan karena melakukan tugas dan kewajiban, akan tetapi karena hubungan orang tua – anak, “parent love their children because of who they are, not because of what they have done” (Metta Spencer : 365). Sisten nilai ini mungkin saja kurang sesuai dengan system nilai yang dikembangkan oleh sekolah, misalnya dalam keadaan anak terlalu disayangi oleh orang tuanya sehingga terkesan over protectif yang menyebabkan pembentukan kemandirian yang dikehendaki sekolah tidak optimal. Dalam kondisi demikian sekolah perlu melakukan perubahan system nilai dengan pendekatan cultural, sehingga perubahan yang dikehendaki sekolah akan berjalan secara alamiah dan tidak menimbulkan konfrontasi antara sekolah dengan masyarakat.

3.Peningkatan Mobilitas Sosial
Peningkatan mobilitas sosial merupakan hal yang dianggap penting dari fungsi pendidikan. Pendidikan menyediakan kesempatan yang sama bagi anak-anak untuk maju, untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan kerja. Siapa saja yang memiliki prestasi akan mendapat kesempatan untuk memperoleh pekerjaan sesuai dengan bidangnya. Pekerjaan yang layak dan kondisi-kondisi kerja yang lebih baik, terbuka bagi siapa saja yang memiliki dan memenuhi persyaratan tertentu. Jadi walaupun semula seseorang berasal dari golongan masyarakat rendah, mereka akan memperoleh lapangan pekerjaan dengan kondisi-kondisi yang baik asal saja mereka memenuhi persyaratan yang diperlukan oleh lapangan pekerjaan tersebut. Ini berarti bahwa pendidikan dapat meningkatkan mobilitas sosial. Karena itu pendidikan harus melakukan tiga kegiatan utama dalam proses pendidikan yaitu kegiatan pendidikan, bimbingan dan pelatihan. Tanpa meninggalkan hakekat dasar proses pendidikan itu sendiri yaitu proses mendidik yang berkelanjutan.

4.Fungsi Sertifikasi
Lembaga-lembaga pendidikan selalu memberikan sertifikat bagi siswa-siswanya yang telah menyelesaikan tingkat pendidikan tertentu dalam bentuk ijazah, diploma atau surat keterangan tanda kecakapan. Surat keterangan tersebut bernilai bagi pemiliknya karena ia akan memiliki hak-hak tertentu untuk memperoleh pekerjaan sesuai dengan bidang yang dikuasainya sebagaimana diterangkan di dalam sertifikat. Dalam masyarakat industri pekerjaan-pekerjaan hanya bagi pemegang sertifikat/diploma. Pekerjaan yang lebih baik akan direbut oleh mereka yang memiliki sertifikat tertentu, sehingga sertifikat merupakan sesuatu yang sangat berharga. Pemegang sertifikat akan memiliki prestise tertentu. Dalam masyarakat dengan sistem kompetisi dalam menentukan jenjang karier, sertifikat tersebut merupakan ukuran tertentu bagi pencari pekerjaan.
Dalam hubungannya dengan hal tersebut nampak secara jelas fungsi pendidikan sebagai persiapan kerja dan pelatihan kerja sehingga keberhasilan sekolah, sebagian dari fungsinya adalah mempersiapkan anak/pemuda untuk memperoleh pekerjaan. Dalam masyarakat yang masih sederhana, fungsi job training belum begitu terasa merupakan suatu kebutuhan, dan oleh karena itu belum banyak mendapat perhatian. Akan tetapi dalam masyarakat modern, fungsi persiapan kerja melalui latihan kerja (fungsi job training) sudah merupakan sesuatu kebutuhan yang sangat mendesak. Adanya job training dimaksudkan untuk memberikan latihan-latihan sebelumnya, sebelum seseorang mengaku pekerjaannya yang tetap. Dengan demikian berarti bahwa pendidikan berfungsi memberikan bekal pengetahuan, terutama ketrampilan-ketrampilan menjelang pekerjaan yang sebenarnya. Di dalam masyarakat modern jenis-jenis pekerjaan begitu kompleks dan rumit sehingga tamatan pendidikan formal tertentu dikhawatirkan belum dapat langsung menyesuaikan diri dan kemampuannya terhadap peker-jaan yang harus dipangkunya. Dalam kondisi inilah sekolah harus mempersiapkan kemampuan-kemampuan peserta didik untuk dapat menyesuaikan diri dengan pekerjaan yang mungkin dapat dilakukannya di masyarakat masa akan dating. Untuk itu model pembelajaran dalam rangka persiapan ini harus terkait dengan apa yang sebenarnya diperlukan oleh jenis-jenis pekerjaan di masyarakat. Ini berarti kurikulum muatan local yang didesain secara manta akan sangat membantu pembentukan peserta didik yang akarab dengan jenis pekerjaan di masyarakatnya.

5.Mengembangkan dan Memantapkan Hubungan-hubungan Sosial.
Hubungan-hubungan sosial banyak dikembangkan oleh lembaga-lembaga pendidikan. Walaupun anak-anak telah memperoleh pengalaman bergaul dalam lingkungan rumah/keluarga, akan tetapi aspek-aspek hubungan sosial tersebut lebih banyak terbentuk melalui kelompok-kelompok sebaya di sekolah. Di dalam kelompok-kelompok sebaya di sekolah, anak-anak selalu mengadakan interaksi secara kontinyu dalam kehidupannya sehari-hari. Melalui hubungan interpesonal antar anak, dan yang selalu diawasi oleh guru-guru mereka, anak-anak mengadakan hubungan interpesonal sehingga sifat-sifat anak akan berkembang dari sifat-sifat egois menjadi sifat-sifat menghargai pendapat kawan, sifat kerja sama, saling bantu membantu, rasa tepo seliro dan sebagainya. Berbagai bentuk organisasi siswa, seperti osis, kelompok belajar, kelompok-kelompok hobi (olah raga, kesenian), kelompok Palang Merah Pelajar, Kelompok Lalu Lintas, dan kelompok pramuka, semuanya merupakan wadah tempat dimana aspek-aspek sosial anak dapat dikembangkan.
Tumbuh kembangnya proses-proses sosialisasi di sekolah, sangat tergantung pada kesiapan sekolah merancang secara baik pola-pola interaksi yang dapat dikembangkan di lingkungan sekolah melalui kegiatan ekstra kurikuler. Tatapi kegiatan ekstra kurikuler yang dirancang harus tetap memperhatikan pola budaya masyarakat setempat agar tidak menimbulkan benturan budaya.

6.Membentuk Semangat kebangsaan (patriotisme)
Sekolah dalam kehidupannya sehari-hari mentransmisikan mitos, simbol-simbol kebangsaan, dan mengajarkan penghargaan terhadap para pahlawan bangsa serta peninggalan-peninggalan sejarah, semuanya tersebut dimaksudkan untuk mengembangkan semangat serta loyalitas kejayaan bangsa. Sekolah mengajarkan sejarah bangsanya. Memajukan peninggalan dan monumen-monumen sejarah, hal itu dimaksudkan untuk menanamkan rasa kebangsaan serta kesediaan membela tanah airnya terhadap serangan musuh.
Dalam konteks ini, maka kebudayaan di suatu daerah yang melekat bagi siswa harus dikaitkan dengan berbagai kebudayaan daerah lainnya. Artinya meskipun sekolah perlu mengembangkan budaya local, tetapi dalam konteks budaya nasional, sehingga tidak terbentuk anak yang hanya mengakui budaya daerahnya secara membabi buta. Apabila hal ini terjadi maka lambat laun akan merupakan benih-benih yang menyebabkan adanya keresahan atau benturan antar suku, antar etnis atau antar budaya tertentu. Oleh karena itu sikap mau mengakui, menghargai dan menghormati perbedaan perlu ditumbuh kembangkan oleh lembaga pendidikan kepada peserta didik.

Sabtu, 27 Oktober 2012

MY BONIE . .. OH MY BONIE?

My Bonie lies over the osean
My Bonie lies over the sea . . . .
Oh my Bonie,   bring back  oh my bonie to me . . . to me!
BRIN GBACK. . . .BRING BACK . .. . .OH BRINGBACK MY BONIE TO ME.. .TO. . .ME

Oh my dear, go back to standard system, okay. ... . Arigato !

Senin, 15 Oktober 2012

Malaikat Tanpa Sayap(TUGAS SISWA KELAS X)


Malaikat Tanpa Sayap
Di kala bintang bersinar riang, sang bulan menemani setiap insan yang tertidur lelap dengan cahaya remang-remangnya. Angin malam bertiup semilir dan mendinginkan suasana yang telah seharian terik dan begitu panas menyengat.
Seorang wanita memancarkan kelembutan di wajahnya. Senyuman selalu dia sematkan di bibirnya. Dan sorot matanya begitu menyejukkan jiwa. Mulutnya nampak bergerak membuat kata demi kata hingga terbentuk suatu cerita. Wanita itu adalah ibuku. Beliau memberikan nama yang begitu indah untukku. Angel, that’s my name.
Sejak kecil hingga aku dewasa, beliau sering bercerita tentang malaikat. Mungkin, bunda sangat suka dengan makhluk yang satu ini.
Malaikat. Makhluk bersayap dan berjubah putih bersih yang melambangkan kesucian dan kemurnian hatinya. Wajahnya bersinar menambah kemilau hatinya. Dia dapat terbang mengelilingi langit biru atau terbang di dekatmu.
Kata bunda, dia tidak pernah makan karena perutnya sudah penuh dengan kebaikan. Kebaikan adalah makanan yang disukai para malaikat. Bunda bilang malaikat itu membantu Tuhan untuk menjagaku siang dan malam. Jadi, aku tidak perlu takut walaupun aku sendirian.
Wow, aku sering takjub mendengar cerita beliau. Aku membayangkan makhluk yang unik ini. Mungkin dia memiliki mahkota bunga di kepalanya seperti para peri. Atau berkacamata mirip profesor yang superpintar. Bisa jadi, telinganya dihiasi dengan anting emas, kalung permata, gelang perak, dan mutiara. Cantik bak model papan atas. Jubahnya yang putih bersih itu pasti di-laundry atau dry clean sehari tiga kali. Begitulah bayangkan seorang malaikat ketika aku masih kecil.
Bunda tak hanya bercerita tentang malaikat itu. Beliau melanjutkan ceritanya tentang malaikat yang lain. Para dermawan, sahabat, orang yang suka membantu, orang yang tidak memikirkan diri sendiri, orang yang mau berkorban, dan orang baik lainnya. Mereka adalah malaikat yang bisa kita lihat di muka bumi. Mereka akan selalu memberikan kehangatan di tengah dinginnya dunia. Bunda menyebut mereka malaikat tanpa sayap. Pesan bunda yang selalu kuingat adalah, "jadilah malaikat tanpa sayap itu."
Waktu aku remaja, bunda sudah jarang bercerita tentang malaikat. Beliau bekerja pagi hingga malam. Aku pun membantu bunda menjual kue kering ke teman sekolahku. Namun, aku tak sanggup mengangkat semua beban yang dipikul bunda. Ketika dini hari, beliau menanak nasi dan lauk-pauk untuk dijual di terminal. Saat matahari baru melihat dunia, bunda sudah di perumahan mewah untuk membantu majikan mencuci baju dan membersihkan rumah. Di kala matahari sanggup membakar tubuh, bunda telah menaiki bus-bus untuk menjajakan jualannya.
Aku sudah berusaha meyakinkan bunda kalau aku tak perlu sekolah, tapi tak berhasil. Justru beliau yang sanggup meyakinkanku untuk terus sekolah. "Kamu harus sekolah yang tinggi biar jadi anak pintar. Nanti, bunda ingin melihatmu diwisuda. Kalau sudah diwisuda, kamu harus membiayai bundamu ini." Aku tahu itu adalah mimpi bunda yang terbesar.
Aku menyalahkan Tuhan atas semua kesusahan kami. Hatiku menjerit dalam setiap doa-doaku. Sering aku menangis melihat bundaku kelelahan, namun dia selalu memelukku untuk menghiburku. Matanya sering terlihat sayu dan tubuhnya semakin kurus karena sakit-sakitan. Tapi, seulas senyum dia tunjukkan padaku sebagai bukti ketegarannya. Untuk itulah aku pun harus kuat menghadapi semuanya.
Kubuka mata menghadapi hal baru. Dengan yang kupakai, aku nampak bersahaja. Make up di wajahku nampak sedikit tebal. Kebaya melekat di badanku. Aku ingat mimpi bunda agar aku bisa kuliah. Kini semuanya terkabul. Aku telah menyelesaikan kuliah satu semester lebih cepat. Indek prestasiku terbilang memuaskan, yakni 3,5! Bundaku pasti sangat bangga. Karena berkat usahanya aku sanggup melakukan ini.
Seminggu yang lalu, bunda terbaring lemah di sebuah rumah sakit kecil di kotaku. Tubuhnya begitu kurus, tapi perutnya buncit seperti orang hamil. Dokter mengatakan kalau bunda terkena komplikasi. Penyebabnya karena terlalu lelah dan makan yang tidak teratur. Aku begitu sedih mendengarnya. Namun bunda masih terlihat tenang. Bahkan, beliau kembali menceritakan malaikat. Katanya, jika bertemu Tuhan, beliau akan meminta-Nya mengirimkan banyak malaikat untukku,
Siang menjelang, nafas bunda tersengal-sengal. Beliau sedang melawan maut, Selama setengah jam beliau bertahan, setelah itu, bunda menutup mata erat-erat sambil memelukku. Aku banya bisa mengiringi kepergain beliau dengan jerit tangis dan doa.
Aku tahu walau bundaku tak ada di sini melihat anak kesayangannya diwisuda, namun beliau pasti melihatku dengan bangga di surga. Aku percaya, saat ini beliau tengah melihatku dengan sayapnya. Kini beliau menjadi malaikatku. Saat beliau hidup pun, bunda telah menjadi malaikat pelindungku, namun tanpa sayap di badannya.

You are the prettiest woman that I ever have
Your heart is more beautiful than the best diamond in the world
You always here for me and never leave me alone
You give your sweet smile when I am sad
You lend your shoulder for me when I cry
You hold me when I am worry
You guide me when I have a fear
You laugh togehteher with me when I am happy
Yes, you are my mother, the best mother in the world and in my life
You are my angel, an angel without wings
One word that I want to say for my dear mother, "I love you mom"

maksudnya:

Anda adalah wanita tercantik yang pernah saya miliki
Jantung Anda lebih indah dari berlian terbaik di dunia
Anda selalu di sini untuk saya dan tidak pernah meninggalkan aku sendiri
Anda memberikan senyum manis Anda ketika saya sedih
Anda meminjamkan bahu Anda untuk saya ketika saya menangis
Anda memegang saya ketika saya khawatir
Anda membimbing saya ketika saya memiliki rasa takut
Anda tertawa togehteher dengan saya ketika saya senang
Ya, Anda adalah ibu saya, ibu terbaik di dunia dan dalam hidup saya
Engkau adalah malaikat saya, malaikat tanpa sayap
Satu kata yang saya ingin mengatakan untuk ibu tercinta, "I love you mom"
Fitria Yunivita
mahasiswi Akademi Sekretari
Widya Mandala Surabaya
TUGAS:
1. BACALAH CERPEN DI ATAS SECARA INTENSIF, KEMUDIAN JELASKAN NILAI-NILAI RELIGI/PESAN KEAGAMAAN YANG DAPAT KAMU GALI!
2. BERI KOMENTAR SECARA KESELURUHAN TENTANG BAGAIMANA PEMANFAATAN KELAS KATA DAN BENTUKAN KATA YANG DIPILIH OLEH PENULIS? BERILAH CONTOHNYA!
3. JAWABAN DAPAT DITULIS DAN DIKIRIM KE: nuven_ridel@yahoo.co.id